Dalam dunia investasi, keuntungan memang menarik perhatian. Tapi investor berpengalaman tahu: memahami risiko jauh lebih penting daripada sekadar mengejar profit. Salah satu konsep kunci yang sering dibahas di kalangan trader profesional adalah drawdown. Istilah ini terdengar teknis, tetapi sebenarnya sangat relevan untuk siapa pun yang ingin bertahan lama di pasar.
Artikel ini akan membahas drawdown secara menyeluruh mulai dari definisi, cara menghitung, jenis-jenisnya, hingga bagaimana drawdown memengaruhi strategi investasi. Jika kamu ingin menjadi investor yang lebih disiplin dan tahan banting, konsep ini bukan sekadar teori. Ini adalah alat berpikir.
Apa Itu Drawdown?
Drawdown adalah penurunan nilai portofolio dari titik puncak (peak) ke titik terendah (trough) sebelum kembali naik ke puncak baru. Dengan kata lain, drawdown mengukur seberapa besar kerugian sementara yang dialami investor selama periode tertentu.
Drawdown biasanya dinyatakan dalam persentase. Misalnya:
- Portofolio naik ke Rp100 juta
- Turun menjadi Rp80 juta
- Lalu kembali naik
Penurunan dari Rp100 juta ke Rp80 juta berarti drawdown sebesar 20%.
Yang perlu digarisbawahi: drawdown bukan kerugian permanen. Ini adalah penurunan sementara. Namun, besarnya drawdown bisa menentukan apakah seorang investor mampu bertahan secara psikologis maupun finansial.
Kenapa Drawdown Penting dalam Investasi?
Banyak investor fokus pada return tahunan. Padahal, risiko drawdown sering lebih menentukan kesuksesan jangka panjang. Ada beberapa alasan utama:
- Mengukur Risiko Nyata
Volatilitas sering dipakai untuk mengukur risiko, tetapi drawdown menunjukkan dampak riil terhadap uang kamu. Investor lebih merasakan kehilangan 30% dana dibandingkan dengan fluktuasi statistik.
- Dampak Psikologis
Drawdown besar bisa memicu panik. Investor yang tidak siap mental sering menjual di titik terendah, mengunci kerugian yang seharusnya bisa pulih.
- Recovery Lebih Sulit dari yang Terlihat
Kerugian 50% tidak cukup ditebus dengan kenaikan 50%. Untuk kembali ke titik awal, kamu butuh kenaikan 100%. Inilah efek matematis drawdown yang sering diremehkan.
Jenis-Jenis Drawdown
Dalam praktik investasi, ada beberapa istilah turunan yang sering digunakan:
Maximum Drawdown (MDD)
Maximum drawdown adalah penurunan terbesar yang pernah terjadi dalam periode tertentu. Ini adalah metrik penting untuk menilai risiko historis suatu aset atau strategi.
Investor profesional sering membandingkan return dengan maximum drawdown untuk melihat apakah strategi tersebut “sepadan risikonya”.
Relative Drawdown
Mengukur drawdown dalam persentase relatif terhadap nilai puncak. Ini membantu membandingkan performa antarportofolio dengan ukuran berbeda.
Absolute Drawdown
Mengukur penurunan dari modal awal. Biasanya digunakan untuk mengevaluasi kinerja trader atau fund manager.
Cara Menghitung Drawdown
Rumus dasar drawdown:
Drawdown (%) = (Peak Value – Trough Value) / Peak Value × 100%
Contoh:
- Peak: Rp120 juta
- Through: Rp90 juta
Drawdown = (120 – 90) / 120 × 100% = 25%
Perhitungan ini sederhana, tapi implikasinya besar. Investor yang memahami drawdown bisa merancang strategi manajemen risiko yang lebih realistis.
Strategi Mengelola Drawdown
Drawdown tidak bisa dihindari sepenuhnya. Bahkan investor legendaris seperti Warren Buffett pun mengalaminya. Yang membedakan investor sukses adalah cara mereka mengelola drawdown.
Beberapa strategi penting:
- Diversifikasi aset untuk mengurangi risiko terkonsentrasi
- Position sizing agar kerugian tidak menghancurkan portofolio
- Stop-loss discipline untuk membatasi kerugian
- Investasi jangka panjang untuk memberi waktu pemulihan
- Dollar-cost averaging (DCA) saat pasar turun
Investor yang matang tidak panik saat drawdown terjadi. Mereka melihatnya sebagai bagian alami dari siklus pasar.
Drawdown vs Volatilitas: Apa Bedanya?
Volatilitas mengukur seberapa liar harga bergerak. Drawdown mengukur seberapa dalam kamu jatuh dari puncak. Keduanya berkaitan, tapi tidak identik.
Aset bisa sangat volatil tanpa drawdown besar jika cepat pulih. Sebaliknya, aset dengan volatilitas moderat bisa mengalami drawdown panjang dan menyakitkan.
Karena itu, drawdown sering dianggap sebagai metrik yang lebih “manusiawi” yang mencerminkan pengalaman nyata investor.
Memahami drawdown berarti memahami realitas investasi. Tidak ada portofolio yang selalu naik. Bahkan strategi terbaik pun mengalami fase turun. Investor yang sukses bukan yang menghindari drawdown, tetapi yang mampu bertahan dan bangkit setelahnya.
Semakin kamu memahami risiko, semakin kuat fondasi keputusan investasimu.
Di Nanovest, kamu bisa membangun portofolio yang terdiversifikasi mulai dari saham global, kripto, hingga emas digital dengan fitur yang membantu kamu mengelola risiko secara lebih cerdas. Mulai investasi secara disiplin, pahami drawdown sebagai bagian dari perjalanan, dan bangun strategi jangka panjangmu bersama Nanovest hari ini.




