SpaceX resmi memulai proses penawaran umum perdana saham (IPO), yang berpotensi menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah pasar modal. Perusahaan eksplorasi luar angkasa milik Elon Musk ini dilaporkan telah mengajukan dokumen IPO secara rahasia kepada Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC). Meski detail lengkap belum diungkap ke publik, sejumlah laporan menyebutkan bahwa SpaceX berpotensi menghimpun dana hingga US$75 miliar dari proses ini.
Valuasi SpaceX sendiri terus mengalami kenaikan signifikan. Terakhir, perusahaan ini diperkirakan bernilai sekitar US$1,25 triliun dan berpotensi meningkat hingga US$1,75 triliun menjelang IPO, menempatkannya sejajar dengan perusahaan teknologi besar seperti Tesla. Namun, keputusan final terkait valuasi dan jumlah saham yang ditawarkan baru akan ditentukan mendekati waktu pencatatan, yang ditargetkan berlangsung pada bulan Juni.
Dalam rencana IPO ini, SpaceX juga mempertimbangkan struktur saham dual-class, yang memungkinkan pihak internal seperti Elon Musk memiliki hak suara lebih besar dibandingkan investor publik. Selain itu, perusahaan disebut akan membuka peluang lebih luas bagi investor ritel untuk berpartisipasi, dengan porsi yang bisa mencapai lebih dari 20% dari total penawaran—lebih tinggi dibandingkan standar umum sekitar 10%.
Salah satu faktor utama yang mendorong tingginya valuasi SpaceX adalah Starlink, layanan internet berbasis satelit yang mulai beroperasi sejak 2019. Starlink menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan dan profit perusahaan, serta menunjukkan pertumbuhan yang kuat secara global. Hal ini menjadikan IPO SpaceX dinilai menarik bagi investor yang mencari eksposur pada sektor teknologi dan infrastruktur masa depan.
IPO ini juga memiliki keterkaitan erat dengan ambisi Elon Musk di bidang kecerdasan buatan dan teknologi luar angkasa. SpaceX berencana mengembangkan pusat data berbasis orbit, yang diyakini Musk dapat menghasilkan komputasi AI dengan biaya lebih efisien dibandingkan di Bumi. Untuk mendukung visi tersebut, SpaceX juga menjalin kerja sama dengan Tesla melalui proyek Terafab, yang berfokus pada produksi chip untuk berbagai kebutuhan, termasuk kendaraan otonom, robot humanoid, serta sistem satelit.
Menariknya, arah strategis SpaceX juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya fokus utama adalah kolonisasi Mars, kini perusahaan mulai mengalihkan perhatian ke misi bulan yang dianggap lebih realistis secara finansial dalam jangka pendek.
Dengan kepemilikan sekitar 42% saham sebelum IPO, Elon Musk berpotensi mendapatkan keuntungan besar dari penawaran ini. Bahkan, jika valuasi SpaceX mencapai sekitar US$1,6 triliun, Musk berpeluang menjadi individu pertama di dunia dengan kekayaan mencapai US$1 triliun.
Secara keseluruhan, IPO SpaceX menjadi momen penting yang tidak hanya berdampak pada pasar modal global, tetapi juga membuka babak baru dalam perkembangan industri teknologi, luar angkasa, dan kecerdasan buatan.






