Harga emas global kembali mencetak rekor tertinggi di tengah meningkatnya ketidakpastian politik dan geopolitik global. Lonjakan ini terjadi setelah munculnya ancaman tuntutan pidana terhadap Federal Reserve oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat, yang memicu kekhawatiran pasar terhadap independensi bank sentral AS. Di saat bersamaan, eskalasi konflik dan protes mematikan di Iran turut memperkuat sentimen risk-off di pasar keuangan global.
Pada awal pekan, harga emas melonjak mendekati level US$4.600 per ons, menandai rekor tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan ini sejalan dengan pergerakan harga perak yang juga mendekati puncak historisnya. Pernyataan Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, semakin memperkuat perhatian pasar setelah ia menegaskan bahwa ancaman hukum tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari tekanan politik yang berkelanjutan terhadap kebijakan moneter bank sentral.
Tekanan terhadap The Fed bukanlah hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, serangan politik terhadap kebijakan suku bunga dinilai telah melemahkan kepercayaan global terhadap dolar AS. Kondisi ini membuat investor semakin agresif mencari aset lindung nilai yang dinilai lebih stabil, seperti emas dan logam mulia lainnya.
Dari sisi geopolitik, situasi di Timur Tengah turut memperkeruh sentimen pasar. Protes besar yang berujung kekerasan di Iran meningkatkan kekhawatiran akan potensi perubahan rezim, sebuah skenario yang dapat memicu ketidakstabilan kawasan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga kembali melontarkan berbagai pernyataan kontroversial terkait Iran, NATO, hingga isu geopolitik lainnya, yang semakin menambah ketidakpastian global.
Kombinasi risiko politik, ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian kebijakan moneter menciptakan lingkungan yang sangat mendukung bagi aset safe haven. Sepanjang tahun lalu, emas telah mencatatkan performa luar biasa berkat turunnya suku bunga global, meningkatnya konflik internasional, dan menurunnya kepercayaan terhadap mata uang fiat utama. Banyak manajer investasi global memilih untuk mempertahankan posisi emas mereka, menunjukkan keyakinan kuat terhadap prospek jangka panjang logam mulia ini.
Perak juga menunjukkan performa impresif. Selain berfungsi sebagai aset lindung nilai, perak mendapat dorongan tambahan dari permintaan industri yang tinggi. Ketatnya pasokan fisik, ditambah lonjakan minat investasi, membuat pasar perak diperkirakan akan tetap defisit hingga beberapa tahun ke depan.
Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis baru-baru ini turut menjaga ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga lanjutan. Lingkungan suku bunga rendah menjadi katalis penting bagi kenaikan harga emas dan perak, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.
Dengan berbagai faktor risiko yang masih membayangi pasar global, pergerakan harga emas dan perak ke depan diperkirakan akan tetap sensitif terhadap perkembangan politik, geopolitik, serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat.






