OpenAI kembali menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat kapabilitas kecerdasan buatan dengan merekrut salah satu peneliti AI papan atas, Ruoming Pang. Ia sebelumnya bekerja di Meta, setelah bergabung dari Apple kurang dari setahun lalu. Perekrutan ini menyoroti semakin ketatnya persaingan antar raksasa teknologi dalam mengamankan talenta terbaik di bidang AI, yang kini menjadi aset strategis dalam pengembangan teknologi masa depan.
Selama berada di Meta, Pang memegang peran penting dalam memimpin pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan di divisi Superintelligence Labs. Unit ini berfokus pada pembangunan model AI generasi berikutnya yang dirancang untuk memiliki kemampuan pemrosesan dan penalaran jauh lebih canggih. Posisi tersebut menempatkan Pang sebagai salah satu figur kunci dalam roadmap AI jangka panjang Meta, khususnya dalam membangun fondasi teknologi untuk sistem superintelligence.
Namun, laporan menyebutkan bahwa OpenAI telah melakukan pendekatan intensif selama beberapa bulan terakhir sebelum akhirnya berhasil memboyong Pang. Ia dilaporkan resmi meninggalkan Meta pada pekan sebelumnya. Proses rekrutmen agresif ini mencerminkan betapa krusialnya peran talenta elite dalam menentukan kecepatan inovasi dan daya saing perusahaan AI.
Sebelum direkrut OpenAI, Pang juga sempat menjadi sorotan ketika bergabung dengan Meta tahun lalu melalui paket kompensasi bernilai lebih dari US$200 juta yang dibayarkan dalam skema multi-tahun. Nilai tersebut menegaskan tingginya valuasi terhadap keahlian teknis di sektor AI, terutama bagi peneliti yang memiliki pengalaman membangun infrastruktur model berskala besar.
Fenomena ini menjadi bagian dari “perang talenta AI” yang tengah memanas di Silicon Valley. Perusahaan teknologi besar seperti OpenAI, Meta, Google, hingga Apple berlomba menawarkan paket remunerasi fantastis demi menarik maupun mempertahankan peneliti terbaik. Persaingan tidak hanya terjadi pada level gaji, tetapi juga mencakup akses komputasi, sumber daya riset, hingga peluang memimpin proyek strategis.
Bagi industri, mobilitas talenta seperti ini berpotensi mempercepat siklus inovasi. Perpindahan peneliti kunci sering kali membawa transfer pengetahuan, pendekatan teknis baru, serta percepatan pengembangan produk AI. Di sisi lain, kondisi ini juga meningkatkan biaya operasional perusahaan karena investasi pada SDM menjadi semakin besar.
Langkah OpenAI merekrut Pang menegaskan bahwa perlombaan menuju dominasi AI masih jauh dari selesai. Dengan teknologi yang terus berkembang dan kebutuhan komputasi yang kian kompleks, perebutan talenta elite diperkirakan akan tetap menjadi faktor penentu dalam membentuk peta kekuatan industri AI global ke depan.





