Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus level US$110 per barel untuk pertama kalinya sejak awal invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Lonjakan ini menandai salah satu reli minyak tercepat dalam beberapa dekade terakhir, bahkan disebut sebagai kenaikan tercepat sejak era 1980-an.
Kontrak berjangka untuk minyak mentah Brent sebagai acuan global serta minyak West Texas Intermediate (WTI) sebagai acuan Amerika Serikat melonjak lebih dari 25% dalam perdagangan semalam pada Minggu malam waktu AS. Kenaikan tersebut mendorong harga kedua jenis minyak tersebut melampaui US$110 per barel. Sejak konflik terbaru di Timur Tengah dimulai, harga Brent tercatat telah naik lebih dari 50%, sementara WTI melonjak sekitar 60%.
Lonjakan harga energi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan memicu serangkaian balasan militer dari pihak Iran.
Situasi tersebut memicu gangguan besar terhadap jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz. Jalur laut strategis ini merupakan salah satu rute perdagangan energi terpenting di dunia, karena setiap harinya sekitar 20 juta barel minyak mentah atau hampir seperlima pasokan minyak yang diperdagangkan melalui laut melewati wilayah tersebut. Namun akibat konflik, lalu lintas kapal tanker minyak di selat ini hampir sepenuhnya terhenti.
Data menunjukkan bahwa sekitar 16 juta barel minyak per hari kini terjebak di wilayah Teluk Persia dan tidak dapat mengalir ke pasar global. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius mengenai ketersediaan pasokan energi dunia.
Para analis memperingatkan bahwa jika Selat Hormuz tetap tertutup selama beberapa minggu, dampaknya bisa sangat besar terhadap harga minyak global. Beberapa proyeksi bahkan memperkirakan harga minyak mentah berpotensi melonjak hingga US$150 per barel apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama.
Konflik tersebut juga semakin meluas dan menyasar berbagai infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah. Sejumlah fasilitas penting dilaporkan mengalami serangan, termasuk kilang minyak di Bahrain dan Arab Saudi serta kompleks gas alam cair di Qatar. Serangan terhadap kapal tanker di Teluk Persia juga meningkatkan risiko terhadap keamanan jalur energi internasional.
Akibat terbatasnya jalur distribusi, beberapa negara produsen mulai mengurangi produksi minyak mereka. Irak dilaporkan telah memangkas produksi hingga sekitar 60%, sementara Kuwait juga mulai melakukan penghentian produksi secara bertahap. Jika situasi ini terus berlanjut, pengurangan produksi global dapat mencapai jutaan barel per hari dalam waktu kurang dari tiga minggu.
Lonjakan harga minyak ini tidak hanya berdampak pada pasar energi, tetapi juga mulai dirasakan oleh konsumen. Di Amerika Serikat, harga bensin rata-rata nasional meningkat sekitar 15% hanya dalam satu minggu.
Para ekonom memperingatkan bahwa kenaikan harga energi yang berkepanjangan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global. Selain itu, inflasi juga dapat meningkat karena biaya energi yang lebih tinggi akan mempengaruhi berbagai sektor ekonomi di seluruh dunia.






