Harga emas global mengalami koreksi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menarik kembali rencana penerapan tarif terhadap negara-negara Eropa. Trump juga menyampaikan bahwa telah tercapai sebuah kerangka awal kesepakatan terkait isu Greenland, langkah yang meredakan ketegangan geopolitik yang sebelumnya sempat membebani pasar keuangan.
Emas batangan tercatat turun hingga 1,2%, menghentikan reli tiga hari berturut-turut yang sebelumnya membawa harga emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$4.888 per troy ounce. Pernyataan Trump mengenai kesepakatan Greenland disampaikan melalui media sosial setelah pertemuannya dengan Sekretaris Jenderal North Atlantic Treaty Organization, Mark Rutte. Meski begitu, detail mengenai isi kesepakatan tersebut belum dijelaskan secara rinci.
Sebelumnya, sikap keras Trump terkait Greenland telah memicu ketegangan diplomatik dengan negara-negara Eropa dan menimbulkan kekhawatiran di pasar global. Kondisi tersebut mendorong investor beralih ke aset aman seperti emas. Walau kini terkoreksi, harga emas masih mencatatkan kenaikan lebih dari 4% sepanjang pekan ini, menunjukkan bahwa sentimen lindung nilai masih cukup kuat di tengah ketidakpastian global yang berlanjut.
Analis menilai ketidakstabilan geopolitik saat ini mencerminkan semakin seringnya komoditas, energi, dan rantai pasok digunakan sebagai alat tekanan dalam dinamika politik global. Fenomena ini secara struktural dinilai mendukung harga emas dalam jangka menengah hingga panjang, terutama ketika ketegangan antarnegara kembali meningkat.
Tekanan geopolitik juga diperparah oleh meningkatnya ketidakpastian kebijakan di Amerika Serikat. Pemerintahan Trump kembali melontarkan kritik terhadap Federal Reserve, yang memicu kekhawatiran terhadap independensi bank sentral AS. Situasi ini melemahkan kepercayaan terhadap dolar AS dan secara tidak langsung memperkuat daya tarik logam mulia sebagai penyimpan nilai.
Optimisme terhadap emas turut tercermin dari langkah Goldman Sachs Group Inc. yang menaikkan proyeksi harga emas akhir tahun menjadi US$5.400 per troy ounce. Kenaikan proyeksi ini didorong oleh meningkatnya permintaan dari investor swasta dan bank sentral global, seiring upaya diversifikasi portofolio di tengah ketidakpastian kebijakan global.
Sementara itu, pasar logam mulia lainnya juga menunjukkan dinamika menarik. Harga perak kembali menguat ke atas US$93 per troy ounce setelah sempat tertekan di awal perdagangan. Dalam setahun terakhir, harga perak melonjak tajam didorong oleh tingginya minat investor ritel dan terbatasnya pasokan. Kondisi ini menunjukkan bahwa volatilitas dan peluang di pasar komoditas masih akan terus berlanjut dalam waktu dekat.






