Ketidakpastian ekonomi kembali menghantui dunia kerja. Dalam beberapa bulan terakhir, perusahaan besar mulai dari teknologi, transportasi, farmasi, hingga manufaktur mengumumkan pemutusan hubungan kerja secara masif.
Kondisi ini memicu kecemasan pekerja, terutama karena pasar tenaga kerja yang selama ini dianggap kuat kini menunjukkan tanda-tanda retak.
Sebuah gambaran kontras menggema: lowongan pekerjaan melambat, tetapi PHK justru terus menumpuk. Banyak analis menggambarkan situasi ini sebagai fase “no-hire, no-fire” di mana perusahaan menahan rekrutmen baru namun pada saat yang sama tetap merampingkan tenaga kerja demi menjaga margin.
Kombinasi tarif impor baru yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump, inflasi biaya operasional, serta pergeseran strategis ke teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) mendorong transformasi agresif dalam struktur organisasi.
Dari Silicon Valley hingga Eropa
HP menjadi salah satu nama besar yang mengumumkan pemangkasan 4.000–6.000 karyawan hingga 2028. Langkah ini dikaitkan dengan upaya mempercepat adopsi AI untuk meningkatkan produktivitas, sebuah tren yang kini menjadi standar baru dalam dunia korporasi.
Verizon menyusul dengan pemangkasan lebih dari 13.000 pekerja. CEO Dan Schulman menekankan kebutuhan menyederhanakan operasi dan “mengubah arah perusahaan secara fundamental”.
Di sektor otomotif, General Motors bersiap memangkas 1.700 karyawan akibat permintaan kendaraan listrik yang lemah sinyaL bahwa euforia EV perlahan kehilangan momentum.
Di dunia hiburan, Paramount yang baru saja menyelesaikan merger senilai US$8 miliar dengan Skydance memulai PHK sekitar 2.000 pekerja, disusul 1.600 pemangkasan tambahan terkait divestasi di Amerika Latin.
Bahkan ratusan pekerja memilih mundur secara sukarela demi menghindari perpindahan ke kebijakan kerja di kantor penuh waktu.
Amazon mengambil langkah paling agresif dengan menghapus 14.000 pekerjaan korporat. “AI-first company” tampaknya bukan sekadar slogan, melainkan penataan ulang struktur biaya. UPS, Target, dan Nestlé turut mengumumkan puluhan ribu PHK sebagai respons terhadap perlambatan konsumsi dan lonjakan biaya komoditas.
Sektor penerbangan dan farmasi juga tidak luput. Lufthansa menargetkan 4.000 PHK hingga 2030, sementara Novo Nordisk memotong 9.000 pekerjaan untuk menjaga daya saing di bisnis obat diabetes dan obesitas yang semakin kompetitif.
Tidak ketinggalan, ConocoPhillips merencanakan PHK hingga seperempat dari total tenaga kerjanya, dan Intel melakukan penyusutan signifikan dari 99.500 pegawai menjadi sekitar 75.000.
Microsoft pun memangkas 6.000 pekerja, lalu menambah 9.000 PHK lagi beberapa bulan kemudian sinyal bahwa AI bukan hanya menambah peluang, tetapi juga mengganti struktur biaya lama.
Faktor PHK yang Jarang Dibahas
Kembalinya Trump ke Gedung Putih mempertegas tekanan terhadap biaya bisnis. Tarif impor baru menyentuh berbagai rantai pasok, sementara ribuan pekerja federal kehilangan pekerjaan pada awal masa pemerintahannya.
Lebih dari itu, shutdown pemerintah selama 43 hari meninggalkan kekacauan pada data ekonomi, sehingga investor dan analis sempat “terbang buta”.
Laporan tenaga kerja terbaru menunjukkan penambahan 119.000 pekerjaan pada September angka yang positif namun dibayangi kenaikan pengangguran menjadi 4,4%. Revisi data bahkan menunjukkan ekonomi kehilangan 4.000 pekerjaan pada Agustus.
Senjata atau Ancaman?
Banyak perusahaan beralih ke AI bukan hanya untuk inovasi, tetapi untuk menekan biaya jangka panjang. Otomatisasi proses operasional kini dipandang sebagai strategi bertahan hidup, bukan sekadar kemewahan teknologi.
Namun setiap gelombang teknologi baru selalu membawa konsekuensi sosial. Para pekerja bertanya-tanya: apakah AI menciptakan pekerjaan baru, atau justru mempercepat hilangnya pekerjaan lama?
Pertanyaan ini semakin relevan di tengah lonjakan PHK yang dipercepat inovasi teknologi.
Apa Artinya untuk Pekerja dan Investor?
Pasar tenaga kerja AS memasuki fase di mana ketidakpastian bukan lagi pengecualian, tetapi bagian dari realitas baru. Investor perlu mencermati:
Penyesuaian margin akibat tarif impor, strategi adopsi AI di berbagai industri, dan perubahan pola konsumsi pasca-pandemi.
Sementara itu, pekerja perlu membaca arah angin dengan jeli: kompetensi digital dan adaptasi terhadap otomatisasi bukan lagi nilai tambah, tetapi syarat bertahan.
Gelombang PHK global ini adalah cermin dari transisi besar ekonomi modern di mana teknologi, kebijakan, dan pasar global saling mempengaruhi secara tidak terduga. Pertanyaan akhirnya: apakah ini fase sementara, atau awal dari tatanan tenaga kerja baru?
Yang jelas, era “stabilitas korporasi” telah berubah. Dan publik, baik pekerja maupun investor, mau tak mau harus bersiap menavigasi ketidakpastian ini.






