Saham Fortinet, Inc. (NASDAQ: FTNT) kembali menjadi sorotan pelaku pasar setelah analis UBS menaikkan target harga sahamnya menjadi $90 dari sebelumnya $80 dengan mempertahankan rating Neutral. Kenaikan ini datang setelah laporan kinerja kuartal keempat yang dinilai solid, terutama dari sisi pertumbuhan produk dan perbaikan tingkat pembaruan kontrak. Di tengah lanskap keamanan siber yang semakin kompleks akibat adopsi kecerdasan buatan, Fortinet dinilai berhasil menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan disiplin margin.
Dalam proyeksi jangka menengah, perusahaan menargetkan pertumbuhan produk sebesar 10–15% serta pertumbuhan billings di kisaran 11–14% hingga 2026. Margin operasional diperkirakan berada di rentang 33–36%, sementara margin arus kas bebas diproyeksikan berada di level pertengahan hingga akhir 30%. Angka-angka tersebut memperlihatkan model bisnis yang tetap kuat, bahkan ketika banyak perusahaan teknologi menghadapi tekanan biaya dan kompetisi yang semakin agresif.
Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat sejumlah catatan kehati-hatian. Pertumbuhan pendapatan layanan yang berada di sekitar 11% secara tahunan memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan perusahaan mempertahankan laju pertumbuhan di atas 12% ketika memasuki akhir 2026 dan 2027, saat basis perbandingan semakin tinggi. UBS menilai valuasi saham Fortinet di kisaran 22 kali EV/FCF tergolong wajar, mencerminkan pertumbuhan yang moderat namun stabil dengan margin yang konsisten.
Pandangan serupa juga datang dari Scotiabank yang pada 2 Februari menurunkan peringkat saham Fortinet menjadi Sector Perform dari Outperform, meskipun tetap mempertahankan target harga di $85. Meski terjadi penurunan rating, lembaga riset tersebut tetap menyebut Fortinet sebagai perusahaan legendaris dengan penawaran secure networking yang sangat kompetitif. Penilaian ini menegaskan bahwa kualitas fundamental perusahaan tidak diragukan, namun ruang apresiasi harga saham dinilai lebih terbatas dalam jangka pendek.
Di sisi inovasi, Fortinet terus memperkuat posisinya melalui pembaruan besar pada platform FortiSIEM versi 7.5 yang diumumkan pada 23 Januari. Pembaruan tersebut menghadirkan peningkatan deteksi ancaman, respons insiden berbasis agentic AI, serta opsi kedaulatan data yang lebih luas. Versi terbaru ini dirancang untuk menghadapi serangan siber yang semakin memanfaatkan teknologi AI, sekaligus meningkatkan analitik keamanan IT dan OT. Langkah ini menunjukkan bahwa Fortinet tidak hanya mempertahankan pangsa pasar, tetapi juga berupaya mengantisipasi evolusi ancaman digital yang semakin canggih.
Sebagai salah satu pemimpin global di industri keamanan siber, Fortinet mengoperasikan platform jaringan dan keamanan terintegrasi berbasis FortiOS, dengan lebih dari 700.000 organisasi di seluruh dunia menggunakan firewall FortiGate mereka. Skala distribusi global ini menjadi keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap solusi keamanan terpadu.
Tren geopolitik dan kebijakan industri juga berpotensi menjadi faktor pendukung jangka panjang. Dorongan onshoring dan kebijakan perdagangan yang lebih proteksionis mendorong perusahaan untuk memperkuat infrastruktur domestik, termasuk sistem keamanan jaringan. Dalam konteks tersebut, keamanan siber bukan lagi sekadar biaya operasional, melainkan investasi strategis untuk menjaga keberlangsungan bisnis.
Meski demikian, sejumlah analis berpendapat bahwa di tengah euforia saham berbasis AI, terdapat emiten lain yang mungkin menawarkan potensi kenaikan lebih agresif dengan risiko yang lebih terukur. Fortinet, dalam pandangan ini, tampil sebagai saham dengan karakter defensif, memadukan pertumbuhan dua digit, margin kuat, dan arus kas stabil, namun bukan pilihan paling spekulatif di sektor AI.
Dengan valuasi yang dianggap wajar dan fundamental yang tetap solid, saham FTNT kini berada pada persimpangan antara stabilitas dan ekspektasi pertumbuhan yang lebih tinggi. Bagi investor, keputusan untuk masuk atau menambah posisi di saham ini akan sangat bergantung pada profil risiko dan horizon investasi masing-masing. Di tengah persaingan ketat industri keamanan siber dan percepatan adopsi AI, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah Fortinet mampu bertahan, melainkan seberapa cepat perusahaan ini dapat mengubah inovasi menjadi akselerasi pertumbuhan yang lebih signifikan dalam beberapa tahun ke depan.






