Sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kembali menjadi sorotan utama pasar keuangan global menjelang 2026. Dua saham yang paling banyak dibicarakan, Palantir Technologies (NASDAQ: PLTR) dan Oracle Corp (NYSE: ORCL), kini justru mendapat penilaian yang sangat berbeda dari Wall Street. Analis menilai Palantir sebagai perusahaan AI yang luar biasa tetapi sudah mahal, sementara Oracle diproyeksikan memiliki potensi kenaikan harga saham yang signifikan.
Palantir mencatatkan kinerja saham yang spektakuler dalam beberapa tahun terakhir. Dalam 12 bulan terakhir, saham PLTR telah melonjak lebih dari 147 persen, dan sejak melantai di bursa pada Oktober 2020, kenaikannya mencapai lebih dari 1.900 persen. Perusahaan ini dikenal sebagai penyedia platform AI untuk pengambilan keputusan berbasis data yang banyak digunakan oleh pemerintah dan korporasi global.
Teknologi Palantir memungkinkan integrasi data dari berbagai sumber, kemudian menganalisisnya menggunakan AI untuk mengidentifikasi pola, memberikan rekomendasi tindakan, serta memproyeksikan dampak keputusan bisnis atau kebijakan. Keunggulan lainnya adalah kemudahan penggunaan platform tersebut, bahkan bagi pengguna yang tidak memiliki latar belakang teknis di bidang model bahasa besar atau AI tingkat lanjut.
Meski demikian, valuasi Palantir menjadi batu sandungan utama bagi investor institusional. Saham perusahaan ini diperdagangkan pada sekitar 256 kali estimasi laba ke depan. Berdasarkan data TipRanks, dari 16 analis yang merilis riset dalam tiga bulan terakhir, hanya tiga yang merekomendasikan beli, sementara mayoritas menyarankan menahan saham tersebut. Target harga rata-rata 12 bulan menunjukkan bahwa Palantir dinilai sudah berada di level wajar.
Berbeda dengan Palantir, perjalanan Oracle di sektor AI tergolong penuh gejolak. Pada kuartal pertama tahun fiskal 2026, Oracle mengejutkan pasar dengan melaporkan remaining performance obligations (RPO) sebesar USD 455 miliar, yang sebagian besar berasal dari permintaan data center AI. Laporan tersebut sempat mendorong saham Oracle melonjak hampir 40 persen dalam satu hari perdagangan.
Namun euforia itu tidak bertahan lama. Kekhawatiran investor muncul terkait kebutuhan pendanaan besar untuk pembangunan data center, margin bisnis yang relatif tipis, serta fakta bahwa sekitar USD 300 miliar dari RPO tersebut berasal dari kontrak jangka panjang dengan OpenAI. Kondisi ini diperburuk oleh laporan arus kas bebas negatif dan meningkatnya yield credit default swaps atas utang Oracle, yang menandakan meningkatnya persepsi risiko.
Meski saham Oracle kini hanya naik sekitar 18 persen secara tahunan, Wall Street tetap menunjukkan optimisme. Dalam tiga bulan terakhir, 34 analis memberikan penilaian terhadap saham ORCL, dengan mayoritas merekomendasikan beli. Target harga rata-rata mengindikasikan potensi kenaikan hingga 60 persen dalam 12 bulan ke depan.
Analis Mizuho, Siti Panigrahi, bahkan menempatkan Oracle sebagai pilihan utama untuk sektor enterprise software pada 2026. Ia menilai kapasitas AI global masih terbatas dan Oracle berada dalam posisi strategis untuk menjadi salah satu penerima manfaat terbesar, seraya menekankan komitmen perusahaan untuk mempertahankan peringkat utang investment grade.
Dengan Wall Street bersikap netral terhadap Palantir dan optimistis terhadap Oracle, investor kini dihadapkan pada dilema klasik di pasar saham AI. Di satu sisi terdapat perusahaan dengan teknologi unggulan namun valuasi tinggi, dan di sisi lain ada raksasa teknologi yang tengah dibayangi tantangan finansial tetapi menawarkan potensi kenaikan harga yang lebih besar.






