Lonjakan 1.200% Tak Membuat Nvidia Mahal, Justru Sebaliknya
Selama tiga tahun terakhir, saham Nvidia (NASDAQ: NVDA) telah melonjak lebih dari 1.200%, menjadikannya perusahaan paling bernilai di dunia dengan kapitalisasi pasar mencapai US$4,63 triliun. Namun dibalik angka yang tampak “terlalu mahal untuk disentuh”, muncul fakta yang justru berlawanan dengan persepsi pasar: saham Nvidia saat ini lebih murah dibanding Intel dan AMD jika dilihat dari sisi valuasi fundamental.
Secara forward price-to-earnings (P/E), Nvidia hanya diperdagangkan di kisaran 25 kali laba ke depan. Bandingkan dengan Intel (61x) dan AMD (33x) dua perusahaan dengan margin lebih rendah dan pertumbuhan yang secara historis tertinggal jauh. Ini menimbulkan satu pertanyaan besar di Wall Street: apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan NVDA?
Wall Street Mulai “Kebal” terhadap Kejutan Nvidia
Di fase awal ledakan AI pada 2023, Nvidia menjadi pusat euforia pasar. Laporan keuangan perusahaan ini berulang kali mengalahkan ekspektasi analis dengan selisih besar, memicu lonjakan harga saham yang nyaris vertikal. Namun, justru di sinilah paradoks terjadi.
Kinerja yang terlalu konsisten luar biasa membuat pasar berhenti terkejut. Kenaikan laba yang dulu dianggap spektakuler kini diperlakukan sebagai “standar baru”. Alhasil, harga saham Nvidia tidak lagi melonjak liar, melainkan bergerak lebih rasional mengikuti pertumbuhan laba. Inilah yang menyebabkan valuasi NVDA menyusut secara relatif, meski bisnisnya justru makin kuat.
Sebagian investor bahkan masih dibayangi trauma sejarah, membandingkan Nvidia dengan Cisco pasca-dotcom bubble. Namun perbandingan ini semakin rapuh ketika melihat realitas hari ini: Nvidia bukan sekadar menjual mimpi, tetapi menjual chip dengan margin tinggi dan permintaan nyata.
Mesin Uang Nvidia Masih Panas
Salah satu data paling krusial dan sering diabaikan investor ritel adalah backlog Nvidia yang diklaim mencapai US$275 miliar untuk 2026. Angka ini berpotensi terus membengkak seiring meningkatnya permintaan dari hyperscaler global, bahkan untuk chip generasi lama yang kini kembali digunakan untuk kebutuhan inference AI.
Konsensus analis memperkirakan pendapatan Nvidia akan mencapai US$319 miliar pada FY 2027, dengan estimasi tertinggi menembus US$412,5 miliar. Dengan margin bersih sekitar 55%, Nvidia berada di liga yang hampir tidak memiliki pembanding di industri semikonduktor.
Mengapa Investor Tetap Melirik AMD dan Intel?
Meski Nvidia menguasai lebih dari 90% pasar GPU AI, Wall Street tetap menyukai narasi “underdog”. AMD dan Intel dipandang sebagai opsi spekulatif dengan potensi upside besar jika mampu merebut bahkan 10% pangsa pasar GPU.
AMD kini bernilai sekitar US$350 miliar, sementara Intel di US$172 miliar. Secara teori, sedikit saja pergeseran pangsa pasar bisa menghasilkan return yang “parabolik”. Selain itu, tren AI ke depan diperkirakan akan lebih menekankan inference dan efisiensi biaya, area di mana AMD dan Intel masih memiliki ruang untuk mengejar.
Namun, potensi bukanlah kepastian. Dan di titik inilah Nvidia tetap unggul secara eksekusi.
Downside Kecil, Upside Masih Terbuka
Dalam skenario pesimistis, jika pendapatan Nvidia hanya mencapai US$226 miliar, dengan margin 55% dan valuasi 47x laba, kapitalisasi pasarnya masih sekitar US$5,84 triliun. Bahkan pada multiple 35x level saat aksi jual April nilai Nvidia tetap di kisaran US$4,35 triliun.
Skenario bearish menempatkan harga saham NVDA di sekitar US$178 pada 2026, penurunan yang relatif kecil. Sebaliknya, skenario bullish dengan pendapatan mendekati US$330 miliar dan valuasi 50x laba membuka potensi harga hingga US$370-an, sejalan dengan target tertinggi analis Wall Street.
Nvidia Tak Lagi Murah Secara Harga, Tapi Masih Murah Secara Logika
Nvidia mungkin telah kehilangan status sebagai “multibagger liar”, tetapi ia kini menjelma menjadi mesin laba raksasa dengan risiko yang lebih terukur. Ketika harga saham pesaing justru lebih mahal secara valuasi, NVDA berada di posisi unik: dominasi pasar, profit nyata, dan valuasi yang mulai rasional.
Bagi investor jangka menengah hingga panjang, pertanyaannya bukan lagi “apakah Nvidia sudah kemahalan?”, melainkan berapa mahal harga jika menunggu terlalu lama.






