Kapitulasi Bitcoin dinilai masih belum benar-benar terjadi meskipun harga telah menunjukkan pemulihan jangka pendek dari titik terendah terbarunya. Data pasar memperlihatkan pasangan BTC/USD sempat kembali menembus level US$71.000, atau naik sekitar 20% dibandingkan posisi terendah dalam 15 bulan terakhir yang tercatat pada akhir pekan lalu. Kenaikan ini memberi napas sementara bagi pasar, namun belum cukup untuk mengubah sentimen mayoritas pelaku industri yang masih berhati-hati.
Menjelang penutupan mingguan, volatilitas Bitcoin kembali meningkat—sebuah karakter yang kerap muncul saat pasar berada dalam fase ketidakpastian. Meski terjadi rebound teknikal, banyak analis menilai reli tersebut masih rapuh dan berpotensi hanya bersifat sementara.
Analis independen Filbfilb, misalnya, membandingkan struktur harga BTC saat ini dengan pola yang terbentuk selama bear market 2022. Ia menyoroti posisi harga spot terhadap exponential moving average (EMA) 50 minggu yang saat ini berada jauh lebih tinggi, di sekitar US$95.300. Menurutnya, kondisi ini mencerminkan bahwa tren penurunan jangka menengah masih dominan dan belum menunjukkan tanda pembalikan yang meyakinkan.
Pandangan senada disampaikan analis teknikal Tony Severino. Dengan menggabungkan berbagai indikator momentum dan siklus harga, ia menyimpulkan bahwa kemungkinan terbentuknya level terendah baru masih terbuka lebar. Artinya, pasar belum mencapai fase kapitulasi penuh—momen ketika tekanan jual memuncak sebelum harga membentuk dasar yang solid.
Trader lain, BitBull, juga menilai bahwa titik kapitulasi final Bitcoin belum terjadi. Ia memperkirakan dasar pasar berpotensi terbentuk di bawah level US$50.000. Area tersebut dinilai krusial karena menjadi zona di mana sebagian besar investor institusional, khususnya pembeli spot Bitcoin ETF di Amerika Serikat, akan berada dalam posisi merugi. Saat ini, rata-rata harga beli ETF tersebut berada di kisaran US$82.000.
Dari perspektif teknikal jangka panjang, analis juga menyoroti peran dua indikator utama: simple moving average (SMA) 200 minggu dan exponential moving average (EMA) 200 minggu. Kedua garis ini membentuk zona support penting di rentang US$58.000 hingga US$68.000—sering disebut sebagai “awan” support bear market.
Caleb Franzen dari Cubic Analytics menilai pola pergerakan saat ini memiliki kemiripan dengan siklus 2022. Kala itu, Bitcoin sempat memantul setelah menguji area MA 200 minggu, memicu optimisme bahwa tren turun telah berakhir. Namun reli tersebut gagal bertahan, dan harga akhirnya menembus zona support tersebut beberapa minggu kemudian.
Meski pola historis memberi referensi, Franzen menegaskan bahwa pasar tidak selalu bergerak identik dengan masa lalu. Ketidakpastian makroekonomi, arus dana institusional, serta dinamika likuiditas global tetap menjadi faktor penentu arah Bitcoin selanjutnya. Dengan kata lain, meski sinyal risiko masih kuat, arah pergerakan berikutnya tetap terbuka dan sangat bergantung pada perkembangan pasar ke depan.






