Pasar saham kembali dikejutkan oleh satu nama yang mungkin belum terlalu akrab di telinga investor ritel beberapa tahun lalu: CoreWeave. Pada perdagangan awal pekan, saham perusahaan AI cloud tersebut melonjak hampir 6%, dipicu oleh pengumuman investasi tambahan senilai US$2 miliar dari Nvidia, raksasa chip AI dunia.
Lonjakan ini bukan sekadar euforia sesaat. Dalam sebulan terakhir, saham CoreWeave telah menguat hampir 16%, dan secara tahunan mencatat kenaikan mencengangkan lebih dari 138%. Angka-angka ini mencerminkan satu hal: AI bukan lagi wacana masa depan, tetapi medan pertempuran modal terbesar saat ini.
Investasi Tembus US$5,3 Miliar
Investasi terbaru ini menambah daftar panjang komitmen Nvidia terhadap CoreWeave. Sebelumnya, Nvidia telah memiliki saham senilai US$3,3 miliar di perusahaan tersebut. Dengan tambahan dana segar ini, hubungan keduanya semakin menyerupai simbiosis strategis Nvidia sebagai pemasok teknologi inti, CoreWeave sebagai operator infrastruktur AI generasi baru.
Dalam pernyataan resminya, Nvidia menyebut dana ini akan digunakan untuk membangun lebih dari 5 gigawatt kapasitas “AI factory” hingga 2030. Istilah AI factory sendiri bukan sekadar pusat data biasa, melainkan ekosistem komputasi berskala masif yang dirancang khusus untuk melatih dan menjalankan model kecerdasan buatan paling canggih.
CEO Nvidia, Jensen Huang, menyebut fase ini sebagai:
“buildout infrastruktur terbesar dalam sejarah manusia.”
Pernyataan yang terdengar hiperbolik namun jika melihat derasnya arus modal ke sektor AI, klaim tersebut tampak semakin masuk akal.
Pergeseran Pusat Kekuatan AI
Selama satu dekade terakhir, dominasi cloud berada di tangan hyperscaler seperti Amazon AWS, Microsoft Azure, dan Google Cloud. Namun, ledakan permintaan chip AI Nvidia menciptakan bottleneck besar. Tidak semua perusahaan bisa mendapatkan akses cepat ke GPU terbaru.
Di sinilah neocloud seperti CoreWeave masuk. Fokus mereka lebih sempit, lebih agresif, dan sepenuhnya AI-native. CoreWeave kini menjadi salah satu pilihan utama perusahaan teknologi besar untuk mengakses sistem AI Nvidia.
Faktanya, Microsoft menyumbang porsi terbesar pendapatan CoreWeave, disusul Meta dan Alphabet. Artinya, raksasa teknologi pun mulai bergantung pada pemain yang lebih kecil namun lebih gesit.
Investasi Sirkular dan Isu Bubble AI
Meski pasar menyambut positif lonjakan saham CoreWeave, tidak semua pihak bersorak. Wall Street mulai mempertanyakan pola investasi sirkular Nvidia di mana perusahaan tidak hanya menjual chip, tetapi juga menanam modal di klien-kliennya sendiri.
Strategi ini memang mempercepat adopsi teknologi Nvidia, namun juga menimbulkan kekhawatiran klasik: apakah ini fondasi pertumbuhan berkelanjutan, atau awal dari gelembung AI berikutnya?
Istilah AI bubble kini semakin sering muncul di laporan analis, terutama ketika valuasi saham AI melesat jauh lebih cepat dibanding fundamental jangka pendeknya.
Saham Nvidia Turun Tipis
Menariknya, di hari yang sama ketika CoreWeave melesat, saham Nvidia justru turun tipis. Secara tahunan, Nvidia masih naik sekitar 27%, namun pasar tengah dibayangi ketidakpastian geopolitik dan masa depan bisnis Nvidia di China.
Investor global tampak mulai lebih selektif, memindahkan dana dari aset berisiko tinggi sebuah pengingat bahwa euforia AI tidak kebal terhadap realitas politik dan ekonomi global.
CoreWeave Simbol Era Baru, Tapi Risiko Tetap Nyata
Lonjakan saham CoreWeave bukan sekadar reaksi terhadap investasi Nvidia. Ia mencerminkan pergeseran besar dalam lanskap infrastruktur teknologi global. AI kini membutuhkan pemain-pemain baru yang lebih fokus, lebih cepat, dan lebih berani.
Namun, bagi investor, pertanyaan kuncinya tetap sama: Apakah ini awal dari dominasi jangka panjang, atau puncak euforia sebelum koreksi?
Di tengah janji AI yang mengubah dunia, satu hal patut diingat pasar selalu menghargai inovasi, tetapi menghukum ekspektasi berlebihan.






