Pasar teknologi kembali bergolak. Snowflake Inc. (SNOW), penyedia layanan data cloud yang kini agresif mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI), mencatat lonjakan harga saham hingga 14% dalam perdagangan premarket Kamis (29/8/2025).
Kenaikan tajam ini terjadi setelah perusahaan membukukan hasil kuartalan yang melampaui ekspektasi analis dan meningkatkan proyeksi pertumbuhan pendapatan tahun fiskal 2026.
Lompatan harga saham ini menambah reli Snowflake yang sebelumnya sudah naik 30% sepanjang 2025, menjadikannya salah satu pemain teknologi yang paling banyak disorot di tengah euforia pasar AI.
Kinerja Q2 2026: Lebih Tinggi dari Perkiraan Analis
Dalam laporan kuartal II tahun fiskal 2026, Snowflake membukukan:
- Earnings per Share (EPS) disesuaikan: $0,35 → jauh di atas perkiraan analis $0,27.
- Pendapatan total: $1,14 miliar → naik 32% year-on-year, melampaui estimasi $1,09 miliar.
- Pendapatan produk: $1,09 miliar → mengalahkan proyeksi analis.
Perusahaan juga mencatat Net Revenue Retention Rate (NRR) sebesar 125%, yang berarti pelanggan tidak hanya bertahan, tetapi juga meningkatkan belanja mereka atas layanan Snowflake.
Selain itu, jumlah pelanggan besar yang menyumbang pendapatan produk lebih dari $1 juta dalam 12 bulan terakhir melonjak menjadi 654 akun, naik dari 606 pada kuartal sebelumnya.
AI Jadi Penggerak Utama
CEO Snowflake, Sridhar Ramaswamy, menegaskan bahwa lonjakan performa ini tidak lepas dari penetrasi teknologi AI. Lebih dari 6.100 akun kini menggunakan layanan AI Snowflake setiap minggu, menandakan adopsi yang semakin meluas.
Menurut Ramaswamy, Snowflake memiliki “peluang yang sangat besar untuk memberdayakan setiap perusahaan dalam memaksimalkan potensi mereka melalui data dan AI.”
Pasar AI global sendiri tengah berkembang pesat. Menurut laporan PwC, AI diprediksi menyumbang lebih dari $15,7 triliun terhadap ekonomi global pada 2030. Lonjakan ini mendorong permintaan infrastruktur data cloud yang kuat, dan Snowflake berada di jalur yang tepat untuk mengambil bagian besar dari kue pasar tersebut.
Revisi Outlook: Lebih Optimistis
Snowflake kini memperkirakan pendapatan produk sepanjang tahun fiskal 2026 tumbuh 27% menjadi sekitar $4,40 miliar, dibanding proyeksi sebelumnya sebesar $4,33 miliar (pertumbuhan 25%).
Revisi ke atas ini memperlihatkan kepercayaan manajemen terhadap pipeline pelanggan baru dan momentum adopsi AI yang semakin kuat.
Snowflake dalam Peta Kompetisi AI & Cloud
Kinerja impresif Snowflake tak bisa dilepaskan dari posisinya di industri cloud yang sangat kompetitif. Rival besar seperti Amazon Web Services (AWS), Microsoft Azure, dan Google Cloud juga tengah memperkuat layanan AI mereka.
Namun, Snowflake berbeda dengan mengedepankan spesialisasi data cloud berbasis AI, yang memungkinkan integrasi lebih fleksibel dan skalabel bagi perusahaan-perusahaan yang mengandalkan data sebagai inti bisnis.
Hal ini membuatnya menjadi alternatif yang menarik, terutama bagi korporasi yang tidak ingin sepenuhnya bergantung pada raksasa teknologi.
Dampak bagi Investor
Lonjakan saham Snowflake sebesar 14% mencerminkan kepercayaan pasar bahwa AI bukan sekadar tren sesaat, melainkan pendorong pertumbuhan struktural jangka panjang.
Namun, investor tetap perlu mewaspadai beberapa faktor:
- Valuasi – Saham Snowflake sudah naik 30% tahun ini, menimbulkan pertanyaan apakah harga saat ini sudah terlalu mahal.
- Persaingan ketat – AWS, Azure, dan Google Cloud tidak tinggal diam.
- Ketergantungan pada tren AI – Jika hype AI melambat, kinerja perusahaan bisa terdampak signifikan.
Snowflake Menuju Gelombang Besar AI
Dengan hasil kuartalan yang lebih baik dari perkiraan, proyeksi pendapatan yang direvisi ke atas, dan adopsi AI yang semakin meluas, Snowflake menunjukkan dirinya sebagai salah satu pemain kunci dalam revolusi data cloud berbasis kecerdasan buatan.
Bagi investor, Snowflake adalah simbol bagaimana AI dapat mengubah wajah industri teknologi sekaligus menciptakan peluang luar biasa. Namun, euforia harus dibarengi kewaspadaankarena di balik lonjakan harga saham, kompetisi global semakin intens, dan pasar masih harus membuktikan apakah AI benar-benar dapat menjadi motor pertumbuhan jangka panjang.