Harga emas mencatat lonjakan harian terbesar sejak akhir Maret setelah pasar mulai merespons optimisme baru terkait potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.
Sentimen tersebut muncul bersamaan dengan turunnya harga minyak dan melemahnya dolar AS, dua faktor yang langsung mengubah arah pergerakan aset safe haven global.
Pada perdagangan Kamis pagi di Asia, harga emas spot stabil di sekitar US$4.690 per ons setelah melonjak sekitar 3% sehari sebelumnya. Kenaikan itu terjadi ketika investor mulai menilai kemungkinan meredanya perang yang telah berlangsung hampir 10 minggu di Timur Tengah.
Harapan Gencatan Senjata Ubah Sentimen Pasar
Optimisme pasar mulai meningkat setelah laporan menyebut Iran sedang mengevaluasi proposal baru dari AS untuk mengakhiri konflik.
Tekanan internasional terhadap kedua negara juga semakin besar, termasuk dari China yang ikut mendorong upaya perdamaian.
Presiden Donald Trump kembali memberi sinyal bahwa kesepakatan damai mungkin segera tercapai. Dalam unggahan media sosialnya, Trump mengatakan AS akan mengakhiri operasi militernya dan membuka kembali blokade Selat Hormuz apabila Iran menyetujui poin-poin yang telah dibahas.
Meski begitu, pasar masih memandang situasi ini sebagai perkembangan yang sangat rapuh.
Namun perlu diingat bahwa posisi kedua negara dinilai belum banyak berubah dibanding proposal sebelumnya, sehingga risiko kegagalan negosiasi masih tinggi.
Turunnya Minyak dan Dolar Jadi Pendorong Emas
Penurunan harga energi menjadi salah satu pemicu utama penguatan emas.
Ketika harga minyak turun, tekanan inflasi mulai mereda. Hal itu mendorong imbal hasil obligasi AS ikut turun, sementara dolar AS melemah kembali ke level sebelum perang dimulai.
Kondisi tersebut biasanya menguntungkan emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga dan diperdagangkan dalam denominasi dolar AS. Semakin lemah dolar, semakin murah emas bagi investor global di luar Amerika Serikat.
Selain emas, harga perak juga ikut melonjak lebih dari 6% pada perdagangan sebelumnya, sementara platinum dan paladium turut menguat.
Kekhawatiran Inflasi Masih Belum Hilang
Meski pasar mulai optimistis terhadap peluang perdamaian, pejabat Federal Reserve masih memberikan peringatan terkait inflasi.
Presiden Federal Reserve Chicago Austan Goolsbee dan Presiden Federal Reserve St. Louis Alberto Musalem sama-sama menegaskan bahwa inflasi masih berada di atas target 2%.
Artinya, meskipun harga minyak turun, The Fed kemungkinan belum akan terburu-buru menurunkan suku bunga.
Selama konflik berlangsung sejak akhir Februari, pasar sempat khawatir bahwa penutupan Selat Hormuz akan memicu lonjakan harga energi global dan membuat inflasi bertahan tinggi lebih lama.
Kondisi itu sebelumnya sempat menekan harga emas sekitar 11% karena ekspektasi suku bunga tinggi membuat investor beralih ke aset berbunga.
Kini, arah pasar mulai berubah seiring munculnya kemungkinan bahwa ketegangan geopolitik bisa mereda lebih cepat dari perkiraan.
Pergerakan harga emas, minyak, hingga pasar global kini semakin dipengaruhi perkembangan geopolitik dan arah kebijakan ekonomi dunia.
Buat kamu yang ingin memantau peluang investasi di tengah dinamika pasar global, kamu bisa mulai investasi langsung di Nanovest. Dapatkan juga update pasar, insight ekonomi, dan berita finansial terbaru melalui News & Artikel Tips Nanovest.






