Di tengah hiruk-pikuk industri kecerdasan buatan global yang makin kompetitif, Alphabet Inc. kembali mencuri sorotan. Saham raksasa teknologi tersebut menembus rekor baru hampir $304 pada perdagangan Rabu, sebuah pencapaian yang terjadi tepat setelah perusahaan meluncurkan Gemini 3 model AI tercanggih yang pernah dirilis Google hingga saat ini.
Bagi sebagian investor, kabar ini terasa seperti peluru tambahan di tengah euforia AI. Namun pertanyaan pentingnya: Apakah masih masuk akal membeli GOOGL pada level ini?
Peluncuran Gemini 3 menandai perubahan strategi Google yang lebih agresif. Tidak lagi sekadar “mengejar ketertinggalan” dari pesaing seperti OpenAI dan Microsoft, perusahaan kini langsung menanamkan teknologi multimodal itu ke dalam Search, Workspace, YouTube, Cloud, hingga berbagai produk konsumer lain.
Google seakan ingin menegaskan bahwa mereka bukan pemain lama yang terjebak masa lalu melainkan raksasa yang siap menyalip kembali jika diberi momentum tepat.
Langkah integrasi langsung ini memberi sinyal kuat pada pasar: Google melihat jalur monetisasi AI yang lebih cepat dan lebih terukur. Bagi investor, ini adalah kepastian yang selama satu tahun terakhir hilang dari Alphabet terutama setelah berbagai kritik yang menilai perusahaan lamban dalam merespons kemajuan GPT-4 dan ChatGPT.
Namun menariknya, reli saham Alphabet tidak hanya dipantik oleh teknologi baru. Ada alasan tambahan yang membuat GOOGL terlihat semakin menggoda: dukungan investor besar. Baru-baru ini, Berkshire Hathaway perusahaan investasi yang dibesarkan Warren Buffett diketahui memborong saham Alphabet senilai $4,3 miliar.
Buffett selama puluhan tahun jarang menyentuh saham teknologi murni (selain Apple), sehingga kepercayaan ini menjadi sinyal psikologis penting bagi pasar. Ketika “Oracle of Omaha” masuk, banyak investor lain ikut merapat.
Selain itu, analis dari Cantor Fitzgerald, Deepak Mathivanan, menegaskan bahwa peningkatan model AI secara historis kerap mendorong pertumbuhan pengguna hingga konsumsi komputasi di lingkungan enterprise.
Dengan kata lain, Gemini 3 bukan hanya peningkatan kosmetik tetapi katalis bisnis yang dapat meningkatkan pendapatan Cloud, iklan, hingga produk AI enterprise Google.
Yang lebih mengejutkan, meski harga sahamnya sudah melonjak lebih dari 100% sejak titik terendah April, GOOGL masih diperdagangkan di forward P/E 27x. Untuk perusahaan yang duduk di pusat revolusi AI global, angka itu relatif moderat bahkan cenderung undervalued jika dibandingkan dengan pemain AI lain yang valuasinya jauh lebih mahal.
Tak heran, konsensus Wall Street saat ini memberi rating “Strong Buy”, dengan target harga mencapai $350 menyiratkan potensi upside hampir 17% dari posisi sekarang. Barchart menyebut momentum ini sebagai fase “re-rating”, di mana pasar menilai ulang nilai Alphabet sebagai pemain yang tidak hanya bertahan dalam persaingan AI, tetapi kembali memimpin.
Namun seperti biasa, euforia ini tidak datang tanpa pertanyaan. Apakah lompatan ke rekor harga berarti risiko koreksi tinggal menunggu waktu? Ataukah ini justru fase awal dari akselerasi valuasi baru, di mana Google akhirnya menemukan arah yang lebih jelas dalam balapan AI global?
Yang jelas, Gemini 3 bukan sekadar produk. Ini adalah deklarasi bahwa Google belum selesai berbicara di panggung AI. Bagi investor, momen ini bisa saja menjadi titik penting baik sebagai peluang ataupun peringatan agar tetap berhati-hati. Pasar sedang memanas, dan Google kembali menyalakan mesinnya.






