Saham Nvidia Corporation (NVDA) menunjukkan penguatan pada perdagangan terbaru seiring meningkatnya sentimen positif pasar terhadap prospek permintaan chip kecerdasan buatan (AI) dari China. Penguatan ini mencerminkan harapan investor bahwa Nvidia akan mampu melanjutkan penetrasi pasar besar dunia tersebut setelah periode panjang ketidakpastian regulasi dan perdagangan.
Pada pekan lalu, harga saham Nvidia tercatat naik sekitar 1% pada pembukaan perdagangan setelah kabar kuatnya permintaan dari perusahaan-perusahaan China terhadap chip H200 AI — salah satu unit pemroses kecerdasan buatan Nvidia yang memiliki penggunaan luas pada pusat data — muncul di pasar.
Permintaan China “Sangat Tinggi” Meski Regulasi Tertunda
CEO Nvidia, Jensen Huang, beberapa kali menegaskan bahwa permintaan dari China untuk chip H200 sangat tinggi. Pernyataan itu disampaikan saat konferensi teknologi CES 2026 di Las Vegas, AS, di mana ia menyebut bahwa rantai pasok dan produksi chip sudah “dihidupkan kembali” sebagai persiapan menghadapi kemungkinan pengiriman. Namun, ia juga mengingatkan bahwa persetujuan resmi dari otoritas di China untuk impor masih belum final.
Permintaan ini ditandai oleh puluhan pesanan besar, termasuk yang dilaporkan mencapai lebih dari 2 juta unit H200 dengan harga sekitar USD 27.000 per chip, yang berarti potensi nilai transaksi mencapai puluhan miliar dolar Amerika jika semua pesanan terealisasi.
Namun, meski pesanan telah masuk, regulasi di China masih menjadi hambatan utama. Laporan terbaru menyebut bahwa pemerintah China meminta beberapa perusahaan teknologi domestik untuk sementara menghentikan pemesanan chip H200 sambil mereka memutuskan aturan dan kebijakan yang akan mengatur impor teknologi tersebut. Hal ini menunjukkan masih adanya ketegangan antara keterbukaan pasar dan dorongan kuat Beijing untuk mengembangkan industri semikonduktor dalam negeri.
Strategi Nvidia: Pembayaran Penuh di Muka dan Mitigasi Risiko
Untuk mengantisipasi ketidakpastian tersebut, Nvidia diketahui menerapkan syarat pembayaran penuh di muka bagi pembeli China yang ingin memesan chip H200, tanpa opsi pembatalan atau perubahan pesanan setelah dibayar. Strategi ini dirancang untuk memitigasi risiko bisnis dari potensi pembatalan atau penundaan akibat kebijakan pemerintah yang masih bergulir.
Langkah ini juga mencerminkan sikap hati-hati Nvidia dalam menghadapi kekhawatiran atas ketidakpastian persetujuan resmi dari Beijing. Sebelumnya, Nvidia pernah mengalami kerugian signifikan ketika otoritas AS tiba-tiba memberlakukan larangan ekspor chip H20 ke China, yang mengakibatkan perusahaan harus menurunkan nilai persediaan hingga USD 5,5 miliar.
Dukungan Kebijakan AS dan Dampaknya pada Pasar
Salah satu faktor pendorong optimisme pasar terhadap saham Nvidia adalah perubahan kebijakan dari pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, yang telah membuka kembali jalur ekspor chip AI tertentu ke China, terutama model H200, meskipun dengan syarat pembagian pendapatan sekitar 25% kepada pemerintah AS. Keputusan ini merupakan perubahan besar dari kebijakan sebelumnya yang lebih ketat, dan dipandang oleh investor sebagai “jalan tengah” antara pembatasan teknologi dan peluang pasar global.
Prospek ini tak hanya mempengaruhi Nvidia, tetapi juga memicu respons di pasar semikonduktor global. Analis pasar menyatakan bahwa kemungkinan kembali beroperasinya Nvidia di China berpotensi menjadi katalis positif bagi saham perusahaan pada kuartal pertama tahun 2026, mengingat nilai pasar China yang sangat besar dan pentingnya AI bagi pertumbuhan teknologi masa depan.
Tantangan dan Ketidakpastian Pasar
Namun demikian, ketidakpastian tetap tinggi. Otoritas China masih sangat berhati-hati dalam menentukan aturan impor chip AI asing demi melindungi ambisi kemandirian semikonduktornya. Selain itu, Beijing juga mempertimbangkan persyaratan bagi perusahaan teknologi lokal untuk membeli proporsi tertentu chip buatan dalam negeri sebagai syarat menerima chip impor.
Kelambatan persetujuan ini telah menyebabkan beberapa perusahaan besar China menunda atau membatalkan sementara rencana pemesanan, dan meskipun Beijing diyakini akan memberikan izin terbatas dalam beberapa bulan mendatang, belum ada kepastian kapan dan dalam bentuk apa kesepakatan tersebut akan diumumkan secara resmi.
Kesimpulan: Prospek Tumbuh, Risiko Belum Hilang
Kondisi ini menunjukkan bahwa saham Nvidia dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan perdagangan global yang rumit, bukan sekadar permintaan pasar. Walaupun permintaan dari China menghadirkan harapan bagi pertumbuhan bisnis Nvidia, kebijakan pemerintah, baik di AS maupun China, tetap menjadi faktor kunci yang bisa mempercepat atau justru menahan momentum pertumbuhan tersebut.
Para investor akan terus mengamati langkah regulasi kedua negara, beserta strategi Nvidia dalam menghadapi tantangan tersebut, untuk menentukan apakah penguatan saham yang terjadi belakangan ini merupakan awal dari tren jangka panjang atau sekadar respons sementara terhadap harapan pasar yang masih dibayang-bayangi ketidakpastian.






