Harga tembaga global kembali mencatatkan tonggak bersejarah setelah berhasil menembus level US$13.000 per ton untuk pertama kalinya. Lonjakan ini menandai kelanjutan reli kuat yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, didorong oleh meningkatnya arus pengiriman tembaga ke Amerika Serikat serta sentimen bullish di kalangan investor komoditas.
Di London Metal Exchange (LME), harga tembaga sempat menyentuh rekor baru di kisaran US$13.187 per ton, melanjutkan penguatan signifikan yang telah berlangsung sejak pertengahan November. Secara keseluruhan, harga tembaga telah melonjak lebih dari 20% dalam periode tersebut, mencerminkan ketatnya kondisi pasar dan meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global.
Salah satu faktor utama di balik kenaikan harga ini adalah kembali aktifnya pengiriman tembaga ke Amerika Serikat. Ketidakpastian kebijakan tarif impor AS, yang kembali mencuat, membuat harga tembaga di pasar domestik AS diperdagangkan dengan premi dibandingkan harga di bursa global. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar untuk mengalihkan pasokan ke AS, sekaligus menimbulkan kekhawatiran akan potensi kelangkaan tembaga di wilayah lain.
Tembaga juga semakin menarik perhatian investor karena perannya yang krusial dalam berbagai sektor strategis, mulai dari pembangunan pusat data hingga produksi baterai kendaraan listrik. Di tengah percepatan transisi energi global, permintaan terhadap tembaga terus meningkat, sementara kapasitas produksi dinilai belum mampu mengimbangi lonjakan kebutuhan tersebut.
Selain faktor permintaan, gangguan pasokan turut memperkuat reli harga. Aksi mogok kerja di salah satu tambang tembaga di Chile memicu aktivitas spekulatif di pasar. Di sisi lain, sejumlah insiden operasional di tambang-tambang besar dunia, termasuk kecelakaan fatal di Indonesia dan banjir tambang di Afrika, turut mempersempit ruang pasokan global.
Kenaikan harga tembaga juga terjadi seiring reli luas di pasar logam. Dalam beberapa pekan terakhir, arus dana investor mendorong harga emas, perak, dan platinum ke rekor tertinggi, sementara aluminium dan timah mencatat level tertinggi dalam beberapa tahun. Tren ini menunjukkan meningkatnya minat terhadap aset lindung nilai dan komoditas strategis di tengah ketidakpastian global.
Meski demikian, sejumlah analis menilai lonjakan harga tembaga saat ini masih sangat dipengaruhi oleh faktor kebijakan perdagangan AS. Amerika Serikat saat ini menguasai porsi besar persediaan tembaga dunia, meski kontribusinya terhadap permintaan global relatif kecil. Ketimpangan ini meningkatkan risiko tekanan pasokan di negara lain.
Ke depan, pergerakan harga tembaga diperkirakan tetap volatil. Selama ketidakpastian tarif impor, rendahnya persediaan global, dan tingginya kebutuhan untuk transisi energi masih berlanjut, tembaga berpotensi tetap menjadi salah satu komoditas paling diperhatikan oleh pelaku pasar sepanjang 2026.






