Target (TGT) kembali menjadi sorotan setelah mengumumkan rencana pemangkasan tenaga kerja sebagai bagian dari restrukturisasi organisasi di bawah kepemimpinan CEO barunya, Michael Fiddelke. Perusahaan ritel besar asal Amerika Serikat tersebut berencana menghapus sekitar 500 posisi dalam waktu dekat, sebuah langkah yang disebut sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat pertumbuhan bisnis sekaligus meningkatkan kualitas pengalaman pelanggan.
Keputusan ini disampaikan melalui memo internal kepada karyawan yang dikeluarkan oleh jajaran eksekutif operasional perusahaan. Manajemen menegaskan bahwa restrukturisasi dilakukan untuk menyederhanakan struktur organisasi serta meningkatkan efisiensi operasional di berbagai lini. Salah satu fokus utamanya adalah mengoptimalkan model operasional di tingkat lapangan agar lebih terstandarisasi dan tidak terlalu kompleks.
Dalam implementasinya, Target akan melakukan konsolidasi distrik toko—sebuah langkah yang berpotensi mengurangi peran manajerial yang dinilai tumpang tindih. Dari total 500 posisi yang terdampak, sekitar 100 berasal dari level distrik toko. Sementara itu, sekitar 400 posisi lainnya berasal dari jaringan rantai pasok dan logistik perusahaan, sektor yang selama ini menjadi tulang punggung distribusi produk Target di seluruh wilayah operasionalnya.
Langkah efisiensi ini bukanlah yang pertama dilakukan perusahaan. Pada akhir tahun sebelumnya, Target juga telah mengumumkan rencana pemangkasan sekitar 1.800 posisi korporasi di Amerika Serikat. Jumlah tersebut merepresentasikan sekitar 8% dari total tenaga kerja korporat perusahaan di negara tersebut. Pemotongan kala itu mencakup sekitar 1.000 posisi aktif serta sekitar 800 posisi terbuka yang sebelumnya sedang dalam proses perekrutan.
Meski terdengar agresif, Target menegaskan bahwa penghematan biaya dari restrukturisasi ini akan dialihkan untuk memperkuat operasional toko fisik—kanal penjualan utama perusahaan. Dana yang dihemat rencananya akan digunakan untuk menambah jam kerja karyawan toko serta memperluas program pelatihan tenaga kerja. Perusahaan berharap investasi ini dapat meningkatkan kualitas layanan di tingkat gerai dan pada akhirnya memperkuat loyalitas pelanggan.
Namun demikian, manajemen menegaskan bahwa alokasi dana tersebut tidak akan berdampak pada kenaikan upah. Saat ini, pekerja toko Target menerima bayaran per jam yang berkisar antara US$15 hingga US$24, tergantung pada lokasi dan kebijakan regional masing-masing.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati bagaimana dampak restrukturisasi ini terhadap kinerja finansial Target. Perusahaan dijadwalkan merilis laporan keuangan kuartal keempat sekaligus hasil kinerja tahunan pada awal Maret. Laporan tersebut diperkirakan menjadi indikator penting untuk menilai apakah strategi efisiensi dan fokus pada pengalaman pelanggan mampu menopang pertumbuhan perusahaan di tengah dinamika industri ritel yang semakin kompetitif.






