Pergerakan kontrak berjangka saham Amerika Serikat relatif stabil pada Selasa malam waktu setempat, seiring para investor bersiap menghadapi rilis data inflasi penting yang diperkirakan akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi ekonomi dan arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Kontrak berjangka yang terkait dengan indeks Dow Jones Industrial Average tercatat naik sekitar 0,4%. Sementara itu, kontrak berjangka untuk indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 masing-masing menguat sekitar 0,5%. Pergerakan yang cenderung terbatas ini menunjukkan bahwa pelaku pasar memilih bersikap hati-hati menjelang rilis data ekonomi utama yang dapat mempengaruhi ekspektasi suku bunga.
Sepanjang pekan ini, perhatian pasar global juga tertuju pada volatilitas tinggi di pasar energi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, memicu fluktuasi tajam pada harga minyak dunia. Pada awal pekan, harga minyak sempat melonjak mendekati level US$120 per barel sebelum akhirnya turun kembali.
Penurunan harga minyak terjadi setelah pasar mempertimbangkan kemungkinan pemerintah menggunakan cadangan minyak darurat untuk menstabilkan pasokan. Selain itu, pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut konflik dapat berakhir dalam waktu dekat turut mempengaruhi sentimen pasar.
Pergerakan harga minyak juga sempat dipicu oleh unggahan media sosial Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, yang menyatakan bahwa kapal tanker minyak telah dikawal oleh militer AS melalui Selat Hormuz. Namun unggahan tersebut kemudian dihapus, dan pemerintah Gedung Putih menegaskan bahwa pengawalan tersebut tidak terjadi. Ketidakjelasan informasi ini memicu volatilitas baru di pasar energi.
Kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat turun hingga sekitar US$76,73 per barel sebelum akhirnya ditutup sekitar 12% lebih rendah. Sementara itu, harga minyak Brent turun lebih dari 11%. Meski demikian, kedua acuan harga minyak tersebut kembali mencatat kenaikan lebih dari 4% dalam perdagangan berjangka semalam.
Di sisi lain, pasar juga menantikan dua laporan inflasi penting yang dijadwalkan rilis pekan ini. Laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk Februari akan diumumkan lebih dulu, disusul oleh data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang sering dijadikan acuan utama Federal Reserve dalam mengukur inflasi.
Data-data tersebut diperkirakan memberikan gambaran mengenai tren inflasi di Amerika Serikat, terutama di tengah sinyal bahwa pasar tenaga kerja mulai menunjukkan perlambatan. Hasil laporan ini berpotensi mempengaruhi ekspektasi investor terkait kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral.
Sementara itu, dari sisi kinerja perusahaan, saham Oracle mencatat kenaikan signifikan setelah perusahaan teknologi tersebut melaporkan hasil keuangan yang melampaui ekspektasi pasar serta memberikan proyeksi bisnis yang optimistis. Selain Oracle, sejumlah laporan keuangan perusahaan lain seperti Adobe dan Dollar General juga dijadwalkan rilis dalam beberapa hari ke depan.
Di pasar komoditas, harga emas bergerak relatif stabil meskipun volatilitas tinggi terjadi di pasar energi. Logam mulia tersebut diperdagangkan di sekitar US$5.190 per ons setelah sebelumnya mencatat kenaikan sekitar 1%. Lonjakan harga energi meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kebijakan suku bunga global.
Sejak awal tahun, harga emas telah naik sekitar 20%. Selain berfungsi sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi, emas juga sering digunakan investor sebagai sumber likuiditas untuk menyeimbangkan portofolio mereka ketika pasar keuangan mengalami gejolak.






