Belum pernah rasanya para analis emas seramai ini berdebat. Sepanjang 2025 logam mulia ini seperti tak terbendung, mencetak rekor demi rekor sampai banyak orang lupa bahwa emas juga bisa turun. Lalu datang paruh pertama 2026, dan koreksi tajam itu tiba. Sekarang meja diskusi terbelah dua. Di satu sisi ada yang bilang ini cuma emas mengambil napas sebelum lari lagi. Di sisi lain ada yang mulai berbisik bahwa reli besar ini sudah kehabisan bahan bakar.
Buat kamu yang menyimpan emas atau baru berniat masuk, kebisingan ini justru membingungkan. Jadi mari kita pelan-pelan, dengar apa kata para ahli, dan yang lebih penting, pahami alasan di balik setiap pendapat mereka. Karena angka prediksi tanpa alasan cuma tebakan yang dipoles.
Di mana posisi emas sekarang
Per awal Juli 2026, harga emas dunia bertengger di kisaran 4.000 dolar AS per troy ounce. Sempat menyentuh 3.943 dolar beberapa hari lalu, titik terendah sejak November tahun lalu. Kuartal kedua tahun ini pun ditutup merah, turun sekitar 14 persen, kerugian kuartalan pertama yang dicatat emas sejak awal 2024.
Angka itu terasa seperti mimpi yang berbeda kalau kita ingat awal tahun. Pada 29 Januari 2026, emas menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarahnya, hampir 5.600 dolar per ounce. Di dalam negeri ceritanya sama dramatisnya. Emas Antam sempat tembus Rp 3.168.000 per gram di tanggal yang sama, sebelum akhirnya melandai ke kisaran Rp 2,6 jutaan seperti sekarang.
Pertanyaan besarnya sudah bergeser. Bukan lagi soal kenapa emas bisa terbang setinggi itu, melainkan ke mana ia akan bergerak setelah jatuh sejauh ini. Dan di titik inilah para ahli mulai berjalan ke arah yang berbeda.
Mereka yang masih yakin emas akan terbang lagi
Buat kelompok ini, koreksi sekarang tak lebih dari gangguan sesaat. Suara paling lantang datang dari JPMorgan. Tim risetnya memasang target ambisius, rata-rata 6.000 dolar per ounce di kuartal terakhir 2026 dan berpotensi menyentuh 6.300 dolar di penghujung 2027.
Menariknya, Greg Shearer yang memimpin riset logam mulia di sana tidak menutup-nutupi kegelisahan jangka pendek. Ia menggambarkan emas sedang tersangkut di semacam zona teknikal yang membingungkan, terjepit di antara garis rata-rata pergerakan 200 hari sekitar 4.340 dolar dan 50 hari di 4.730 dolar. Tapi keyakinan jangka panjangnya bertumpu pada satu hal yang sulit dibantah, yaitu permintaan dari China. Menurut catatannya, impor emas bersih Negeri Tirai Bambu melonjak ke 317 ton pada kuartal pertama 2026, hampir tiga kali lipat dari kuartal sebelumnya. Bank sentralnya pun menggenjot pembelian, dari sekitar satu ton per bulan menjadi delapan ton pada April saja.
Wells Fargo bahkan lebih berani lagi, mematok akhir tahun di rentang 6.100 sampai 6.300 dolar. Sementara dari Bank of America, sang analis Michael Widmer memilih menyorot hal yang menurutnya luput dari perhatian pasar, yaitu ketidakpastian siapa yang memimpin The Fed, defisit fiskal Amerika yang tak kunjung beres, dan kenyataan bahwa alokasi emas di portofolio investor sebenarnya masih sangat kecil secara historis. Dalam skenario paling liar, Widmer menyebut angka 8.000 dolar untuk 2027. Ia buru-buru menegaskan itu bukan proyeksi utamanya, tapi juga bukan hal yang mustahil.
