Saham Tesla, Inc. (NASDAQ: TSLA) kembali menjadi sorotan pasar global, bukan hanya karena angka penjualan mobil listriknya, tetapi juga karena transformasi besar yang sedang diupayakan perusahaan: beralih dari produsen kendaraan listrik menjadi platform kecerdasan buatan (AI) berbasis dunia fisik atau physical AI. Di tengah data pengiriman yang melemah, perdebatan di Wall Street justru semakin tajam mengenai arah masa depan raksasa otomotif tersebut.
Pada 12 Februari, analis Tigress Financial Partners, Ivan Feinseth, kembali melanjutkan cakupan terhadap Tesla dengan rekomendasi “Buy” dan target harga ambisius di level US$550. Optimisme ini didasarkan pada keyakinan bahwa Tesla tengah membangun mesin pertumbuhan baru berbasis AI yang berlapis dan berjangka panjang. Namun, hanya sehari berselang, Wells Fargo mempertahankan rating “Underweight” untuk saham TSLA, mengutip hasil pengecekan data yang menunjukkan angka pengiriman kendaraan masih lemah di sejumlah pasar utama.
Data Januari menunjukkan pengiriman Tesla di empat pasar besar yang dipantau turun sekitar 18% secara tahunan dan anjlok 59% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pelemahan berlanjut di kawasan Eropa, sementara pengiriman domestik di China tercatat berada pada level terendah sejak November 2022. Di sisi lain, ekspor dari China justru mencapai level tertinggi sejak Oktober 2022. Gambaran ini menegaskan satu hal: permintaan jangka pendek masih menjadi tantangan serius.
Bagi investor yang memandang Tesla semata sebagai produsen kendaraan listrik, data tersebut tentu menjadi alarm. Penjualan mobil selama ini merupakan tulang punggung pendapatan perusahaan. Ketika volume terkoreksi, valuasi premium yang selama ini melekat pada TSLA pun mulai dipertanyakan.
Namun, narasi yang kini dibangun manajemen dan sebagian analis berbeda. Tesla tidak lagi ingin dinilai hanya sebagai perusahaan otomotif. Fokus strategisnya bergeser pada pengembangan ekosistem physical AI yang mencakup teknologi Full Self-Driving (FSD), robotaxi, serta robot humanoid. Strategi ini diyakini mampu menciptakan siklus pertumbuhan baru yang tidak sepenuhnya bergantung pada jumlah unit kendaraan yang terjual.
FSD dan robotaxi menjadi inti dari transformasi tersebut. Jika teknologi otonom ini mencapai skala komersial penuh, Tesla berpotensi mengubah model bisnisnya dari penjualan kendaraan satu kali menjadi platform berbasis perangkat lunak dengan pendapatan berulang dan margin yang lebih tinggi. Kendaraan tidak lagi sekadar produk akhir, melainkan pintu masuk menuju layanan mobilitas berbasis AI. Dalam skenario jangka panjang, jaringan robotaxi bahkan dapat menghadirkan model mobility-as-a-service yang membuka sumber pendapatan baru.
Langkah ini, jika berhasil, berpotensi memperbaiki profil keuangan Tesla secara signifikan, mulai dari tren kinerja bisnis, profit ekonomi, hingga tingkat pengembalian modal. Namun, risiko tetap membayangi, termasuk tantangan regulasi, kesiapan teknologi, dan tingkat adopsi pasar terhadap kendaraan otonom penuh.
Selain AI dan otonomi, Tesla juga menyiapkan katalis lain. Program Tesla Semi diproyeksikan memasuki tahun pertama produksi massal berskala tinggi pada 2026. Segmen truk listrik komersial ini dinilai memiliki potensi pasar yang besar, terutama jika adopsi kendaraan ramah lingkungan di sektor logistik terus meningkat. Di sisi lain, bisnis energi dan penyimpanan Tesla turut memperkuat fondasi investasi perusahaan. Segmen ini kerap dipandang memiliki kualitas pendapatan yang lebih stabil dibandingkan dengan otomotif, sehingga menjadi penyeimbang dalam siklus bisnis.
Perdebatan pun mengerucut pada satu pertanyaan fundamental: apakah Tesla layak dinilai sebagai perusahaan otomotif yang tengah menghadapi tekanan permintaan, atau sebagai perusahaan AI dengan peluang pertumbuhan jangka panjang yang signifikan? Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat menentukan bagaimana investor memandang valuasi TSLA saat ini.
Di tengah volatilitas pasar dan ekspektasi tinggi terhadap saham-saham berbasis AI, Tesla berada di persimpangan penting. Tekanan jangka pendek dari sisi pengiriman kendaraan kontras dengan ambisi jangka panjang untuk membangun platform AI fisik berskala global. Bagi investor, keputusan tidak lagi sesederhana melihat angka penjualan kuartalan, tetapi juga menimbang sejauh mana transformasi AI ini dapat benar-benar terealisasi dan menghasilkan arus kas berkelanjutan.
Tesla kini bukan hanya soal mobil listrik. Ia adalah pertaruhan besar terhadap masa depan AI di dunia nyata. Dan seperti setiap pertaruhan besar di pasar modal, imbal hasil tinggi selalu datang beriringan dengan risiko yang tidak kecil.






