Pergerakan harga Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan pelemahan setelah sempat mencoba bangkit mendekati level psikologis US$70.000. Pada pembukaan sesi perdagangan Wall Street, tekanan jual mulai meningkat dan membuat reli jangka pendek kehilangan momentumnya. Kondisi ini memunculkan kembali pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar: apakah fase bearish benar-benar sudah berakhir, atau justru masih akan berlanjut?
Sehari sebelumnya, BTC/USD sempat menyentuh area US$70.000, tepatnya di sekitar US$70.040. Kenaikan tersebut terjadi ketika pembeli berupaya menembus dua level teknikal penting, yaitu exponential moving average (EMA) 200-minggu serta level all-time high siklus 2021 yang kini berubah fungsi menjadi resistance. Namun, upaya tersebut tidak bertahan lama. Harga gagal mempertahankan posisinya di atas level tersebut dan kembali terkoreksi ke kisaran US$67.000, dengan penurunan harian melampaui 1%.
Sejumlah analis menilai bahwa EMA 200-minggu saat ini masih menjadi hambatan kuat. Secara historis, selama harga Bitcoin bergerak di bawah indikator tersebut, probabilitas kelanjutan tren turun cenderung lebih besar dibandingkan potensi pembalikan arah. Artinya, meski terjadi reli jangka pendek, struktur tren makro belum menunjukkan perubahan signifikan.
Selain itu, data likuiditas pasar menunjukkan bahwa kenaikan sebelumnya kemungkinan dipicu oleh penyapuan likuiditas di bawah area US$69.000. Setelah likuiditas tersebut terserap, tenaga beli mulai melemah dan harga kembali kehilangan dorongan. Hal ini memperlihatkan bahwa reli belum didukung oleh perubahan sentimen yang solid dalam jangka panjang.
Beberapa trader juga mengingatkan agar investor tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa pasar telah memasuki fase bullish baru. Dalam siklus-siklus sebelumnya, fase bear market Bitcoin kerap berlangsung cukup lama. Secara historis, durasi terpendek bear market Bitcoin mencapai sekitar satu tahun. Sementara itu, fase bearish saat ini baru berjalan sekitar 140 hari, yang berarti secara statistik masih relatif dini untuk menyatakan tren turun telah berakhir.
Sebagai tambahan, pada titik terendah Februari lalu, Bitcoin mencatat penurunan sekitar 53% dari rekor tertinggi Oktober 2025 di US$126.200. Jika dibandingkan dengan siklus sebelumnya yang kerap mengalami koreksi hingga mendekati 80%, penurunan saat ini dinilai belum mencerminkan pola klasik bear market sepenuhnya.
Dengan kondisi timeframe mingguan dan bulanan yang belum menunjukkan sinyal pembalikan kuat, pendekatan yang lebih bijak bagi investor adalah tetap disiplin dan berhati-hati. Volatilitas jangka pendek memang dapat menghadirkan peluang, namun konfirmasi perubahan tren makro tetap menjadi faktor utama sebelum mengambil keputusan investasi yang lebih agresif.





