Bitcoin (BTC) mencatat kenaikan sekitar 2,66% pada awal pekan, diperdagangkan di kisaran $75.800 setelah Strategy mengumumkan pembelian besar senilai $2,54 miliar. Aksi ini menjadi salah satu akumulasi terbesar yang pernah dilakukan perusahaan tersebut, bahkan setara dengan sekitar 2,5 bulan pasokan Bitcoin baru di pasar. Kabar ini sempat memberikan sentimen positif dan mendorong harga naik dalam jangka pendek.
Namun, di balik kenaikan tersebut, sejumlah indikator menunjukkan bahwa momentum bullish ini berpotensi tidak bertahan lama. Salah satu faktor utama berasal dari kondisi makroekonomi global yang masih belum stabil. Jika aktivitas pembelian Bitcoin oleh Strategy melambat, tekanan terhadap harga BTC bisa kembali muncul.
Pembelian terbaru Strategy sebanyak 34.164 BTC sebagian besar didanai melalui penerbitan saham preferen mereka, yaitu Stretch (STRC). Dalam periode 13 hingga 19 April, instrumen ini berhasil mengumpulkan lebih dari $2,17 miliar melalui penjualan saham di pasar terbuka, mencakup sekitar 86% dari total dana yang digunakan. Sementara itu, penjualan saham biasa (MSTR) menyumbang tambahan sekitar $366 juta.
Menariknya, kemampuan Strategy untuk terus membeli Bitcoin sangat bergantung pada performa STRC. Instrumen ini memungkinkan perusahaan menggalang dana ketika diperdagangkan di atas nilai $100. Namun sejak 15 April, harga STRC tercatat berada di bawah level tersebut. Kondisi ini berpotensi membatasi kemampuan Strategy untuk mengumpulkan dana baru dalam waktu dekat.
Secara historis, jeda dalam pembelian Bitcoin oleh Strategy sering kali beriringan dengan penurunan harga BTC. Bahkan, dalam beberapa kasus sebelumnya, harga Bitcoin rata-rata turun hingga sekitar 30% saat STRC berada di bawah nilai par-nya. Jika pola ini kembali terulang, ada potensi harga BTC terkoreksi lebih dalam dari level saat ini.
Di sisi lain, sentimen pasar global juga turut memberikan tekanan tambahan. Ketidakpastian geopolitik, khususnya terkait hubungan antara Amerika Serikat dan Iran, memicu penurunan indeks saham utama seperti Nasdaq, S&P 500, dan Dow Jones. Jika konflik di Timur Tengah kembali meningkat, aset berisiko seperti Bitcoin bisa ikut terdampak.
Dari sisi teknikal, pergerakan harga Bitcoin saat ini membentuk pola konsolidasi menyerupai “flag”. Pola ini mengindikasikan potensi koreksi menuju area $67.000 hingga $69.000 apabila support gagal dipertahankan. Meski demikian, peluang penurunan lebih dalam masih tertahan oleh indikator moving average jangka pendek, seperti EMA 20 dan EMA 50, yang saat ini berfungsi sebagai support dinamis.
Apabila Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk rebound tetap terbuka. Bahkan, jika berhasil menembus resistance di sekitar $78.000, BTC berpotensi melanjutkan kenaikan menuju area EMA 200 di kisaran $82.750.






