Pasar global langsung berbalik arah setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan gencatan senjata sementara dengan Iran. Harga minyak mentah yang sebelumnya melonjak akibat eskalasi konflik tiba-tiba jatuh tajam, sementara indeks saham berjangka AS justru melesat dalam perdagangan setelah jam bursa.
Reaksi ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Dalam hitungan jam, fokus investor berpindah dari ancaman gangguan pasokan energi ke harapan bahwa ketegangan untuk sementara bisa dikendalikan.
Trump mengumumkan bahwa ia setuju menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua minggu. Keputusan itu datang kurang dari dua jam sebelum tenggat waktu pukul 8 malam yang sebelumnya ia tetapkan. Dalam pernyataannya, Trump menyebut Amerika Serikat telah memenuhi bahkan melampaui target militernya, dan menilai proposal 10 poin dari Iran cukup layak untuk menjaga dasar negosiasi damai jangka panjang.
Minyak Langsung Jatuh dari Level Tinggi
Pasar minyak menjadi yang paling cepat merespons. Kontrak berjangka Brent, yang menjadi acuan global, sempat turun lebih dari 16% hingga diperdagangkan di sekitar US$90,78 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga turun sekitar 16% ke level sedikit di atas US$94 per barel.
Penurunan ini terlihat sangat kontras jika dibandingkan dengan posisi Brent sehari sebelumnya. Pada 7 April 2026, Brent masih ditutup di US$105,35 per barel. Artinya, hanya dalam waktu singkat pasar menghapus premi risiko yang sebelumnya terbentuk akibat potensi perang yang lebih luas.
Selama beberapa hari terakhir, harga minyak memang terdorong oleh kekhawatiran besar terhadap Selat Hormuz. Jalur ini sangat penting karena dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan di wilayah tersebut sempat dipandang sebagai salah satu guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern, dengan potensi dampak pada 12 juta hingga 15 juta barel minyak mentah per hari.
Begitu Trump mengumumkan jeda konflik, pasar mulai menghitung ulang skenario terburuk itu. Tekanan pasokan yang sebelumnya dianggap sangat mungkin, mendadak terlihat belum tentu terjadi dalam waktu dekat.
Wall Street Menyambut dengan Reli
Jika pasar minyak bergerak turun, pasar saham justru bergerak ke arah sebaliknya. Indeks berjangka Dow Jones melonjak lebih dari 900 poin atau sekitar 1,95%. S&P 500 futures naik sekitar 2,13%, sementara Nasdaq futures menguat 2,46%.
Lonjakan ini mencerminkan kembalinya minat terhadap aset berisiko. Sebelumnya, ketegangan antara AS dan Iran membuat investor cenderung defensif. Begitu ancaman perang besar tampak mereda, sentimen risk-on kembali muncul.
Pasar seperti sedang menarik napas. Selama konflik membayangi, investor khawatir lonjakan harga energi akan memicu tekanan inflasi baru, memperburuk prospek ekonomi, dan menekan laba perusahaan. Ketika risiko itu sedikit surut, saham pun langsung mendapat dorongan.
Gencatan Senjata Ini Masih Punya Syarat Besar
Meski pasar merespons sangat positif, isi gencatan senjata ini sebenarnya belum sepenuhnya menenangkan. Salah satu syarat utama yang disebut Trump adalah pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh, segera, dan aman.
Di sinilah pasar masih menghadapi area abu-abu. Gencatan senjata dua minggu memang menunda eskalasi, tetapi belum otomatis memastikan bahwa jalur energi paling penting di dunia itu akan kembali normal dalam waktu dekat.
Trump sendiri menegaskan bahwa keputusan ini diambil setelah ada komunikasi dengan Pakistan, termasuk Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir, yang meminta agar kekuatan destruktif yang sudah disiapkan untuk Iran ditahan. Namun syarat pembukaan Selat Hormuz menjadi penentu utama apakah jeda ini benar-benar menurunkan risiko energi global atau hanya menundanya.
Di sisi lain, Iran juga mengklaim kemenangan. Otoritas Iran bahkan menyatakan militernya akan mengatur lalu lintas melalui Selat Hormuz, sebuah posisi yang bisa memberi Iran pengaruh ekonomi dan geopolitik yang sangat besar. Artinya, meski pasar sudah bergerak seolah ketegangan mereda, realitas di lapangan masih jauh dari benar-benar sederhana.
Pasar Mungkin Sedang Merayakan Relief, Bukan Kepastian
Inilah yang membuat reli saham dan kejatuhan minyak belum tentu berarti risiko sudah benar-benar hilang. Gencatan senjata ini bersifat sementara, hanya dua minggu, dan masih sangat tergantung pada proses negosiasi lanjutan.
Sebelum pengumuman ini, Trump terus menekan Iran dengan ultimatum yang bernada sangat keras, termasuk ancaman penghancuran infrastruktur vital.
Sementara itu, laporan sebelumnya menyebut Iran sempat menarik diri dari pembicaraan negosiasi dan tidak bersedia membahas gencatan senjata sementara. Iran disebut hanya menginginkan penghentian perang secara penuh, kompensasi atas kerusakan, dan syarat lain yang cukup berat. Karena itu, pasar saat ini sebenarnya sedang merespons perubahan nada yang sangat mendadak.
Kondisi seperti ini biasanya melahirkan apa yang dikenal sebagai relied rally. Pasar naik bukan karena semua masalah selesai, tetapi karena skenario terburuk untuk sementara tertunda.
Arah Selanjutnya Akan Ditentukan Dua Minggu ke Depan
Untuk saat ini, fokus investor hampir pasti akan tertuju pada satu hal: apakah Selat Hormuz benar-benar dibuka kembali dan apakah negosiasi dua minggu ini menghasilkan kesepakatan yang lebih permanen.
Jika jalur energi itu kembali beroperasi normal dan pembicaraan berkembang positif, harga minyak bisa melanjutkan koreksi dan pasar saham berpotensi mempertahankan momentumnya. Namun jika implementasi di lapangan tidak berjalan mulus, atau konflik kembali memanas setelah masa jeda berakhir, volatilitas bisa kembali melonjak dengan cepat.
Mau mulai investasi saham AS, kripto, dan emas digital? Kamu bisa mulai dengan mudah lewat Nanovest, semua dalam satu aplikasi.
Dapatkan berbagai update pasar, insight terbaru, serta panduan investasi lainnya di halaman News dan Artikel Tips Nanovest.






