Oracle Corporation (NYSE: ORCL) kembali mendapatkan dukungan kuat dari analis Wall Street seiring meningkatnya optimisme terhadap pertumbuhan bisnis cloud, adopsi kecerdasan buatan (AI), serta ekspansi pusat data yang agresif. Per 12 Januari 2026, lebih dari 70% analis memberikan rekomendasi bullish terhadap saham Oracle dengan target harga konsensus di level USD 291,34, yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 46,8% dari posisi saat ini. Sentimen positif ini menandai perubahan persepsi pasar terhadap Oracle, yang kini semakin dipandang sebagai pemain penting dalam infrastruktur pendukung AI global.
Dukungan analis tersebut semakin menguat setelah Goldman Sachs memulai liputan terhadap Oracle dengan rekomendasi “Buy” dan target harga USD 240. Dalam laporannya, Goldman Sachs menilai adopsi AI akan secara signifikan memperluas total addressable market industri software dalam satu dekade ke depan. Dalam konteks tersebut, Oracle dinilai memiliki posisi strategis untuk merebut pangsa pasar yang lebih besar di segmen infrastructure-as-a-service (IaaS), berkat skala cloud yang terus berkembang, hubungan jangka panjang dengan klien enterprise, serta perluasan jaringan data center di berbagai wilayah.
Sebelumnya, Oracle sempat menghadapi tekanan setelah sahamnya turun sekitar 41% dari level tertinggi pertengahan September. Penurunan ini dipicu oleh kekhawatiran investor terhadap prospek jangka pendek perusahaan, serta pergeseran fokus pasar ke saham-saham yang memiliki keterkaitan langsung dengan OpenAI dan ekosistem AI generatif. UBS, dalam pembaruan analisnya, menurunkan target harga Oracle dari USD 325 menjadi USD 280, namun tetap mempertahankan rekomendasi “Buy”. UBS menilai koreksi harga tersebut lebih mencerminkan sentimen pasar ketimbang pelemahan fundamental.
UBS juga menyoroti sejumlah faktor pendukung yang berpotensi memulihkan kepercayaan investor, termasuk pertumbuhan pendapatan yang masih berlanjut, peningkatan kapasitas data center Abilene yang mulai memasuki fase optimal, serta peluang pembalikan sentimen terhadap eksposur AI Oracle pada paruh pertama 2026. Menurut UBS, risiko pembiayaan dan kredit yang melekat pada ekspansi agresif Oracle dinilai telah tercermin dalam harga saham saat ini.
Sebagai perusahaan teknologi enterprise global, Oracle menyediakan berbagai solusi mulai dari aplikasi cloud, infrastruktur, hingga perangkat keras dan layanan pendukung. Berbeda dengan perusahaan AI yang berfokus pada pengembangan model atau aplikasi, Oracle mengambil peran sebagai penyedia infrastruktur yang memungkinkan operasional AI berjalan dalam skala besar dan stabil. Strategi ini menjadikan Oracle sebagai bagian penting dari rantai nilai AI, terutama bagi perusahaan dan institusi yang membutuhkan keamanan data serta keandalan sistem tingkat tinggi.
Meski demikian, sejumlah analis tetap menilai bahwa terdapat saham AI lain yang menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi dengan risiko yang relatif lebih rendah. Namun bagi investor yang mencari eksposur AI melalui pendekatan yang lebih defensif dan berbasis fundamental, Oracle dinilai masih memiliki daya tarik tersendiri. Dengan kombinasi pertumbuhan cloud, ekspansi data center, dan meningkatnya kebutuhan infrastruktur AI, pergerakan saham Oracle ke depan akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan mengonversi momentum teknologi menjadi pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan.






