General Motors (GM) kembali mengguncang pasar otomotif global setelah mengumumkan akan mencatat beban tambahan sebesar US$6 miliar untuk bisnis kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Keputusan ini diungkapkan dalam dokumen resmi kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) yang dirilis setelah penutupan perdagangan, dan langsung menegaskan bahwa transisi menuju kendaraan listrik tidak berjalan sehalus yang selama ini digembar-gemborkan.
Beban tambahan tersebut merupakan hasil evaluasi menyeluruh terhadap kapasitas produksi dan investasi EV yang dilakukan GM sepanjang kuartal keempat. Perusahaan menyebutkan bahwa sebagian besar beban akan dibukukan pada periode tiga bulan yang berakhir 31 Desember 2025, terutama di wilayah GM North America. Langkah ini diambil di tengah permintaan EV yang lebih lemah dari perkiraan serta berakhirnya insentif pajak kendaraan listrik federal AS pada akhir kuartal ketiga 2025, yang selama ini menjadi pendorong utama minat konsumen.
Dalam keterangannya, GM menjelaskan bahwa dari total US$6 miliar tersebut, sekitar US$1,8 miliar merupakan penurunan nilai dan penyesuaian non-kas, sementara US$4,2 miliar lainnya berdampak langsung pada arus kas perusahaan. Dampak kas ini mencakup penyelesaian dengan pemasok, biaya pembatalan kontrak, serta berbagai pengeluaran lain yang terkait dengan penyesuaian strategi EV. Meski demikian, GM menegaskan bahwa beban tersebut tidak akan memengaruhi kinerja EBIT-adjusted, indikator laba operasional yang kerap menjadi acuan investor institusional.
Beban terbaru ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, pada kuartal ketiga 2025, GM telah mencatat US$1,6 miliar akibat penilaian ulang bisnis kendaraan listriknya. Dengan tambahan beban kali ini, total penurunan nilai terkait EV yang dicatat GM mencapai US$6,6 miliar, sebuah angka yang mencerminkan betapa mahalnya biaya koreksi strategi setelah ekspansi agresif di sektor EV dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagai bagian dari penyesuaian tersebut, GM secara terbuka mengakui telah mengurangi kapasitas produksi EV dan baterai, serta mengalihkan sebagian fasilitas manufaktur untuk kembali memproduksi SUV dan truk berbahan bakar bensin. Keputusan ini menandai pergeseran pendekatan GM dari strategi elektrifikasi penuh menuju model yang lebih pragmatis, menyesuaikan diri dengan realitas permintaan pasar yang belum sepenuhnya siap meninggalkan kendaraan konvensional.
Tekanan terhadap GM tidak hanya datang dari bisnis EV di Amerika Utara. Perusahaan juga mencatat beban non-EV sebesar US$1,1 miliar terkait restrukturisasi usaha patungan dengan SAIC General Motors di China. Dari jumlah tersebut, sekitar US$500 juta berdampak langsung pada kas. Langkah ini mencerminkan tantangan yang dihadapi produsen otomotif global di pasar China yang semakin kompetitif dan didominasi oleh produsen lokal dengan harga agresif.
GM juga mengungkapkan bahwa perusahaan masih berpotensi mencatat beban tambahan, baik kas maupun non-kas, terkait bisnis EV pada 2026. Namun, manajemen meyakini nilainya akan jauh lebih kecil dibandingkan beban yang ditanggung sepanjang 2025. Di sisi lain, GM menyoroti bahwa perubahan terbaru pada standar emisi gas rumah kaca federal AS dapat memengaruhi kemampuan perusahaan dalam menjual kredit emisi, yang selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan.
Langkah GM ini terjadi tak lama setelah rival utamanya, Ford, mencatat beban besar sebesar US$19,5 miliar akibat melemahnya permintaan kendaraan listrik, khususnya untuk EV berukuran besar seperti F-150 Lightning, yang bahkan telah dihentikan dalam bentuk produksinya saat ini. Fakta bahwa dua raksasa otomotif Detroit sama-sama melakukan koreksi besar memperkuat sinyal bahwa industri EV global sedang memasuki fase penyesuaian yang menyakitkan.
Bagi investor dan pelaku pasar, keputusan GM ini menjadi pengingat bahwa transisi energi bukan sekadar persoalan visi jangka panjang, tetapi juga disiplin finansial dan realitas daya beli konsumen. EV masih menjadi masa depan industri otomotif, namun jalannya terbukti lebih berliku, mahal, dan penuh kompromi dibandingkan ekspektasi awal. GM dijadwalkan akan memberikan penjelasan lebih rinci terkait beban ini saat merilis laporan keuangan sebelum pembukaan pasar pada 27 Januari, sebuah momen yang kemungkinan besar akan menjadi sorotan utama Wall Street dan investor global.






