Highlights
- Rupiah melemah sampai sekitar Rp16.988 per US$, level terendah sepanjang sejarah.
- Pasar khawatir Bank Indonesia (BI) tidak cukup “bebas” mengambil keputusan, setelah ada kabar penunjukan orang dekat kekuasaan di posisi penting.
- Kalau kekhawatiran ini berlanjut, rupiah bisa tetap mudah goyang, dan sebagian orang biasanya mencari aset yang dianggap lebih “aman” seperti emas.
Nilai tukar rupiah Indonesia turun ke posisi terlemah dalam sejarah, dengan level sekitar Rp16.988 per dolar AS, melampaui titik terendah sebelumnya yang tercatat pada April. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terkait otonomi Bank Indonesia, setelah Presiden Prabowo Subianto mencalonkan keponakannya untuk posisi deputi gubernur bank sentral. Investor melihat langkah ini sebagai ancaman terhadap independensi Bank Indonesia, di tengah tekanan fiskal dan defisit anggaran yang mendekati batas yang ditetapkan.
Bank Indonesia Siap Menjaga Stabilitas
Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan, dengan terus melakukan intervensi di pasar valas sesuai fundamental ekonomi untuk membantu menahan pergerakan rupiah supaya tidak melemah terlalu cepat.
Tekanan pada rupiah menjadi salah satu yang terbesar di pasar negara berkembang tahun ini, dengan depresiasi hampir 2% sejak awal tahun. Kondisi ekonomi domestik yang melambat juga berpotensi memaksa bank sentral untuk kembali memangkas suku bunga guna mendorong pertumbuhan ekonomi, yang bisa memperlemah rupiah lebih lanjut. Hal tersebut artinya:
- Bank Indonesia siap melakukan aksi stabilisasi
- Depresiasi rupiah termasuk yang terburuk di pasar berkembang
- Potensi pelonggaran moneter bisa memperbesar tekanan mata uang
Tren Mata Uang Regional
Penurunan nilai tukar bukan hanya dialami rupiah. Mata uang negara lain seperti rupee India dan peso Filipina juga diperdagangkan dekat level terendahnya. Hal ini menunjukkan adanya tren tekanan pada mata uang negara berkembang secara luas, yang dipengaruhi oleh faktor global seperti pergeseran arus modal, suku bunga AS, dan risiko geopolitik.
Key Takeaways
Secara makro, tekanan pada rupiah dan ketidakpastian kebijakan moneter Indonesia mencerminkan peningkatan risiko di pasar negara berkembang. Implikasi utamanya:
- US Stocks: Apabila kekhawatiran terhadap pasar emas meningkat, seperti akibat pelemahan mata uang negara berkembang dan potensi perlambatan global, indeks saham AS dapat mengalami sentimen risiko-off. Artinya investor jadi lebih defensif: mereka mengurangi aset yang dianggap berisiko, dan pindah ke yang terasa lebih aman. Sektor konsumen global dan eksportir yang bergantung pada permintaan Asia dapat mengalami lebih banyak ketidakpastian.
- Emas: Karena investor mencari perlindungan di tengah kekhawatiran mata uang dan risiko global yang meningkat, dan ketidakpastian valuasi mata uang dan kemungkinan pelemahan pertumbuhan mendorong permintaan emas sebagai aset safe-haven (aset lindung).
- Crypto: Dalam situasi di mana kekhawatiran pasar terhadap mata uang tradisional meningkat, aset kripto, terutama Bitcoin, sering bereaksi terhadap sentimen risiko-off global serupa. Sebagian investor memosisikan kripto sebagai alternatif aset berisiko tinggi namun tidak stabil, yang dapat menyebabkan lonjakan volatilitas di pasar kripto.
Ke depan, aksi Bank Indonesia dan dinamika pasar negara berkembang lainnya akan menjadi indikator penting dalam menentukan arah risiko aset global, di tengah korelasi yang semakin kuat antara kebijakan moneter dan perilaku investor di berbagai kelas aset.
Source: The Edge Malaysia
https://theedgemalaysia.com/node/789828






