Pasar kripto mencatat penguatan sekitar 2,5% setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan sinyal yang beragam terkait potensi kesepakatan dengan Iran. Isu utama yang menjadi perhatian adalah kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi distribusi minyak dunia, serta munculnya harapan gencatan senjata yang berpotensi mengakhiri konflik secara permanen.
Dalam pernyataannya di media sosial, Trump melontarkan ancaman keras kepada Iran jika jalur tersebut tidak segera dibuka. Namun di sisi lain, ia juga menyampaikan bahwa proses negosiasi sedang berlangsung dan mengungkapkan optimisme bahwa kesepakatan dapat tercapai dalam waktu dekat, bahkan dalam hitungan 24 jam. Pernyataan yang saling bertolak belakang ini menciptakan ketidakpastian, tetapi justru memicu respons positif di pasar kripto.
Total kapitalisasi pasar kripto dilaporkan meningkat sekitar US$70 miliar, mencapai US$2,44 triliun—level tertinggi dalam 11 hari terakhir. Bitcoin turut mengalami kenaikan dan sempat menyentuh harga US$69.500. Kenaikan ini juga berdampak pada likuidasi posisi di pasar derivatif, dengan total likuidasi mencapai sekitar US$255 juta dalam 24 jam terakhir, di mana sebagian besar berasal dari posisi short.
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran telah berlangsung lebih dari satu bulan dan turut mendorong lonjakan harga minyak global. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi perlambatan ekonomi global. Sebelumnya, Trump memberikan tenggat waktu kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, namun kini batas waktu tersebut semakin dipercepat, disertai ancaman tindakan militer terhadap infrastruktur strategis Iran jika tidak dipenuhi.
Meski retorika yang disampaikan cenderung agresif, peluang tercapainya kesepakatan tetap terbuka. Laporan terbaru menyebutkan bahwa Amerika Serikat, Iran, serta sejumlah mediator regional sedang membahas opsi gencatan senjata selama 45 hari. Jika terealisasi, langkah ini dapat menjadi jalan menuju berakhirnya konflik.
Di sisi lain, dampak perang terhadap pasar energi semakin terasa. Harga minyak mentah kembali naik hingga sekitar US$112 per barel. Kenaikan ini berpotensi mendorong inflasi, dengan proyeksi bahwa inflasi di Amerika Serikat dapat meningkat hingga sekitar 3,7% jika kondisi ini berlanjut. Selain itu, biaya bahan bakar yang ditanggung masyarakat juga meningkat signifikan sejak konflik dimulai.
Situasi ini menunjukkan bagaimana dinamika geopolitik dapat mempengaruhi berbagai kelas aset, termasuk kripto. Bagi investor, kondisi seperti ini sering kali menjadi momentum untuk memantau pergerakan pasar secara lebih aktif dan mempertimbangkan strategi investasi yang tepat di tengah volatilitas yang tinggi.






