Saham NVIDIA (NASDAQ: NVDA) kembali menjadi pusat perhatian pasar menjelang rilis laporan keuangan kuartal IV tahun fiskal 2025. Sejumlah analis Wall Street secara terbuka menyuarakan rekomendasi beli dengan keyakinan tinggi (buy with conviction), menilai reli saham ini belum mencapai puncaknya. Bahkan, proyeksi kenaikan harga dinilai masih memiliki ruang signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Sentimen analis menunjukkan bias bullish yang sangat kuat. Dalam 12 bulan terakhir, jumlah analis yang meliput NVIDIA meningkat menjadi 52, dengan sekitar 96% di antaranya memberikan rating Buy. Konsensus target harga memperkirakan potensi kenaikan sekitar 45% dari level saat ini. Namun, sejumlah revisi target harga terbaru mengarah ke sisi atas proyeksi tersebut, dengan skenario optimistis membawa saham ke kisaran $352, sekitar 95% lebih tinggi, dan dalam jangka panjang bahkan disebut berpotensi menembus $520 atau lebih.
Katalis jangka pendek dinilai cukup jelas. Laporan Q4 yang dijadwalkan rilis pada akhir Februari diperkirakan tetap kuat, sejalan dengan dominasi NVIDIA di pasar chip AI dan data center. Selain itu, konferensi tahunan GTC (GPU Technology Conference) yang digelar pertengahan Maret diprediksi menjadi pemicu sentimen positif lanjutan. Acara ini secara historis sering menghadirkan pembaruan teknologi besar, mulai dari inovasi arsitektur chip hingga solusi AI skala besar.
Beberapa analis menyoroti kemungkinan pengumuman terkait co-packaged optics, solusi pemrosesan bahasa berskala rak (rack-scale language processing), serta pembaruan perangkat keras generasi terbaru. Kombinasi inovasi produk dan ekspektasi pertumbuhan AI global menjadikan NVIDIA tetap berada di garis depan revolusi komputasi berbasis kecerdasan buatan.
Dari sisi teknikal, pola pergerakan saham menunjukkan formasi bullish pennant, sebuah pola konsolidasi yang sering menjadi sinyal kelanjutan tren naik dalam pasar bullish jangka panjang. Jika pola ini terkonfirmasi, potensi kenaikan harga dapat setara dengan reli sebelumnya, yang diperkirakan berkisar antara $90 atau sekitar 50% di sisi konservatif hingga mendekati 100% pada skenario agresif.
Valuasi juga menjadi bahan diskusi utama. NVIDIA memang diperdagangkan dengan premium tinggi terhadap laba tahun berjalan, mencerminkan ekspektasi pertumbuhan luar biasa. Namun, proyeksi jangka panjang menunjukkan bahwa saham ini diperdagangkan di bawah 10 kali estimasi laba tahun 2035. Dalam skenario di mana NVIDIA mempertahankan statusnya sebagai perusahaan teknologi blue-chip dengan valuasi premium di atas rata-rata pasar, saham ini berpotensi naik 100% hingga 200% dalam satu dekade ke depan.
Yang menarik, investor institusional tampak tidak ragu menambah kepemilikan. Data menunjukkan institusi menguasai sekitar 65% saham beredar, dengan rasio pembelian terhadap penjualan mencapai $3,50 untuk setiap $1 yang dijual dalam 12 bulan terakhir. Pada awal kuartal pertama 2026, rasio tersebut bahkan meningkat menjadi sekitar $4,50 dibandingkan dengan $1. Arus akumulasi ini menciptakan basis dukungan kuat ketika terjadi koreksi harga dan menjadi bahan bakar tambahan untuk reli berikutnya.
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati risiko. Pertumbuhan yang sangat cepat sering kali memicu volatilitas tinggi, terutama jika ekspektasi pasar terlalu jauh melampaui realisasi kinerja. Namun, hingga saat ini, kombinasi sentimen analis, pola teknikal, katalis fundamental, dan dukungan institusi membentuk narasi yang solid bagi kelanjutan tren bullish.
Pertanyaan besarnya kini bukan lagi apakah NVIDIA masih relevan dalam ekosistem AI global. Pertanyaannya adalah: apakah pasar sudah sepenuhnya menghargai potensi jangka panjangnya? Jika belum, maka fase konsolidasi saat ini bisa jadi bukan akhir reli melainkan jeda sebelum lonjakan berikutnya.
Dalam dinamika pasar saham berbasis AI yang kian kompetitif, NVIDIA tetap menjadi simbol dominasi komputasi akselerator. Dan menjelang laporan Q4, Wall Street tampaknya sepakat pada satu hal: reli ini mungkin baru setengah jalan.






