Meta Platforms, Inc. kembali menjadi pusat perhatian pasar setelah memenangkan gugatan penting terhadap Federal Trade Commission (FTC) terkait dugaan monopoli di sektor jejaring sosial.
Putusan pengadilan federal AS yang menguntungkan Meta ini mempersempit ruang gerak regulator dalam menekan raksasa teknologi, sekaligus meningkatkan optimisme investor terhadap stabilitas jangka panjang perusahaan.
Dalam gugatan tersebut, FTC menuduh Meta menggunakan kekuatan finansial untuk melumpuhkan pesaing termasuk akuisisi Instagram dan WhatsApp yang dianggap menekan kompetisi pasar.
Regulator bahkan sempat mendorong opsi ekstrem berupa pemisahan kedua platform tersebut dari Meta.
Namun pengadilan memutuskan bahwa argumen FTC tidak cukup kuat. Kemenangan ini mengirim sinyal positif bagi perusahaan teknologi besar lain seperti Amazon yang tengah menghadapi kasus serupa.
Seorang juru bicara Meta menyebut bahwa seluruh produk perusahaan “bermanfaat bagi masyarakat dan pelaku usaha” serta menjadi simbol inovasi digital Amerika Serikat.
Sorotan Baru dari Analis: Harga Dinamis, Narasi Berubah
Meski gugatan antitrust mereda, Meta tetap dalam radar ketat analis Wall Street. Pada 19 November, Cantor Fitzgerald memangkas target harga saham Meta dari $830 menjadi $720, namun tetap mempertahankan rating ‘Overweight’ tanda bahwa para analis masih melihat ruang pertumbuhan signifikan.
Sebelumnya, pada 10 November, analis Freedom Capital Saken Ismailov justru meningkatkan rating saham Meta menjadi ‘Buy’ dengan target $800. Kombinasi penilaian ini memperlihatkan dinamika persepsi pasar terhadap Meta: kuat secara fundamental tetapi tetap berhadapan dengan volatilitas regulasi dan persaingan.
Meta: Antara Ambisi AI dan Bayang-Bayang Regulasi
Sebagai perusahaan teknologi berbasis di California, Meta mengoperasikan dua pilar besar:
- Family of Apps (Instagram, Facebook, Messenger, WhatsApp)
- Reality Labs, yang menggarap AR/VR dan ambisi metaverse
Meskipun belanja besar di divisi Reality Labs terus mempertanyakan arah profitabilitas jangka pendek, pasar tetap menilai Meta sebagai salah satu pemain kunci dalam ekosistem AI konsumen.
Integrasi AI di Instagram, Facebook, dan WhatsApp telah mendorong pertumbuhan engagement, sementara fokus perusahaan pada efisiensi membuat margin makin sehat.
Namun laporan terbaru juga menyebut bahwa beberapa analis percaya ada saham AI lain yang memiliki potensi upside lebih besar dan risiko lebih kecil dibanding Meta terutama perusahaan yang diuntungkan oleh tren onshoring dan kebijakan tarif era Trump.
Kemenangan Regulasi Ini Bisa Menjadi Titik Balik
Dengan gugatan FTC yang kini berakhir sebagai kemenangan, Meta mendapatkan ruang bernapas di tengah tekanan antitrust yang selama ini membebani sentimen investor.
Kombinasi kekuatan fundamental, momentum AI, dan hilangnya ancaman restrukturisasi paksa memberi alasan baru bagi Wall Street untuk kembali menimbang posisi Meta dalam portofolio.
Namun perjalanan belum selesai. Di balik kemenangan hukum ini, Meta masih harus menghadapi persaingan AI yang kian intens, tuntutan inovasi cepat, dan pengawasan regulator yang tidak akan surut dalam waktu dekat.






