Harga Ethereum (ETH) mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir setelah sempat mencatat reli singkat. Aset kripto terbesar kedua di dunia tersebut turun sekitar 6% ke kisaran US$2.083 setelah sebelumnya menyentuh level US$2.200 pada Rabu. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang memasuki hari keenam.
Situasi geopolitik tersebut turut memicu gangguan pada produksi energi global. Ketegangan di kawasan Timur Tengah mengganggu distribusi minyak dan gas alam, yang mendorong harga minyak mentah WTI melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2024. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global dan membuat banyak pelaku pasar memilih untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh perkembangan hukum di Amerika Serikat. Seorang hakim federal memutuskan bahwa pemerintah AS harus mulai membayar lebih dari US$130 miliar dalam bentuk pengembalian tarif kepada perusahaan domestik. Putusan tersebut muncul setelah sebelumnya Mahkamah Agung menyatakan bahwa tarif yang diberlakukan melalui kebijakan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) dinilai digunakan secara tidak sah.
Di tengah berbagai tekanan makro tersebut, harga Ether masih bergerak dalam kondisi yang relatif rapuh. Meskipun ETH sempat mencatat pemulihan sekitar 22% dari level US$1.800 pada 24 Februari, momentum kenaikan masih belum cukup kuat untuk mendorong tren bullish yang berkelanjutan. Data dari pasar derivatif dan aktivitas on-chain menunjukkan bahwa minat dari investor bullish masih tergolong terbatas.
Premi tahunan kontrak berjangka ETH untuk periode 30 hari saat ini berada di bawah ambang netral 5%, yang menandakan permintaan terhadap posisi leverage bullish masih rendah. Namun, indikator tersebut juga dipengaruhi oleh fakta bahwa harga ETH saat ini masih diperdagangkan sekitar 58% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa pada Agustus 2025 di US$4.956.
Selain itu, indikator options skew (put-call) juga menunjukkan sikap hati-hati dari pelaku pasar profesional. Ketika investor besar mencari perlindungan dari potensi penurunan harga, indikator ini biasanya naik di atas level netral 6%. Saat ini, skew opsi ETH berada di sekitar 7%, yang mencerminkan meningkatnya kebutuhan lindung nilai di kalangan trader.
Dari sisi fundamental jaringan, aktivitas pada Ethereum Network juga terlihat melambat setelah reli moderat yang terjadi pada awal Februari. Volume transaksi pada decentralized exchange (DEX) di jaringan Ethereum turun menjadi sekitar US$12,6 miliar per minggu, dari sebelumnya US$20,2 miliar sebulan lalu. Pendapatan dari aplikasi terdesentralisasi (DApp) juga mengalami penurunan signifikan, hanya mencapai sekitar US$14,1 juta dalam tujuh hari, atau turun sekitar 47% dibandingkan bulan sebelumnya.
Meski demikian, Ethereum masih mempertahankan posisi dominan dalam ekosistem keuangan terdesentralisasi. Jika memperhitungkan berbagai solusi layer-2, ekosistem Ethereum saat ini menguasai hampir 65% dari total value locked (TVL) di industri blockchain. Lapisan dasar Ethereum sendiri memiliki sekitar US$55,4 miliar TVL, jauh melampaui pesaing terdekatnya, Solana, yang memiliki sekitar US$6,8 miliar.
Dominasi ini menunjukkan bahwa banyak investor institusional masih memprioritaskan faktor keamanan dan desentralisasi dibandingkan biaya transaksi yang lebih rendah atau kecepatan jaringan yang ditawarkan oleh blockchain lain.
Meskipun indikator pasar saat ini menunjukkan pelemahan, kondisi tersebut belum tentu menandakan penurunan harga yang lebih dalam dalam waktu dekat. Jika Ether mampu kembali menembus level US$2.400, sentimen pasar berpotensi berubah menjadi lebih positif dan membuka peluang bagi terbentuknya momentum kenaikan yang lebih kuat. Namun untuk saat ini, pergerakan harga ETH masih sangat dipengaruhi oleh sentimen risk-off di pasar global.






