Kinerja keuangan Samsung Electronics mencatat lonjakan signifikan pada akhir tahun, seiring meningkatnya permintaan global terhadap server kecerdasan buatan (AI). Dorongan utama datang dari melonjaknya harga chip memori, yang kini menjadi komponen krusial dalam pengembangan pusat data berskala besar dan infrastruktur AI di berbagai negara.
Dalam laporan kinerja sementara untuk kuartal yang berakhir pada Desember, Samsung membukukan laba operasional sekitar 20 triliun won. Angka tersebut melonjak lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode sebelumnya dan melampaui ekspektasi pasar. Di saat yang sama, pendapatan perusahaan juga meningkat tajam dan mencetak rekor baru, mencerminkan kuatnya permintaan di segmen semikonduktor.
Reli kinerja ini turut tercermin pada pergerakan saham Samsung yang terus menguat sejak awal tahun. Sentimen positif juga meluas ke industri chip Korea Selatan secara keseluruhan, dengan saham pesaing seperti SK Hynix ikut mencatat kenaikan signifikan. Pasar menilai sektor memori tengah memasuki fase siklus super, didorong oleh ekspansi AI global.
Salah satu faktor utama di balik lonjakan ini adalah pergeseran strategi produsen chip memori. Samsung dan pemain besar lainnya mulai mengalihkan kapasitas produksi dari chip standar ke chip kelas atas bernilai tinggi yang dibutuhkan oleh perusahaan AI, termasuk Nvidia. Akibatnya, pasokan memori konvensional untuk laptop dan server menjadi semakin ketat, mendorong harga DRAM dan NAND naik tajam.
Harga jual rata-rata DRAM dilaporkan melonjak lebih dari 30% dalam satu kuartal, sementara harga NAND naik sekitar 20%. Analis memperkirakan tren ini masih akan berlanjut sepanjang 2026, bahkan hingga awal 2027, mengingat permintaan yang tetap solid dan keterbatasan pasokan yang belum mereda. Kondisi ini membuat margin keuntungan produsen chip memori berada di level yang sangat menarik.
Permintaan memori kini tidak hanya datang dari sektor komputasi tradisional, tetapi juga dari bidang baru seperti kendaraan otonom, robot humanoid, serta perangkat elektronik dengan fitur AI terintegrasi. Diversifikasi sumber permintaan ini membuat kekhawatiran akan puncak siklus permintaan masih relatif kecil dalam jangka menengah.
Samsung juga mulai menunjukkan kemajuan di segmen high-bandwidth memory (HBM), meski selama ini tertinggal dari pesaing global seperti Micron Technology. Pengiriman sampel HBM generasi terbaru untuk uji kualifikasi menjadi sinyal bahwa Samsung berupaya memperkuat posisinya di pasar chip AI bernilai tinggi.
Ke depan, kombinasi antara lonjakan kebutuhan AI, keterbatasan pasokan, dan strategi produksi bernilai tambah diperkirakan akan terus menjadi pendorong utama kinerja sektor semikonduktor global. Bagi investor, dinamika ini menunjukkan bagaimana teknologi AI tidak hanya mengubah industri digital, tetapi juga membentuk ulang lanskap pasar chip dunia.





