Raksasa mesin berat asal Amerika Serikat, Caterpillar Inc., kembali memberi peringatan keras kepada investor. Setelah laporan kuartal sebelumnya menunjukkan tekanan dari perang dagang, kini perusahaan memperkirakan dampak tarif impor bisa jauh lebih besar dari perkiraan awal mencapai $1,5 miliar hingga $1,8 miliar sepanjang 2025.
Kabar ini segera mengguncang pasar. Saham Caterpillar tercatat anjlok hingga 3% pada perdagangan pra-pasar New York, Jumat (29/8/2025), memperlihatkan kecemasan investor bahwa biaya tambahan akibat tarif bakal menggerus profitabilitas.
Tarif Baja dan Aluminium Jadi Biang Kerok
Menurut keterangan resmi perusahaan, revisi proyeksi kerugian tarif ini terutama dipicu oleh Section 232 Tariffs, yakni bea impor yang dikenakan AS terhadap baja dan aluminium.
Dua komoditas tersebut merupakan bahan baku vital dalam produksi mesin konstruksi dan pertambangan core business Caterpillar.
Seorang analis Citigroup, Kyle Menges, menyebut bahwa revisi ini menjadi sinyal bahwa biaya bahan baku semakin tidak terkendali, meski Caterpillar sudah mengambil sejumlah langkah mitigasi.
Rincian Dampak Kuartal III dan Sepanjang Tahun
Caterpillar memperkirakan dampak bersih dari tarif tambahan yang berlaku tahun ini akan mencapai:
- $500 juta hingga $600 juta pada kuartal III 2025
- $1,5 miliar hingga $1,8 miliar untuk keseluruhan tahun
Jumlah ini lebih tinggi dari panduan sebelumnya pada 5 Agustus 2025, yakni $1,3 miliar hingga $1,5 miliar.
Meski demikian, perusahaan menegaskan bahwa target penjualan dan pendapatan untuk 2025 tidak berubah. Namun, margin operasional tahunan diperkirakan akan berada di batas bawah kisaran target indikasi bahwa profitabilitas bisa menipis.
Mengapa Investor Perlu Waspada?
Bagi investor, sinyal ini penting karena Caterpillar adalah salah satu leading indicator bagi sektor industri global. Sebagai produsen mesin tambang, alat berat, dan peralatan konstruksi, kinerja perusahaan ini sering dijadikan acuan kondisi siklus ekonomi dunia.
Jika Caterpillar harus menanggung beban tarif sebesar hampir $2 miliar, ada tiga risiko besar yang perlu dicermati:
- Penurunan margin laba – meski penjualan stabil, biaya meningkat drastis.
- Efek domino ke sektor konstruksi dan pertambangan – harga alat berat bisa lebih mahal.
- Gejolak politik dagang AS – negosiasi tarif masih cair, sehingga ketidakpastian berlanjut.
Perang Dagang dan Bayang-Bayang Global
Situasi ini mencerminkan bagaimana perang dagang dan kebijakan proteksionis dapat memukul perusahaan manufaktur global. Tarif yang awalnya ditujukan untuk melindungi industri domestik AS justru menjadi beban bagi korporasi yang mengandalkan rantai pasok internasional.
Ironisnya, Caterpillar yang selama puluhan tahun dikenal sebagai simbol industrialisasi Amerika kini ikut menjadi “korban” dari kebijakan tarif negara asalnya sendiri.
Sinyal Kritis dari Caterpillar
Peringatan terbaru dari Caterpillar menunjukkan bahwa perang dagang bukan hanya isu geopolitik, tetapi nyata merembet ke neraca keuangan perusahaan global. Dengan estimasi beban tarif hingga $1,8 miliar, investor perlu menimbang ulang apakah reli saham industri masih bisa bertahan atau mulai rapuh di bawah tekanan biaya.
Pertanyaannya: apakah pemerintah AS akan melunak dalam negosiasi tarif, atau justru mempertahankan strategi proteksi jangka panjang? Apa pun jawabannya, Caterpillar sudah memberi alarm dan dunia bisnis wajib mendengarkannya.