Nvidia dan Eli Lilly kembali menegaskan bahwa kecerdasan buatan bukan lagi sekadar wacana futuristik, melainkan fondasi baru dalam industri kesehatan global. Kedua perusahaan mengumumkan investasi bersama senilai US$1 miliar untuk membangun sebuah laboratorium penemuan obat berbasis AI di San Francisco, sebuah langkah strategis yang berpotensi mengubah cara obat dikembangkan selama puluhan tahun terakhir.
Investasi tersebut akan digelontorkan secara bertahap selama lima tahun dan difokuskan pada pembangunan infrastruktur komputasi berskala besar, penyediaan daya komputasi AI kelas dunia, serta perekrutan talenta terbaik di bidang biologi, kedokteran, dan ilmu data. Dalam laboratorium ini, para insinyur Nvidia akan bekerja berdampingan dengan para ilmuwan Eli Lilly untuk menghasilkan data biologis berskala besar dan membangun model AI yang dirancang khusus untuk mempercepat proses pengembangan obat. Proyek ini dijadwalkan mulai berjalan pada awal tahun ini.
CEO Eli Lilly, David Ricks, menyatakan bahwa kolaborasi tersebut berpotensi “menciptakan ulang penemuan obat seperti yang kita kenal selama ini.” Pernyataan ini mencerminkan tantangan lama industri farmasi, di mana pengembangan satu obat dapat memakan waktu lebih dari satu dekade dengan biaya miliaran dolar dan tingkat kegagalan yang tinggi. Dengan bantuan AI, proses yang sebelumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun diharapkan dapat dipangkas secara signifikan, baik dalam tahap identifikasi molekul obat, prediksi efek samping, hingga efisiensi uji praklinis dan klinis.
Kolaborasi ini juga memperkuat kemitraan yang telah terjalin sebelumnya antara Nvidia dan Eli Lilly. Pada Oktober lalu, Lilly mengumumkan pembangunan “AI factory” menggunakan sistem AI Nvidia untuk mempercepat lini riset obatnya. Artinya, investasi US$1 miliar ini bukan langkah eksperimental, melainkan eskalasi dari strategi jangka panjang yang sudah disiapkan kedua perusahaan.
Dari sisi pasar, langkah ini semakin menegaskan posisi Eli Lilly sebagai pemimpin di sektor kesehatan. Saham perusahaan tersebut tercatat naik tipis setelah pengumuman dan telah melonjak hampir 34% dalam satu tahun terakhir, melampaui kinerja indeks S&P 500. Pada November lalu, Lilly mencetak sejarah sebagai perusahaan kesehatan pertama yang menembus kapitalisasi pasar US$1 triliun, sebuah pencapaian yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjangnya.
Sementara itu, Nvidia terus memperluas pengaruhnya jauh melampaui industri semikonduktor. Perusahaan ini kini menjadi yang paling bernilai di dunia, setelah menjadi perusahaan pertama yang melampaui kapitalisasi pasar US$5 triliun pada 2025. Proyek bersama Lilly menjadi bagian dari rangkaian investasi dan kemitraan Nvidia di seluruh ekosistem AI, mulai dari teknologi, keuangan, hingga kesehatan, meskipun langkah agresif ini juga memicu kekhawatiran sebagian pelaku pasar mengenai potensi terbentuknya gelembung AI.
Di sektor kesehatan sendiri, Nvidia telah berinvestasi di perusahaan bioteknologi Recursion dan menjalin kemitraan dengan sejumlah pemain besar seperti Novo Nordisk, Mayo Clinic, Illumina, dan IQVIA. Strategi ini menunjukkan bahwa Nvidia tidak ingin berhenti sebagai pemasok chip AI, melainkan berambisi menjadi tulang punggung komputasi bagi transformasi industri medis dan farmasi global.
CEO Nvidia, Jensen Huang, menegaskan bahwa dampak paling mendalam dari AI justru akan terjadi di ilmu hayati. Menurutnya, kemampuan AI untuk mengolah data biologis dalam skala masif akan membuka peluang terobosan medis yang sebelumnya sulit dicapai dengan metode konvensional.
Bagi investor dan pelaku industri, kolaborasi Nvidia dan Eli Lilly menjadi sinyal kuat bahwa masa depan farmasi akan semakin ditentukan oleh kemampuan mengintegrasikan data, sains, dan komputasi canggih. Di tengah euforia AI dan kekhawatiran akan valuasi yang semakin tinggi, langkah ini memunculkan pertanyaan penting: apakah kita sedang menyaksikan awal revolusi medis berbasis algoritma, atau justru berada di fase puncak optimisme teknologi. Yang jelas, persimpangan antara AI dan kesehatan kini telah menjadi medan strategis utama dalam ekonomi global.





