Saham Domino’s Pizza kembali menjadi perbincangan pelaku pasar setelah kinerjanya tertinggal sepanjang 2025, meskipun fundamental perusahaan justru menunjukkan kekuatan yang jarang dimiliki emiten restoran cepat saji. Saat saham Yum! Brands melonjak sekitar 14% dalam setahun terakhir, saham Domino’s (NYSE: DPZ) justru menutup 2025 dengan penurunan tipis 0,4%. Perbedaan arah ini membuat DPZ kini diperdagangkan di kisaran USD 411, dekat level terendah 52 minggu, dan memicu pertanyaan besar di kalangan investor: apakah saham Domino’s masih punya peluang menembus USD 550 pada 2026?
Di balik performa harga saham yang lesu, Wall Street justru masih memandang Domino’s dengan kacamata optimistis. Target harga konsensus analis berada di sekitar USD 495 untuk 12 bulan ke depan, yang berarti potensi kenaikan hampir 20% dari posisi saat ini. Dari total 34 analis yang meliput saham ini, mayoritas memberikan rekomendasi beli, sementara hanya dua yang menyarankan jual. Secara valuasi, Domino’s diperdagangkan pada kisaran 22 kali forward earnings, lebih rendah dibandingkan rasio trailing earnings di sekitar 24 kali, menandakan pasar belum sepenuhnya mengantisipasi pertumbuhan laba ke depan.
Kinerja keuangan Domino’s menjadi alasan utama optimisme tersebut. Perusahaan ini berhasil mengalahkan ekspektasi laba dalam tujuh dari delapan kuartal terakhir, dengan rata-rata kejutan laba mencapai 8,2%. Pada kuartal III 2025, Domino’s membukukan laba per saham (EPS) sebesar USD 4,08, melampaui konsensus analis di USD 3,95 dan mencatat pertumbuhan laba tahunan lebih dari 30%. Secara historis, EPS tahunan Domino’s terus meningkat dari USD 12,08 pada 2022 menjadi USD 16,69 pada 2024, dan kinerja 2025 diperkirakan menembus USD 17.
Pertumbuhan pendapatan Domino’s memang terlihat moderat, dengan kenaikan sekitar 3,1% pada kuartal ketiga. Namun, fokus utama investor berpengalaman justru terletak pada margin. Pada periode yang sama, Domino’s mencatat operating margin sebesar 18,1% dan net margin 12,2%, angka yang menempatkannya di jajaran teratas industri restoran cepat saji. Return on assets (ROA) perusahaan mencapai 34%, mencerminkan efisiensi model bisnis franchise yang ringan aset dan sangat terukur dalam menghasilkan laba.
Pertanyaan selanjutnya adalah apa yang dibutuhkan agar saham Domino’s bisa mencapai USD 550. Dari level saat ini, target tersebut berarti kenaikan sekitar 34%. Jika hanya mengandalkan ekspansi valuasi, saham DPZ perlu diperdagangkan di sekitar 32 kali trailing earnings. Angka ini terlihat tinggi, namun masih sejalan dengan valuasi beberapa pesaing, seperti Chipotle yang diperdagangkan di atas 30 kali earnings meski pertumbuhan labanya jauh lebih lambat. Jika Domino’s mampu mempertahankan pertumbuhan laba di kisaran 20–30% hingga 2026, EPS berpotensi mendekati USD 22. Pada level tersebut, harga USD 550 setara dengan sekitar 25 kali forward earnings, yang masih tergolong wajar untuk perusahaan dengan margin tinggi dan rekam jejak pertumbuhan konsisten.
Sejumlah katalis berpotensi mendorong pergerakan saham Domino’s dalam satu hingga dua tahun ke depan. Laporan keuangan kuartal IV 2025 yang akan dirilis pada Februari 2026 menjadi salah satu momen penting, mengingat sejarah perusahaan yang kerap melampaui ekspektasi analis. Selain itu, ekspansi internasional terus menjadi mesin pertumbuhan jangka panjang, sementara investasi berkelanjutan di teknologi pemesanan digital dan sistem pengantaran memberikan keunggulan kompetitif yang langsung berdampak pada margin. Program pembelian kembali saham juga memperkuat cerita ini, dengan Domino’s mengalokasikan hampir USD 75 juta untuk buyback hanya dalam satu kuartal, sehingga jumlah saham beredar terus menyusut.
Secara historis, Domino’s bukan pemain yang asing dengan lonjakan harga saham signifikan. Dalam 10 tahun terakhir, saham perusahaan ini mencatat kenaikan lebih dari 300%, mengungguli sebagian besar pesaingnya di sektor yang sama. Meski ukuran perusahaan kini jauh lebih besar dan tantangan pasar semakin kompleks, rekam jejak tersebut menunjukkan kemampuan manajemen dalam mengeksekusi strategi dan menciptakan nilai bagi pemegang saham.
Dengan demikian, target USD 550 pada 2026 bukan sekadar spekulasi kosong, namun juga bukan kepastian. Wall Street sudah melihat potensi kenaikan, dan jika pertumbuhan laba tetap terjaga serta kondisi pasar mendukung, target tersebut menjadi realistis. Namun investor tetap perlu mencermati risiko makroekonomi, tekanan biaya, dan dinamika sentimen pasar yang dapat dengan cepat mengubah arah pergerakan saham. Dalam konteks ini, Domino’s lebih tepat dipandang sebagai saham fundamental yang sedang menunggu momen, bukan sekadar saham momentum jangka pendek.






