Pasar kripto saat ini menunjukkan dua tren yang bergerak ke arah berbeda.
Di satu sisi, penggunaan stablecoin terus meningkat dan semakin banyak digunakan untuk aktivitas ekonomi sehari-hari, mulai dari pembayaran bisnis, transfer lintas negara, hingga transaksi konsumen. Di sisi lain, ETF kripto spot yang sempat menjadi simbol masuknya investor institusional justru menghadapi arus keluar dana yang terus berlanjut.
Perbedaan ini mulai memunculkan pertanyaan baru di pasar: apakah pertumbuhan industri kripto ke depan akan lebih banyak didorong oleh utilitas nyata dibandingkan aliran modal investasi tradisional?
Data terbaru menunjukkan bahwa stablecoin mungkin sedang memasuki fase pertumbuhan terkuatnya sejauh ini.
Stablecoin Semakin Aktif Digunakan di Dunia Nyata
Menurut laporan DWF Labs yang mengolah data dari Visa dan Allium Labs, kecepatan peredaran stablecoin atau stablecoin velocity mencapai rekor tertinggi sebesar 49,7 kali per tahun.
Metrik ini mengukur seberapa sering setiap dolar stablecoin berpindah tangan dalam satu tahun. Semakin tinggi angkanya, semakin aktif aset tersebut digunakan dalam aktivitas ekonomi.
Saat ini total pasokan stablecoin global telah mencapai sekitar US$320 miliar. Dalam kurang dari lima bulan pertama tahun 2026, stablecoin telah memproses volume transaksi yang telah difilter sebesar US$6,64 triliun. Data tersebut telah menghilangkan aktivitas bot, perdagangan frekuensi tinggi, serta transfer internal sehingga lebih mencerminkan penggunaan riil.
Yang menarik, sumber pertumbuhan kini mulai berubah.
Jika sebelumnya sebagian besar aktivitas stablecoin berasal dari perdagangan kripto di bursa, saat ini pertumbuhan tercepat justru datang dari pembayaran antar bisnis, remitansi internasional, dan transaksi konsumen.
Perubahan ini menunjukkan bahwa stablecoin semakin berkembang dari alat perdagangan menjadi infrastruktur pembayaran digital yang digunakan dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
Dari Spekulasi ke Infrastruktur Pembayaran
Analis melihat perkembangan ini sebagai fase baru dalam evolusi stablecoin.
Pada periode 2019 hingga 2021, pertumbuhan stablecoin masih didominasi aktivitas spekulatif selama pasar bullish kripto. Kemudian pada 2022 hingga 2024, stablecoin berperan sebagai tempat berlindung saat industri menghadapi berbagai gejolak besar seperti runtuhnya Terra dan FTX.
Kini sejak 2025, volume transaksi tumbuh lebih cepat dibandingkan peningkatan pasokan stablecoin itu sendiri.
Fenomena ini terlihat dari semakin banyaknya perusahaan pembayaran dan institusi keuangan yang mulai mengintegrasikan stablecoin ke dalam layanan mereka. Visa, Stripe, hingga berbagai fintech global terus memperluas dukungan terhadap transaksi berbasis stablecoin di berbagai negara.
ETF Bitcoin dan Ethereum Hadapi Tekanan
Di saat stablecoin mencatat pertumbuhan penggunaan, ETF kripto justru menghadapi tantangan berbeda.
ETF Bitcoin spot yang diluncurkan dengan antusiasme tinggi kini mengalami periode arus keluar dana terpanjang sejak pertama kali hadir di pasar. Sejak Oktober 2025, total dana yang keluar telah mencapai sekitar US$6,6 miliar.
Perubahan ini berbeda dengan pola sebelumnya. Pada masa awal ETF Bitcoin, arus keluar umumnya terjadi karena investor memindahkan dana dari produk dengan biaya tinggi seperti Grayscale GBTC ke ETF yang lebih murah seperti BlackRock IBIT atau Fidelity FBTC.
Namun dalam beberapa bulan terakhir, bahkan produk-produk ETF terbesar juga mulai mencatat arus keluar. Pada 27 Mei saja, total penarikan dana bersih ETF Bitcoin mencapai sekitar US$733 juta, termasuk dari IBIT milik BlackRock.
Kondisi serupa juga mulai terlihat pada ETF Ethereum. Setelah sempat menikmati arus masuk besar pada pertengahan 2025, permintaan mulai melambat sepanjang tahun ini. ETF ETHA milik BlackRock bahkan mencatat arus keluar selama bulan Mei.
Perkembangan tersebut memunculkan pandangan bahwa sebagian investor institusional mungkin masih memperlakukan ETF kripto sebagai instrumen investasi siklus atau momentum pasar, bukan sebagai alokasi jangka panjang yang permanen.
Pasar Kripto Masuki Babak Baru
Pergerakan yang berlawanan antara stablecoin dan ETF menunjukkan bahwa pasar kripto sedang mengalami transformasi yang menarik.
Sementara sebagian modal investasi institusional mulai keluar dari ETF, penggunaan stablecoin justru semakin dalam masuk ke aktivitas ekonomi nyata. Hal ini menandakan bahwa pertumbuhan industri aset digital tidak lagi hanya bergantung pada pergerakan harga Bitcoin atau Ethereum.
Jika tren ini berlanjut, stablecoin berpotensi menjadi salah satu fondasi terpenting dalam adopsi kripto global, terutama sebagai infrastruktur pembayaran digital yang menjembatani dunia keuangan tradisional dengan teknologi blockchain.
Untuk mengikuti perkembangan aset kripto, stablecoin, dan tren pasar global lainnya, kamu bisa membaca News & Artikel Tips Nanovest. Jika ingin mulai berinvestasi pada aset kripto, saham Amerika Serikat, maupun emas digital, kamu juga dapat melakukannya dengan mudah melalui aplikasi Nanovest.






