Bitcoin Melemah di Tengah Tekanan Global, Aktivitas Mining Iran Terdampak
Pasar kripto sepanjang Maret menunjukkan dinamika yang cukup menantang, terutama bagi Bitcoin yang kehilangan momentum akibat kombinasi faktor makroekonomi dan geopolitik. Salah satu sorotan utama adalah penurunan hashrate Bitcoin hampir 6% setelah operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di Iran, yang menegaskan peran besar negara tersebut dalam aktivitas mining global.
Iran diketahui menyumbang sekitar 6–8% dari total hashrate Bitcoin dunia, dengan sebagian besar aktivitas mining dijalankan oleh pihak militer. Gangguan terhadap infrastruktur energi serta pergeseran fokus ke sektor pertahanan membuat kapasitas mining negara tersebut menurun, yang pada akhirnya berdampak pada jaringan Bitcoin secara keseluruhan.
Di sisi lain, harga Bitcoin masih bergerak stagnan di kisaran US$67.000. Salah satu faktor utama yang menekan harga adalah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, yang mencapai sekitar 4%. Kondisi ini mendorong investor untuk beralih ke aset yang dianggap lebih aman, sehingga minat terhadap aset berisiko seperti kripto ikut menurun.
Sentimen risk-off ini juga dipicu oleh kekhawatiran konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Banyak pelaku pasar mulai meningkatkan posisi kas mereka sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian global. Hal ini turut menghambat potensi kenaikan harga Bitcoin dalam jangka pendek.
Sementara itu, pasar prediction market justru mengalami lonjakan aktivitas yang signifikan. Jumlah transaksi mencapai lebih dari 192 juta pada bulan Maret, meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, sektor ini masih menghadapi tantangan regulasi, terutama di Amerika Serikat, di mana beberapa negara bagian mulai mengambil tindakan hukum terhadap platform terkait.
Dalam perkembangan lain, stablecoin berbasis euro semakin menunjukkan pertumbuhan pesat. Saat ini, sekitar 85% volume stablecoin non-dolar didominasi oleh aset berbasis euro. Peningkatan ini didorong oleh kepercayaan institusional yang semakin tinggi, terutama setelah adanya regulasi MiCA di Eropa yang memberikan kejelasan hukum bagi aset kripto.
Di sektor perusahaan, Robinhood mengalami tekanan signifikan dengan penurunan harga saham lebih dari 16% dalam satu bulan. Penurunan aktivitas trading kripto menjadi salah satu faktor utama, dengan pendapatan dari transaksi kripto yang turun tajam secara tahunan. Sebagai respons, perusahaan meluncurkan program buyback saham senilai US$1,5 miliar.
Secara keseluruhan, kondisi pasar saat ini mencerminkan bahwa Bitcoin dan industri kripto masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, mulai dari kebijakan moneter hingga dinamika geopolitik global.