Yang paling menarik untuk investor jangka panjang justru cara pandang State Street Global Advisors. Argumen mereka sederhana tapi kuat. Bank sentral membeli emas bukan untuk cari untung jangka pendek, melainkan sebagai kebijakan negara. Artinya, mereka tetap membeli entah harga sedang murah atau mahal. Pembelian yang tidak peduli harga inilah yang menciptakan semacam lantai di bawah pasar emas. Deutsche Bank pun ikut menaikkan proyeksi rata-rata tahunannya ke sekitar 4.450 dolar, naik dari perkiraan sebelumnya, dengan alasan arus investasi yang tetap deras dan bank sentral yang belum berhenti memborong.
Mereka yang menyetujui arahnya, tapi mengerem ekspektasi
Kelompok tengah ini tidak menyangkal emas masih menuju atas. Mereka hanya enggan ikut euforia soal seberapa tinggi.
Commerzbank memberi target 5.000 dolar untuk akhir 2026 dan 5.200 dolar setahun setelahnya. Optimistis, tapi dengan catatan bahwa valuasi emas sudah terlanjur mahal. UBS memangkas sedikit sasarannya menjadi 5.500 dolar dari sebelumnya 5.900, tetap memandang emas sebagai penyeimbang portofolio yang baik. Angka yang paling membumi justru datang dari jajak pendapat Reuters terhadap 31 analis, yang menghasilkan median sekitar 4.900 dolar untuk tahun ini. Ini gambaran konsensus pasar yang lebih jujur ketimbang suara-suara paling ekstrem di kedua ujung.
World Gold Council memilih pendekatan yang lebih terukur dengan menyodorkan tiga kemungkinan sekaligus. Kalau kondisi sekarang bertahan, emas diperkirakan naik tipis 5 sampai 15 persen. Kalau ekonomi global tergelincir ke resesi dan orang berbondong-bondong mencari aset aman, kenaikannya bisa melejit 15 sampai 30 persen. Tapi kalau kebijakan pro-pertumbuhan berhasil dan The Fed memilih menahan atau bahkan menaikkan bunga, emas justru bisa terkoreksi 5 sampai 20 persen. Soal bank sentral, lembaga ini memperkirakan pembelian 750 sampai 850 ton tahun ini, sedikit di bawah tahun lalu namun masih tergolong sangat besar.
Mereka yang memilih waspada
Kubu inilah yang paling banyak menurunkan targetnya belakangan, dan alasan mereka layak disimak.
Goldman Sachs contoh paling gamblang. Pada 20 Juni 2026, analisnya Daan Struyven dan Lina Thomas menggunting target akhir tahun dari 5.400 dolar menjadi 4.900 dolar. Dua hal jadi pemicunya. Pertama, arus dana yang masuk ke produk ETF emas mulai loyo, bahkan ETF di Asia mencatat arus keluar bulanan pertamanya sejak Agustus 2025. Kedua, mereka menghapus seluruh ekspektasi pemangkasan bunga The Fed untuk tahun ini dan menggesernya ke 2027.
Morgan Stanley bertahan sebagai suara yang paling kalem. Riset komoditasnya menurunkan target paruh kedua dari 5.700 dolar ke kisaran 4.800 sampai 5.200 dolar, menunjuk imbal hasil riil yang tinggi dan pemangkasan bunga yang molor sebagai biang keladi. Arahnya tetap naik, katanya, hanya saja momentum liar 2025 sudah memudar. BMO Capital Markets juga memangkas perkiraannya ke sekitar 4.625 dolar untuk paruh kedua tahun ini, walau tetap yakin emas akan kembali ke atas 5.000 dolar begitu memasuki 2027.
Dan ada HSBC, satu-satunya yang benar-benar enggan ikut arus. Analisnya, James Steel, bahkan menolak memberi angka pasti dan lebih memilih rentang lebar. Logikanya, kalau ketegangan geopolitik benar-benar reda atau kebijakan fiskal diperketat, sebagian besar premi risiko yang sekarang menopang harga emas bisa menguap begitu saja.
Suara dari dalam negeri
Dari Indonesia, pengamat komoditas Ibrahim Assuaibi sempat memproyeksikan emas melesat ke 5.000 dolar per ounce, terdorong panasnya ketegangan Amerika dan Iran. Perlu diingat, pandangan ini muncul saat konflik sedang memuncak, jadi bacalah sebagai potret ketika premi geopolitik masih tinggi, sebelum kesepakatan damai sementara meredakannya.
