Harga Bitcoin (BTC) kembali berada dalam tekanan setelah gagal mempertahankan momentum kenaikan di area US$71.000 pada akhir pekan lalu. Penolakan di level tersebut memicu fase koreksi yang membawa harga bergerak menurun, meskipun sepanjang minggu Bitcoin masih mampu bertahan di atas support penting US$66.000. Pergerakan ini menimbulkan perubahan sentimen di kalangan pelaku pasar derivatif, khususnya di segmen opsi, yang mulai menunjukkan peningkatan kewaspadaan terhadap potensi penurunan lanjutan.
Indikator opsi menjadi salah satu sinyal utama yang mencerminkan perubahan psikologi pasar. Data terbaru menunjukkan bahwa opsi jual (put) Bitcoin diperdagangkan dengan premi sekitar 13% dibandingkan opsi beli (call). Dalam kondisi pasar yang seimbang, selisih ini umumnya berada di kisaran -6% hingga +6%. Premi put yang jauh lebih tinggi menandakan bahwa trader profesional lebih agresif dalam melakukan lindung nilai terhadap risiko penurunan harga. Bahkan, kondisi ini telah bertahan selama beberapa pekan terakhir, mengindikasikan sikap defensif yang cukup konsisten.
Kecenderungan bearish juga tercermin dari strategi yang paling aktif diperdagangkan di bursa derivatif. Beberapa di antaranya meliputi bear diagonal spread, short straddle, dan short risk reversal. Strategi-strategi ini pada dasarnya dirancang untuk mengoptimalkan profit dalam skenario harga melemah atau bergerak terbatas. Hal tersebut memperkuat gambaran bahwa pelaku pasar institusional belum melihat katalis kuat untuk mendorong reli baru dalam jangka pendek.
Di sisi lain, indikator permintaan stablecoin—khususnya di pasar China—turut memberikan gambaran mengenai selera risiko investor. Dalam kondisi normal, stablecoin biasanya diperdagangkan pada premi tipis terhadap dolar AS karena faktor biaya konversi dan hambatan regulasi. Namun saat ini, stablecoin justru berada pada posisi diskon sekitar 0,2%. Meski tidak ekstrem, kondisi ini menandakan adanya arus keluar dana dari pasar kripto, walaupun situasinya sudah membaik dibandingkan awal pekan.
Faktor lain yang menekan sentimen adalah melemahnya arus dana pada produk ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Sejak pertengahan Februari, tercatat arus keluar bersih mencapai sekitar US$910 juta. Padahal, produk ETF selama ini dianggap sebagai barometer utama permintaan institusional. Ketika aliran dana melambat atau berbalik keluar, pasar cenderung menafsirkannya sebagai tanda menurunnya minat investor besar.
Menariknya, tekanan ini terjadi di tengah performa positif aset lain. Harga emas justru mencatat kenaikan signifikan dalam dua bulan terakhir, sementara indeks saham utama AS masih bergerak dekat rekor tertinggi. Perbedaan kinerja ini memperlihatkan bahwa sikap hati-hati investor saat ini lebih terfokus pada sektor kripto.
Dengan kombinasi sinyal dari pasar opsi, arus ETF, dan permintaan stablecoin, pelaku pasar tampaknya bersiap menghadapi kemungkinan uji ulang area US$60.000 sebelum arah tren berikutnya terbentuk.






