Saham Nebius Group (NASDAQ: NBIS) menjadi salah satu sorotan utama di pasar modal global sepanjang 2025 setelah mencatatkan lonjakan harga lebih dari 200 persen dalam satu tahun. Kenaikan tajam ini terjadi seiring meningkatnya minat investor terhadap bisnis inti perusahaan di sektor infrastruktur cloud berbasis kecerdasan buatan (AI), yang dinilai berada di posisi strategis di tengah ledakan kebutuhan komputasi global untuk pengembangan AI generatif dan large language model.
Sepanjang 2025, Nebius secara agresif memperluas kapasitas data center AI miliknya dan berhasil mengamankan dua kesepakatan besar dengan perusahaan hyperscaler global. Langkah ini membuat hampir seluruh kapasitas data center yang tersedia terserap pasar. Berdasarkan data S&P Global Market Intelligence, respons positif investor terhadap ekspansi tersebut mendorong saham Nebius melonjak hingga 202,2 persen secara tahunan, menjadikannya salah satu saham AI dengan kinerja terbaik di bursa Amerika Serikat.
Optimisme pasar semakin menguat setelah manajemen Nebius menyampaikan proyeksi pertumbuhan pendapatan yang terbilang ambisius. Meski pendapatan kuartal kedua 2025 baru mencapai sekitar US$105 juta, perusahaan menaikkan panduan kinerja dengan menargetkan annual revenue run rate hingga US$1,1 miliar pada akhir 2025. Proyeksi ini mencerminkan akselerasi bisnis yang sangat cepat, mengingat skala pendapatan perusahaan masih relatif kecil pada awal tahun.
Kepercayaan diri manajemen Nebius didukung oleh kontrak jangka panjang bernilai besar dengan raksasa teknologi global. Pada September 2025, perusahaan mengumumkan kesepakatan dengan Microsoft untuk penyediaan infrastruktur AI data center dengan nilai hingga US$19,4 miliar. Nilai kontrak ini bahkan melampaui kapitalisasi pasar Nebius saat pengumuman dilakukan, sekaligus menjadi sinyal kuat tingginya permintaan terhadap layanan AI cloud khusus yang ditawarkan perusahaan.
Tidak lama berselang, pada November 2025, Nebius kembali mengumumkan kerja sama strategis dengan Meta Platforms. Dalam kesepakatan tersebut, Nebius akan memasok infrastruktur AI untuk Meta selama lima tahun dengan nilai sekitar US$3 miliar. Dua kontrak besar ini menjadi fondasi utama lonjakan ekspektasi pendapatan Nebius, yang kini diproyeksikan meningkat dari sekitar US$1 miliar menjadi kisaran US$7 miliar hingga US$9 miliar pada 2026.
Di luar bisnis inti infrastruktur AI cloud, Nebius juga mengembangkan sejumlah lini usaha pendukung. Perusahaan memiliki Toloka yang bergerak di bidang kebutuhan data AI seperti pelatihan dan evaluasi model, unit teknologi pendidikan, serta Avride yang fokus pada pengembangan kendaraan otonom dan robot pengiriman. Meski kontribusi unit-unit tersebut belum signifikan terhadap pendapatan, kehadirannya memberikan opsi pertumbuhan tambahan di masa depan, khususnya dari segmen kendaraan otonom yang dinilai berpotensi besar namun masih berisiko tinggi.
Dari sisi valuasi, saham Nebius saat ini diperdagangkan di kisaran sedikit di atas tiga kali proyeksi penjualan tahunan 2026. Angka ini dinilai relatif moderat jika dibandingkan dengan banyak saham AI lain, namun mencerminkan bahwa pasar telah memasukkan ekspektasi pertumbuhan yang sangat agresif. Manajemen sendiri menyebut target annual revenue run rate sekitar US$8 miliar pada akhir 2026, dengan catatan eksekusi proyek harus berjalan lancar dan permintaan infrastruktur AI global tetap kuat.
Meski prospeknya menjanjikan, investor tetap dihadapkan pada sejumlah risiko. Keterlambatan pembangunan data center, perubahan belanja dari perusahaan hyperscaler, hingga potensi tekanan margin akibat persaingan ketat dapat menjadi faktor penghambat kinerja saham. Dengan ekspektasi yang sudah tinggi, setiap gangguan kecil berpotensi memicu volatilitas signifikan pada harga saham Nebius.
Ke depan, tahun 2026 akan menjadi periode krusial bagi Nebius untuk membuktikan bahwa lonjakan saham di 2025 bukan sekadar euforia sementara. Keberhasilan perusahaan mengeksekusi kontrak besar dan mengonversi permintaan AI global menjadi pendapatan berkelanjutan akan menentukan apakah Nebius mampu mempertahankan statusnya sebagai salah satu pemain kunci dalam ekosistem infrastruktur AI dunia.Â