Ada pula argumen dari sisi pasokan yang jarang dibahas orang. Mantan bos Goldcorp, Ian Telfer, pernah blak-blakan menyebut produksi emas dunia sudah mulai menurun atau setidaknya akan segera turun. Data World Gold Council seolah mengamininya. Produksi tambang emas global stagnan sejak 2018, cadangan yang teridentifikasi diperkirakan hanya cukup untuk sekitar 20 tahun ke depan, dan temuan tambang besar makin langka. Kalau permintaan tetap kencang sementara pasokan tersendat, tekanan ke atas jadi sesuatu yang sulit dihindari dalam jangka panjang.
Ringkasan target para analis
Supaya lebih gampang dibandingkan, berikut proyeksi mereka untuk akhir 2026:
| Lembaga | Target akhir 2026 | Nada |
|---|---|---|
| JPMorgan | ± US$6.000 | Optimis |
| Wells Fargo | US$6.100 – 6.300 | Optimis |
| UBS | US$5.500 | Optimis moderat |
| Commerzbank | US$5.000 | Tengah |
| Reuters (median 31 analis) | ± US$4.900 | Konsensus |
| Goldman Sachs | US$4.900 | Hati-hati |
| Morgan Stanley | US$4.800 – 5.200 | Hati-hati |
| BMO | ± US$4.625 | Hati-hati |
| HSBC | Rentang lebar, tanpa target titik | Skeptis |
Untuk 2027, arahnya cenderung lebih tinggi. JPMorgan memasang 6.300 dolar, Commerzbank 5.200 dolar, BMO kembali di atas 5.000 dolar, dan skenario ekstrem Bank of America menyebut 8.000 dolar. Tapi rentangnya sangat lebar, dari sekitar 4.100 sampai 8.000 dolar, tergantung ke mana suku bunga dan geopolitik bergerak.
Sebenarnya mereka memperdebatkan apa
Kalau kamu perhatikan baik-baik, ada yang lucu dari semua adu argumen ini. Nyaris semua analis sepakat soal cerita besar emas dalam jangka panjang. Yang mereka ributkan cuma soal kapan dan seberapa cepat. Dan semuanya bermuara pada satu nama, yaitu The Fed.
Kubu optimis bertaruh bank sentral Amerika itu akan kembali memangkas bunga. Kubu waspada bertaruh sebaliknya, bahwa bunga akan ditahan tinggi atau bahkan naik gara-gara inflasi yang tersulut lonjakan harga minyak. Ini bukan perkara sepele. Proyeksi rapat terakhir The Fed menunjukkan hampir separuh pejabatnya melihat kemungkinan kenaikan bunga sebelum tahun ini habis, apalagi ketuanya yang baru, Kevin Warsh, punya reputasi galak terhadap inflasi. Selama ekspektasi ini bertahan, emas akan sulit bergerak. Tapi begitu angin berbalik ke arah pemangkasan bunga, katalis kenaikan bisa langsung menyala.
Yang tidak diperdebatkan siapa pun adalah fondasinya. Ada beberapa hal yang membuat emas sulit jatuh terlalu dalam. Bank sentral terus memborong tanpa peduli harga, sebuah tren yang berakar dari pembekuan cadangan devisa Rusia pada 2022, momen yang menyadarkan banyak negara bahwa aset dolar bisa dibekukan kapan saja. De-dolarisasi pun terus berjalan. Dalam survei World Gold Council 2026, 74 persen bank sentral memperkirakan porsi dolar dalam cadangan mereka akan menyusut dalam lima tahun ke depan, sementara emas naik. Negara-negara BRICS sekarang memegang 17,4 persen cadangan emas dunia, naik dari 11,2 persen pada 2019.
Belum lagi utang global yang menggunung. Menurut data BIS, total utang dunia sudah menembus 300 triliun dolar, dan utang pemerintah Amerika sendiri melampaui 36 triliun dolar. Angka sebesar itu wajar membuat orang meragukan daya tahan mata uang kertas. Ditambah pasokan tambang yang mentok sejak 2018, lengkap sudah alasan struktural yang menahan harga emas dari bawah.
