Perusahaan teknologi raksasa Oracle (ORCL) dikabarkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan karyawan. Langkah ini menambah daftar panjang perusahaan teknologi global yang mengurangi tenaga kerja di tengah investasi besar-besaran pada pengembangan kecerdasan buatan (AI), khususnya pembangunan data center.
Fenomena ini bukan hanya terjadi pada Oracle. Microsoft tercatat memangkas sekitar 15.000 karyawan dalam setahun terakhir, sementara Amazon mengurangi 16.000 pekerja pada awal tahun. Atlassian juga memangkas sekitar 10% tenaga kerjanya sebagai bagian dari transformasi ke arah AI. Bahkan Block melakukan pemangkasan hingga 40% staf, dengan alasan bahwa AI dapat menggantikan sebagian besar pekerjaan coding dasar. Meta pun turut melakukan efisiensi dengan mengurangi ratusan karyawan, sambil tetap meningkatkan insentif bagi eksekutif kunci dalam pengembangan AI.
Oracle sendiri tengah bertransformasi menjadi pemain besar di industri AI. Untuk mencapai ambisi tersebut, perusahaan mengalokasikan investasi besar pada pembangunan infrastruktur data center. Namun, strategi ini juga membuat Oracle harus menanggung beban utang yang signifikan. Demi menjaga stabilitas keuangan, perusahaan terpaksa melakukan efisiensi, termasuk melalui PHK.
Menariknya, alasan PHK ini sering kali dikaitkan dengan AI, meskipun kenyataannya tidak sepenuhnya demikian. Banyak perusahaan teknologi sebelumnya melakukan perekrutan besar-besaran selama pandemi. Kini, dengan kondisi ekonomi yang berubah—ditandai oleh kenaikan suku bunga dan inflasi—perusahaan mulai melakukan penyesuaian biaya operasional.
Jumlah pasti karyawan Oracle yang terdampak belum diketahui secara resmi, namun diperkirakan mencapai ribuan orang. Beberapa analis bahkan memperkirakan angka tersebut bisa mencapai puluhan ribu dalam jangka waktu tertentu, sebagai bagian dari strategi efisiensi perusahaan.
Di sisi lain, ambisi Oracle dalam membangun data center untuk mendukung layanan AI membutuhkan dana yang sangat besar. Perusahaan bahkan berencana menggalang hingga US$50 miliar melalui kombinasi utang dan ekuitas. Langkah ini sempat disambut positif oleh investor, yang mendorong kenaikan harga saham Oracle dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, seiring meningkatnya beban utang dan biaya pembangunan, sentimen pasar mulai berubah. Harga saham Oracle mengalami penurunan signifikan dari puncaknya, dan kekhawatiran terhadap risiko finansial perusahaan pun meningkat. Beberapa lembaga keuangan bahkan mulai mengurangi dukungan pembiayaan terhadap proyek data center yang terkait dengan Oracle.
Kesimpulannya, gelombang PHK di sektor teknologi saat ini belum sepenuhnya disebabkan oleh AI yang menggantikan pekerjaan manusia. Justru, faktor utama berasal dari keputusan bisnis, tekanan ekonomi, serta strategi investasi besar pada teknologi yang potensinya masih berkembang. Hingga saat ini, dampak langsung AI terhadap pengurangan tenaga kerja secara besar-besaran masih belum terlihat secara signifikan.






