Highlights
- Saham software terus turun di awal tahun ini
- AI justru dianggap bisa mengganggu bisnis software lama
- Walau harganya sudah murah, investor belum yakin kapan akan pulih
Harapan bahwa saham-saham software akan bangkit kembali ternyata belum terwujud. Justru sebaliknya, sektor ini kembali melemah karena muncul kekhawatiran baru soal perkembangan AI yang sangat cepat.
Banyak investor mulai bertanya-tanya: “Kalau AI bisa melakukan banyak hal sendiri, apakah software lama masih dibutuhkan?”
Kenapa AI Jadi Masalah untuk Saham Software?
AI generatif adalah teknologi yang bisa membuat teks, gambar, kode, dan analisis sendiri. Artinya, beberapa fungsi yang dulu hanya bisa dilakukan oleh software tertentu, sekarang bisa dikerjakan langsung oleh AI.
Kekhawatiran ini makin besar setelah rilis terbaru dari startup AI bernama Anthropic. Investor takut produk AI seperti ini bisa mengurangi nilai software tradisional.
Dampaknya langsung terasa di pasar:
- Saham Intuit ($INTU) turun tajam
- Adobe ($ADBE) dan Salesforce ($CRM) juga turun lebih dari 10%
Kinerja Saham Software Memang Sedang Lemah
Indeks Morgan Stanley yang melacak perusahaan software berbasis langganan (sering disebut SaaS) sudah turun sekitar 15% sejak awal tahun. Ini menjadi awal tahun terburuk sejak 2022.
Investor mulai meragukan keunggulan utama bisnis software, yang selama ini dikenal karena:
- pendapatan rutin dari langganan
- margin keuntungan yang tinggi
Sekarang, semua itu terasa kurang pasti karena AI bisa mengubah cara orang memakai software.
Tertinggal Jauh dari Sektor Teknologi Lain
Yang membuat investor makin ragu, saham software tertinggal jauh dibanding sektor teknologi lain. Saat indeks teknologi besar seperti Nasdaq 100 hampir mencetak rekor tertinggi, banyak saham software justru berada di level terendah dalam beberapa tahun.
Salah satu alasannya sederhana: Perusahaan software belum bisa menunjukkan bahwa AI benar-benar menaikkan pendapatan mereka.
Sebaliknya:
- Perusahaan chip justru menikmati lonjakan permintaan
- Banyak uang besar dialirkan ke infrastruktur AI, seperti server dan chip
Karena itu, pasar saat ini lebih menyukai pembuat “alat AI”, bukan pengguna AI yang belum jelas hasilnya.
Harganya Sudah Murah, Tapi Kenapa Belum Naik?
Secara valuasi (harga dibanding keuntungan), saham software sebenarnya sudah sangat murah.
Indeks software Morgan Stanley kini diperdagangkan di sekitar 18 kali laba ke depan.
Artinya Investor membayar 18 rupiah untuk setiap 1 rupiah keuntungan yang diperkirakan tahun depan. Ini jauh lebih murah dibanding rata-rata historisnya.
Beberapa analis melihat ini sebagai peluang. Namun masalahnya, pasar masih bertanya:
- AI ini akan membantu atau justru merusak bisnis software?
- Kapan AI benar-benar menghasilkan uang, bukan cuma cerita?
Tanpa jawaban jelas, investor cenderung menunggu.
Key Takeaway:
Penurunan saham software sekarang bukan cuma karena pasar lagi “jelek sementara”, tapi karena banyak orang khawatir AI bisa mengubah cara bisnis software cari uang. Walau harganya terlihat murah, belum ada pemicu kuat dalam waktu dekat yang bisa membuat sahamnya cepat naik lagi, apalagi perusahaan software juga belum bisa membuktikan AI sudah benar-benar menambah pendapatan. Saat ini pasar lebih suka sektor yang sudah jelas kecipratan uang AI, seperti perusahaan chip.
Saham software masih bisa menarik untuk jangka menengah–panjang, tapi lebih cocok untuk investor yang tahan naik-turun dan memilih perusahaan yang benar-benar bisa menunjukkan AI mereka menghasilkan duit.