Jadi sebenarnya perdebatan ini bukan soal emas akan runtuh atau tidak. Bahkan HSBC yang paling skeptis pun tidak berani meramalkan keruntuhan, hanya rentang yang lebar. Perdebatannya murni soal cepat atau lambat.
Lalu, kamu harus bagaimana
Sebelum lebih jauh, satu hal perlu ditegaskan. Ini bukan nasihat keuangan, dan semua proyeksi di atas sangat mungkin meleset. Tapi dari peta pandangan para ahli tadi, ada beberapa hal praktis yang bisa kamu petik.
Kalau kamu berpikir jangka panjang, katakanlah di atas tiga sampai lima tahun, logikanya condong ke mengumpulkan emas secara bertahap. Sebagian besar ahli sepakat fondasinya masih utuh, dan koreksi seperti sekarang secara historis lebih sering jadi peluang masuk ketimbang alasan untuk lari. Cara paling nyaman adalah mencicil dalam jumlah tetap secara rutin, yang orang biasa sebut dollar cost averaging. Dengan begitu kamu tidak perlu pusing menebak titik terbawah, sesuatu yang bahkan bank raksasa pun gagal lakukan.
Tapi kalau fokusmu jangka pendek, jujurlah pada diri sendiri bahwa risikonya nyata. Selama The Fed masih membuka pintu kenaikan bunga, tekanan bisa berlanjut. Ini jelas bukan momen untuk masuk habis-habisan sambil berharap cuan kilat.
Yang tak kalah penting, perhatikan porsinya, bukan cuma harganya. Banyak analis, baik lokal maupun global, menyarankan alokasi emas di kisaran 10 sampai 15 persen dari total portofolio untuk investor yang tidak suka guncangan besar. Dengan porsi yang wajar, kamu tidak akan panik saat layar memerah, tapi tetap kebagian kalau skenario optimis benar terjadi. Dan sepanjang perjalanan, cukup pantau dua hal, yaitu setiap sinyal perubahan arah suku bunga The Fed dan perkembangan geopolitik yang bisa mengubah premi risiko. Dua faktor itulah yang paling menentukan ke mana emas melangkah dalam 18 bulan ke depan.
Buat yang ingin menjalankan strategi cicil bertahap tanpa repot menyimpan batangan dan menanggung premi, emas digital bisa jadi jalan tengah karena bisa dimulai dari nominal kecil dan mudah dicairkan. Di Nanovest misalnya, kamu bisa mulai dari modal kecil dan memantau pergerakannya kapan saja, jadi lebih gampang disiplin mencicil di harga berapa pun.
Pertanyaan yang sering muncul
Kenapa prediksi para ahli bisa beda sejauh itu? Karena mereka berangkat dari asumsi yang berbeda soal satu hal, yaitu suku bunga The Fed. Yang menduga bunga turun jadi optimis, yang menduga bunga naik jadi waspada. Perbedaannya soal waktu, bukan arah jangka panjang.
Masih layak beli emas di harga sekarang? Sebagian besar ahli menilai fondasi jangka panjangnya masih kokoh, dan harga sekarang jauh di bawah puncak Januari. Tapi masuk bertahap jauh lebih bijak daripada sekaligus, mengingat tekanan jangka pendek belum hilang.
Siapa yang prediksinya paling akurat? Tidak ada yang bisa dipastikan. Goldman Sachs saja sempat menaikkan lalu menurunkan targetnya dalam hitungan bulan. Pakai konsensus dan alasannya sebagai peta, bukan angkanya sebagai jaminan.
Emas fisik atau digital? Fisik cocok untuk pegangan sangat panjang meski ada premi dan biaya simpan. Digital cocok untuk yang ingin mulai kecil, likuid, dan gampang dicicil rutin. Yang penting, pastikan platformnya terdaftar dan diawasi OJK atau Bappebti.
Referensi +
- World Gold Council, Gold Outlook 2026
- JPMorgan Global Research
- State Street Global Advisors, Gold 2026 Outlook
- Trading Economics, harga spot terkini






