Volatilitas Pasar Logam Mulia Kembali Meledak
Pasar logam mulia global kembali memasuki fase yang tidak ramah bagi investor yang lemah mental. Harga perak (silver) dan platinum anjlok tajam dalam perdagangan terbaru, memperpanjang tren volatilitas ekstrem yang telah menghantui pasar sejak akhir tahun lalu. Tekanan datang dari berbagai arah: penyesuaian indeks komoditas global, ketatnya pasokan fisik, hingga bayang-bayang tarif impor Amerika Serikat.
Perdagangan kali ini menunjukkan betapa rapuhnya keseimbangan antara spekulasi dan fundamental. Platinum sempat terjun hingga 7,7%, sementara perak anjlok hampir 6%, mencatatkan salah satu penurunan harian terdalam dalam beberapa bulan terakhir. Padahal ironisnya, secara bulanan kedua logam tersebut masih berada di zona hijau.
Rebalancing Indeks: “Musuh Lama” yang Kembali Menggigit
Salah satu pemicu utama kejatuhan harga adalah rebalancing tahunan indeks komoditas global. Dalam mekanisme ini, dana pasif yang melacak indeks terpaksa menjual komoditas yang performanya terlalu kuat untuk menyesuaikan bobot baru.
Menurut estimasi Citigroup, proses reweighting ini berpotensi memicu arus keluar sekitar USD 6,8 miliar dari kontrak berjangka emas, dan jumlah yang hampir sama dari perak. Tekanan ini menciptakan aksi jual mekanis yang sering kali mengabaikan kondisi fundamental jangka panjang.
Analis TD Securities, Daniel Ghali, bahkan menyebut reli perak sebelumnya sebagai “devilish blow-off top” sebuah istilah klasik untuk menggambarkan reli spekulatif yang berakhir dengan koreksi brutal.
Pasokan Ketat, Tapi Harga Tetap Tertekan
Yang membuat situasi semakin kompleks adalah fakta bahwa pasokan fisik perak dan platinum justru sangat ketat, terutama di pasar London yang menjadi pusat perdagangan spot global. Sepanjang tahun lalu, pengiriman besar-besaran ke Amerika Serikat dipicu kekhawatiran tarif mengunci inventori logam di gudang AS.
Biaya peminjaman (borrowing costs) memang sedikit menurun minggu ini, namun masih berada di level historis tinggi. Artinya, likuiditas fisik tetap terbatas. Seperti dikatakan Michael Widmer dari Bank of America, siapa pun yang ingin masuk ke pasar harus “membayar mahal” akibat minimnya likuiditas.
Ini menciptakan paradoks pasar: fundamental positif tetapi harga jatuh, karena volatilitas didorong oleh spekulasi jangka pendek dan arus dana institusional.
Tarif, Geopolitik, dan Ketegangan Global
Pelaku pasar juga menanti hasil penyelidikan Section 232 AS terkait impor mineral kritis, yang berpotensi melahirkan tarif atau pembatasan perdagangan baru. Jika diterapkan, kebijakan ini bisa kembali mengacaukan rantai pasok global logam mulia.
Di sisi lain, tensi geopolitik global semakin menambah lapisan ketidakpastian. Mulai dari dinamika politik Amerika Latin, pernyataan kontroversial Washington terkait Greenland, hingga pembatasan ekspor strategis China ke Jepang untuk kepentingan militer. Semua ini biasanya menjadi bahan bakar permintaan safe haven, meski belum sepenuhnya tercermin dalam harga saat ini.
Fokus Beralih ke Data Ekonomi AS dan Suku Bunga The Fed
Pasar kini mengalihkan perhatian ke serangkaian data ekonomi Amerika Serikat, terutama laporan tenaga kerja terbaru. Perlambatan perekrutan dan penurunan lowongan kerja memperkuat ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan memangkas suku bunga lebih agresif pada 2026.
Komentar Gubernur The Fed, Stephen Miran, yang menyebut kebijakan moneter saat ini terlalu menahan ekonomi, semakin memperkuat spekulasi tersebut. Secara historis, penurunan suku bunga merupakan katalis positif bagi emas dan perak, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga.
Emas Bertahan, Tapi Tak Kebal
Emas memang ikut terkoreksi, turun sekitar 0,9%, namun posisinya relatif lebih stabil dibanding perak dan platinum. Tak mengherankan, mengingat emas baru saja mencatat kinerja tahunan terbaik sejak 1979, didorong oleh pembelian bank sentral dan arus masuk ETF.
Sementara itu, reli perak sepanjang tahun lalu yang melonjak hampir 150% membuat logam ini jauh lebih rentan terhadap koreksi tajam.
Apa Artinya bagi Investor?
Bagi investor, pesan dari pasar saat ini jelas: volatilitas belum berakhir. Pergerakan harga logam mulia ke depan tidak hanya ditentukan oleh fundamental, tetapi juga oleh arus dana indeks, kebijakan perdagangan, dan arah suku bunga global.
Apakah ini awal dari koreksi yang lebih dalam, atau justru peluang akumulasi di tengah kepanikan? Jawabannya akan sangat bergantung pada bagaimana investor membaca perbedaan antara noise jangka pendek dan nilai jangka panjang.






