Harga Ether (ETH) kembali berada di bawah tekanan setelah turun tajam ke kisaran US$2.110 pada Selasa. Koreksi ini menandai pelemahan signifikan, dengan penurunan mencapai sekitar 28% hanya dalam waktu tujuh hari. Pergerakan tersebut mencerminkan rapuhnya sentimen pasar kripto, terutama di tengah meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap aset berisiko.
Aksi jual tidak hanya terjadi di pasar kripto. Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi juga ikut melemah sekitar 1,4%. Kondisi ini mendorong investor mengalihkan dana ke instrumen yang dinilai lebih aman, seperti uang tunai dan obligasi pemerintah jangka pendek. Pergeseran alokasi aset tersebut menunjukkan meningkatnya sikap risk-off di tengah ketidakpastian ekonomi.
Kekhawatiran pasar turut dipicu oleh pandangan bahwa valuasi aset, khususnya yang berkaitan dengan narasi kecerdasan buatan (AI), telah terlalu tinggi. Sentimen semakin tertekan setelah CEO Nvidia, Jensen Huang, membantah kabar rencana investasi besar senilai US$100 miliar ke OpenAI. Klarifikasi tersebut memicu kekecewaan pasar yang sebelumnya berharap adanya dorongan likuiditas baru ke sektor teknologi.
Tekanan tambahan datang dari laporan kinerja kuartalan PayPal yang dinilai di bawah ekspektasi. Kombinasi faktor tersebut membuat pelaku pasar bersiap menghadapi volatilitas lanjutan. Di sisi lain, lonjakan harga emas sebesar 6% dan perak 9% mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai, sekaligus menandakan menurunnya kepercayaan terhadap kemampuan Federal Reserve menahan risiko resesi.
Di pasar derivatif kripto, minat terhadap posisi bullish ETH berleverage mengalami penurunan tajam. Hal ini tercermin dari annualized funding rate kontrak perpetual futures ETH yang berubah negatif. Artinya, trader dengan posisi short harus membayar biaya untuk mempertahankan kontraknya—indikasi bahwa tekanan jual lebih dominan dan kepercayaan pembeli melemah.
Dalam 30 hari terakhir, performa ETH juga tertinggal dibanding pasar kripto secara umum. Kondisi ini memicu perdebatan apakah fase ketakutan saat ini justru membuka peluang akumulasi jangka panjang.
Penurunan Ether terlihat lebih dalam dibanding kripto besar lain. Bitcoin tercatat turun 17% dalam periode yang sama, BNB melemah 14%, sementara Tron hanya terkoreksi sekitar 4%. Koreksi tajam ETH memicu likuidasi lebih dari US$2 miliar pada kontrak futures bullish, memperbesar risiko penurunan lanjutan.
Arus keluar dana dari ETF Ethereum spot di AS juga menambah tekanan. Dalam lima hari, tercatat net outflow mencapai US$447 juta, menandakan permintaan institusional mulai mendingin. Padahal, total dana kelolaan ETF Ethereum masih berada di kisaran US$14,4 miliar, yang berpotensi menjadi sumber tekanan jual bila sentimen memburuk.
Dari sisi fundamental jaringan, aktivitas juga menunjukkan perlambatan. Volume perdagangan di decentralized exchange berbasis Ethereum turun menjadi US$52,8 miliar pada Januari, dari sebelumnya US$98,9 miliar pada Oktober 2025. Penurunan ini mengurangi efek burn supply yang biasanya menopang harga.
Dengan data on-chain yang melemah dan sentimen makro yang belum stabil, pasar menilai peluang pemulihan cepat ETH masih terbatas. Investor pun cenderung menunggu katalis baru sebelum kembali meningkatkan eksposur ke aset kripto terbesar kedua tersebut.






