Bitcoin kembali melesat di atas $90.000 pada Rabu, menandai upaya pemulihan setelah anjlok ke level terendah empat bulan pekan lalu. Namun, sejumlah ekonom dan analis mengingatkan bahwa lonjakan ini belum cukup menjadi tanda kebangkitan kuat bagi pasar kripto.
Kenaikan ini terjadi di tengah menguatnya S&P 500 dan Nasdaq Composite, yang berhasil mencatatkan empat hari penguatan seiring meningkatnya ekspektasi investor bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunga pada Desember.
Namun menurut Torsten Slok, Chief Economist Apollo Management, hubungan Bitcoin dengan saham teknologi sedang mengalami “keretakan serius”. Biasanya keduanya bergerak searah, tetapi dalam beberapa pekan terakhir Bitcoin mencatat penurunan jauh lebih tajam dibanding Nasdaq sebuah sinyal bahwa pasar kripto memiliki tekanan internal yang berbeda.
Rebound Bitcoin Dianggap Rapuh, Jauh dari Pola V-Shape
Meski menanjak dari level $81.000 pekan lalu, Bitcoin masih 28% di bawah rekor tertinggi $126.000 yang dicapai Oktober lalu. Laporan dari 10X Research menyebut penguatan kuartal keempat biasanya menjadi momentum Bitcoin, tetapi sejarah menunjukkan hal itu “jarang terjadi tanpa katalis yang kuat”.
Sementara ekspektasi pemotongan suku bunga Desember meningkat, 10X Research menekankan bahwa komunikasi Ketua The Fed Jerome Powell justru lebih berdampak pada arah harga Bitcoin ketimbang aksi pemotongan itu sendiri.
“Bitcoin sangat bergantung pada arah komunikasi The Fed. Jika The Fed tidak memotong suku bunga, risiko koreksi tajam pasar semakin besar,” tulis 10X Research.
Likuiditas Meningkat Belum Tentu Mendorong Bitcoin
Sejumlah investor sebelumnya berharap belanja dari Treasury General Account (TGA) dapat meningkatkan likuiditas pasar. Namun riset terbaru membantah pandangan tersebut.
Ketika TGA merilis dana sekitar $522 miliar sebelumnya, Bitcoin justru jatuh 15% sebelum akhirnya pulih dua bulan kemudian. Dengan TGA yang masih berada di level tinggi saat ini, analis melihat potensi lag waktu hingga Januari 2026 sebelum efek likuiditas benar-benar berdampak.
Artinya, pasar kripto dapat memasuki fase konsolidasi panjang, bukan rally jangka pendek.
Bitcoin Berisiko Turun Lagi ke $82.000–$80.000
Analis dari Compass Point, Ed Engel, menolak menyebut bahwa pasar telah menyentuh dasar. Ia menyebut karakteristik bear market adalah relief rally yang cepat lalu diikuti aksi jual agresif.
Menurut Engel, Bitcoin berpotensi menghadapi resistensi kuat di kisaran $92.000–$95.000, dan masih ada kemungkinan harga kembali menguji area $82.000, bahkan turun di bawah $80.000.
Namun, ia menambahkan bahwa zona $65.000–$70.000 tetap menjadi “support kokoh” jika terjadi koreksi yang lebih dalam.
Apa yang Membuat Bitcoin Rawan Volatilitas Saat Ini?
- Ketidakpastian Kebijakan The Fed
Pasar kripto sangat sensitif terhadap sinyal arah suku bunga. Ketidakpastian ini menciptakan volatilitas tambahan di BTC.
- Melemahnya Korelasi Bitcoin–Teknologi
Biasanya kenaikan saham teknologi mendorong Bitcoin, namun saat ini korelasinya melemah tanda investor mengalihkan risiko dari pasar kripto.
- Aktivitas HODLer Menurun
Belum terlihat akumulasi kuat dari pemegang jangka panjang, menandakan pasar belum sepenuhnya percaya pada tren bullish.
- Masuknya Siklus Post-Halving
Historisnya, Bitcoin sering melewati fase stagnasi 6–12 bulan setelah halving sebelum memasuki bullish utama.
Akhir 2025 – Awal 2026
Jika pola historis dan kondisi likuiditas AS berulang, Bitcoin berpotensi:
Konsolidasi hingga awal 2026, menguji support $70.000 atau lebih rendah, kemudian membentuk struktur bullish yang lebih stabil setelah pasar mengetahui arah kebijakan moneter Fed dan arah belanja TGA.
Namun potensi breakout baru dapat muncul jika:
Suku bunga mulai dipangkas secara konsisten, likuiditas meningkat tanpa jeda, atau akumulasi HODLer tumbuh signifikan.






