Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) tampaknya tidak lagi perkasa. Mata uang paling berpengaruh di dunia ini tengah menghadapi pelemahan bulanan terbesar sejak awal tahun, dengan potensi penurunan hingga 2% sepanjang Agustus.
Faktor utama yang menekan dolar adalah meningkatnya spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan segera memangkas suku bunga pada September 2025.
Namun, sentimen pasar bukan hanya digerakkan oleh ekspektasi kebijakan moneter. Konflik politik antara mantan Presiden Donald Trump dan jajaran pejabat bank sentral, terutama kasus hukum terhadap Gubernur Fed Lisa Cook, semakin memperkeruh suasana.
Meski demikian, investor tetap lebih fokus pada arah kebijakan suku bunga ketimbang drama politik di Washington.
Ekspektasi Penurunan Suku Bunga Semakin Kuat
Data dari CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa peluang penurunan suku bunga The Fed pada September kini melonjak hingga 86%, naik tajam dibandingkan 63% sebulan lalu.
Sinyal semakin jelas ketika Christopher Waller, salah satu gubernur The Fed, menyatakan dirinya “ingin segera memulai pemangkasan suku bunga” dan bahkan memperkirakan serangkaian penurunan lebih lanjut agar kebijakan moneter kembali ke level netral.
Pasar kini menunggu laporan Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index, indikator inflasi favorit The Fed. Estimasi menunjukkan inflasi berada di kisaran 2,6% year-on-year, level yang cukup sejalan dengan target jangka menengah.
Namun, apabila angka mendekati 3% atau lebih, pasar bisa kembali ragu apakah The Fed akan benar-benar agresif dalam memangkas suku bunga.
Selain itu, laporan ketenagakerjaan AS minggu depan akan menjadi kunci terakhir sebelum rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Investor global akan menilai apakah pelemahan ekonomi AS sudah cukup signifikan untuk membuka jalan bagi siklus pemangkasan suku bunga yang konsisten.
Dampak Global: Dari Euro hingga Yuan China
Kondisi dolar yang melemah otomatis memberi ruang bagi mata uang lain untuk menguat. Euro stabil di level $1,1677 dan Poundsterling berada di $1,3474, keduanya mencatatkan penguatan lebih dari 2% sepanjang Agustus.
Di Asia, yuan China justru mencapai level terkuat dalam 10 bulan terakhir, didorong oleh penguatan bursa domestik dan intervensi halus bank sentral.
Sebaliknya, rupee India tertekan hingga menyentuh rekor terendah. Pasar khawatir dampak ekonomi dari tarif impor AS yang tinggi akan menekan pertumbuhan India. Sementara itu, dolar Selandia Baru justru sedikit menguat setelah Ketua RBNZ, Neil Quigley, mengundurkan diri terkait kontroversi internal bank sentral.
Politik AS: Ancaman terhadap Independensi The Fed
Di tengah ketidakpastian kebijakan moneter, muncul faktor politik yang bisa mengganggu kredibilitas bank sentral. Mantan Presiden Donald Trump kembali menekan The Fed dengan upaya untuk memberhentikan Gubernur Lisa Cook.
Cook melawan dengan gugatan hukum, menyatakan Trump tidak memiliki kewenangan untuk mencopotnya.
Meski reaksi pasar relatif terbatas, langkah Trump ini memunculkan kekhawatiran soal independensi bank sentral AS. Sejarah menunjukkan, jika independensi The Fed terganggu, maka stabilitas kebijakan moneter jangka panjang bisa dipertaruhkan.
Mengapa Investor Harus Waspada?
Bagi investor, kondisi ini ibarat pedang bermata dua.
- Jika The Fed benar-benar memangkas suku bunga, pasar saham dan obligasi bisa mendapat dorongan positif, sementara dolar melemah lebih jauh.
- Namun, jika inflasi tetap tinggi dan The Fed tidak agresif, pasar bisa berbalik arah dengan volatilitas yang tajam.
Selain itu, faktor politik AS jelang pemilu semakin menambah ketidakpastian. Investor global harus memperhitungkan risiko bahwa dolar tidak lagi menjadi aset “safe haven” absolut di tengah gejolak geopolitik dan konflik internal Amerika.
Dolar di Persimpangan Jalan
Dolar AS kini berada di titik kritis: di satu sisi ditekan oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga, di sisi lain dibayangi gejolak politik yang berpotensi mengganggu independensi bank sentral.
Investor harus lebih berhati-hati, bukan hanya membaca arah kebijakan The Fed, tetapi juga memahami dinamika politik yang bisa mengubah arah pasar keuangan global.
Bagi pelaku pasar di Indonesia, pelemahan dolar bisa memberi angin segar bagi rupiah. Namun, volatilitas global tetap harus diwaspadai, terutama bagi mereka yang berinvestasi di saham berbasis ekspor dan instrumen dolar.