Sentimen pasar global kembali tertekan di awal pekan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana penerapan tarif baru terhadap sejumlah negara Eropa. Kebijakan ini dikaitkan dengan dukungan negara-negara tersebut terhadap Greenland, wilayah semi-otonom Denmark, di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa.
Tekanan langsung terlihat di pasar keuangan. Kontrak berjangka indeks saham Eropa dibuka melemah, sementara indeks saham Amerika Serikat juga menunjukkan koreksi meskipun pasar kas AS sedang libur. Di sisi lain, dolar AS justru mengalami pelemahan terhadap mata uang utama dunia, khususnya franc Swiss dan yen Jepang, seiring investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman.
Trump menyatakan bahwa mulai 1 Februari, Amerika Serikat akan memberlakukan tarif sebesar 10% terhadap barang-barang dari negara Eropa yang dianggap menentang kepentingan AS dalam isu Greenland. Ia juga menegaskan bahwa tarif tersebut dapat meningkat hingga 25% pada pertengahan tahun apabila tidak tercapai kesepakatan politik yang diinginkan Washington. Pernyataan ini menambah ketidakpastian pasar yang sebelumnya sudah dihadapkan pada dinamika kebijakan perdagangan global yang berubah-ubah.
Reaksi dari Eropa pun tidak kalah tegas. Sejumlah pemimpin Uni Eropa menyatakan siap mempertimbangkan langkah balasan, termasuk penggunaan instrumen anti-koersi yang memungkinkan pembatasan ekonomi secara lebih luas. Selain itu, terdapat sinyal bahwa persetujuan perjanjian dagang antara Uni Eropa dan Amerika Serikat yang disepakati tahun lalu bisa ditunda sebagai respons atas kebijakan tarif tersebut.
Dalam jangka pendek, eskalasi tarif ini berpotensi memicu fase “risk-off” di pasar keuangan. Saham cenderung berada di bawah tekanan, sementara aset seperti obligasi pemerintah dan emas berpeluang kembali diminati. Namun, sejumlah analis menilai dampak terhadap pertumbuhan ekonomi Eropa masih relatif terbatas dan lebih bersifat sementara.
Menariknya, tekanan ini muncul di tengah performa pasar saham Eropa yang sebelumnya cukup kuat. Sejak awal 2025, indeks saham utama Eropa mencatatkan kenaikan signifikan dan bahkan mengungguli pasar saham Amerika Serikat. Optimisme investor sebelumnya didorong oleh kebijakan fiskal yang lebih longgar, penurunan suku bunga, serta ekspektasi perbaikan laba perusahaan.
Meski demikian, ancaman tarif berisiko memicu aksi ambil untung, terutama pada sektor-sektor yang sangat bergantung pada perdagangan internasional seperti otomotif, barang mewah, dan industri berbasis rantai pasok global. Dampak paling besar diperkirakan akan dirasakan oleh perusahaan Eropa yang memiliki eksposur tinggi ke pasar AS.
Ke depan, reaksi pasar diperkirakan masih akan sangat bergantung pada perkembangan kebijakan lanjutan dan respons resmi dari Uni Eropa. Selama belum ada kejelasan konkret, investor cenderung bersikap lebih berhati-hati, sambil mencermati peluang dan risiko di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global.
Sentimen pasar global kembali tertekan di awal pekan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana penerapan tarif baru terhadap sejumlah negara Eropa. Kebijakan ini dikaitkan dengan dukungan negara-negara tersebut terhadap Greenland, wilayah semi-otonom Denmark, di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa.
Tekanan langsung terlihat di pasar keuangan. Kontrak berjangka indeks saham Eropa dibuka melemah, sementara indeks saham Amerika Serikat juga menunjukkan koreksi meskipun pasar kas AS sedang libur. Di sisi lain, dolar AS justru mengalami pelemahan terhadap mata uang utama dunia, khususnya franc Swiss dan yen Jepang, seiring investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman.
Trump menyatakan bahwa mulai 1 Februari, Amerika Serikat akan memberlakukan tarif sebesar 10% terhadap barang-barang dari negara Eropa yang dianggap menentang kepentingan AS dalam isu Greenland. Ia juga menegaskan bahwa tarif tersebut dapat meningkat hingga 25% pada pertengahan tahun apabila tidak tercapai kesepakatan politik yang diinginkan Washington. Pernyataan ini menambah ketidakpastian pasar yang sebelumnya sudah dihadapkan pada dinamika kebijakan perdagangan global yang berubah-ubah.
Reaksi dari Eropa pun tidak kalah tegas. Sejumlah pemimpin Uni Eropa menyatakan siap mempertimbangkan langkah balasan, termasuk penggunaan instrumen anti-koersi yang memungkinkan pembatasan ekonomi secara lebih luas. Selain itu, terdapat sinyal bahwa persetujuan perjanjian dagang antara Uni Eropa dan Amerika Serikat yang disepakati tahun lalu bisa ditunda sebagai respons atas kebijakan tarif tersebut.
Dalam jangka pendek, eskalasi tarif ini berpotensi memicu fase “risk-off” di pasar keuangan. Saham cenderung berada di bawah tekanan, sementara aset seperti obligasi pemerintah dan emas berpeluang kembali diminati. Namun, sejumlah analis menilai dampak terhadap pertumbuhan ekonomi Eropa masih relatif terbatas dan lebih bersifat sementara.
Menariknya, tekanan ini muncul di tengah performa pasar saham Eropa yang sebelumnya cukup kuat. Sejak awal 2025, indeks saham utama Eropa mencatatkan kenaikan signifikan dan bahkan mengungguli pasar saham Amerika Serikat. Optimisme investor sebelumnya didorong oleh kebijakan fiskal yang lebih longgar, penurunan suku bunga, serta ekspektasi perbaikan laba perusahaan.
Meski demikian, ancaman tarif berisiko memicu aksi ambil untung, terutama pada sektor-sektor yang sangat bergantung pada perdagangan internasional seperti otomotif, barang mewah, dan industri berbasis rantai pasok global. Dampak paling besar diperkirakan akan dirasakan oleh perusahaan Eropa yang memiliki eksposur tinggi ke pasar AS.
Ke depan, reaksi pasar diperkirakan masih akan sangat bergantung pada perkembangan kebijakan lanjutan dan respons resmi dari Uni Eropa. Selama belum ada kejelasan konkret, investor cenderung bersikap lebih berhati-hati, sambil mencermati peluang dan risiko di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan global.