Saham Software Masih Tertekan Isu AI, Meski Valuasi Sudah Murah
Highlights
- Saham software terus turun di awal tahun ini
- AI justru dianggap bisa mengganggu bisnis software lama
- Walau harganya sudah murah, investor belum yakin kapan akan pulih
Harapan bahwa saham-saham software akan bangkit kembali ternyata belum terwujud. Justru sebaliknya, sektor ini kembali melemah karena muncul kekhawatiran baru soal perkembangan AI yang sangat cepat.
Banyak investor mulai bertanya-tanya:
“Kalau AI bisa melakukan banyak hal sendiri, apakah software lama masih dibutuhkan?”
Kenapa AI Jadi Masalah untuk Saham Software?
AI generatif adalah teknologi yang bisa membuat teks, gambar, kode, dan analisis sendiri. Artinya, beberapa fungsi yang dulu hanya bisa dilakukan oleh software tertentu, sekarang bisa dikerjakan langsung oleh AI.
Kekhawatiran ini makin besar setelah rilis terbaru dari startup AI bernama Anthropic. Investor takut produk AI seperti ini bisa mengurangi nilai software tradisional.
Dampaknya langsung terasa di pasar:
- Saham Intuit ($INTU) turun tajam
- Adobe ($ADBE) dan Salesforce ($CRM) juga turun lebih dari 10%
Kinerja Saham Software Memang Sedang Lemah
Indeks Morgan Stanley yang melacak perusahaan software berbasis langganan (sering disebut SaaS) sudah turun sekitar 15% sejak awal tahun. Ini menjadi awal tahun terburuk sejak 2022.
Investor mulai meragukan keunggulan utama bisnis software, yang selama ini dikenal karena:
- pendapatan rutin dari langganan
- margin keuntungan yang tinggi
Sekarang, semua itu terasa kurang pasti karena AI bisa mengubah cara orang memakai software.
Tertinggal Jauh dari Sektor Teknologi Lain
Yang membuat investor makin ragu, saham software tertinggal jauh dibanding sektor teknologi lain. Saat indeks teknologi besar seperti Nasdaq 100 hampir mencetak rekor tertinggi, banyak saham software justru berada di level terendah dalam beberapa tahun.
Salah satu alasannya sederhana: Perusahaan software belum bisa menunjukkan bahwa AI benar-benar menaikkan pendapatan mereka.
Sebaliknya:
- Perusahaan chip justru menikmati lonjakan permintaan
- Banyak uang besar dialirkan ke infrastruktur AI, seperti server dan chip
Karena itu, pasar saat ini lebih menyukai pembuat “alat AI”, bukan pengguna AI yang belum jelas hasilnya.
Harganya Sudah Murah, Tapi Kenapa Belum Naik?
Secara valuasi (harga dibanding keuntungan), saham software sebenarnya sudah sangat murah.
Indeks software Morgan Stanley kini diperdagangkan di sekitar 18 kali laba ke depan.
Artinya Investor membayar 18 rupiah untuk setiap 1 rupiah keuntungan yang diperkirakan tahun depan. Ini jauh lebih murah dibanding rata-rata historisnya.
Beberapa analis melihat ini sebagai peluang. Namun masalahnya, pasar masih bertanya:
- AI ini akan membantu atau justru merusak bisnis software?
- Kapan AI benar-benar menghasilkan uang, bukan cuma cerita?
Tanpa jawaban jelas, investor cenderung menunggu.
Key Takeaway:
Penurunan saham software sekarang bukan cuma karena pasar lagi “jelek sementara”, tapi karena banyak orang khawatir AI bisa mengubah cara bisnis software cari uang. Walau harganya terlihat murah, belum ada pemicu kuat dalam waktu dekat yang bisa membuat sahamnya cepat naik lagi, apalagi perusahaan software juga belum bisa membuktikan AI sudah benar-benar menambah pendapatan.
Saat ini pasar lebih suka sektor yang sudah jelas kecipratan uang AI, seperti perusahaan chip. Saham software masih bisa menarik untuk jangka menengah–panjang, tapi lebih cocok untuk investor yang tahan naik-turun dan memilih perusahaan yang benar-benar bisa menunjukkan AI mereka menghasilkan duit.






