Ethereum (ETH) mulai menunjukkan tanda-tanda melemahnya posisi sebagai aset kripto terbesar kedua di pasar. Hal ini bukan karena Ethereum semakin mendekati Bitcoin (BTC), melainkan karena pertumbuhan pesat sektor stablecoin yang semakin mendominasi.
Dalam beberapa tahun terakhir, Ethereum mengalami pertumbuhan yang relatif tertinggal dibandingkan kompetitornya, terutama stablecoin seperti Tether (USDT) dan USD Coin (USDC). Selama lima tahun terakhir, kapitalisasi pasar ETH hanya meningkat sekitar 11,75% hingga mencapai kisaran US$240 miliar. Sebaliknya, USDT mencatat lonjakan signifikan hingga lebih dari 600%, dengan kapitalisasi pasar yang kini melampaui US$184 miliar. Bahkan aset seperti XRP dan USDC juga menunjukkan performa pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan ETH.
Kondisi ini membuat banyak pelaku pasar mulai mempertanyakan apakah Ethereum masih mampu mempertahankan posisinya di peringkat kedua pada tahun 2026. Beberapa platform prediksi bahkan menunjukkan bahwa mayoritas investor memperkirakan ETH berpotensi tergeser dari posisi tersebut.
Perbedaan utama antara Ethereum dan stablecoin terletak pada cara keduanya bertumbuh. Nilai Ethereum sangat bergantung pada kenaikan harga ETH itu sendiri, yang dalam beberapa waktu terakhir menghadapi tekanan dari berbagai faktor makroekonomi. Ketidakpastian global, seperti kebijakan tarif Amerika Serikat, konflik geopolitik di Timur Tengah, serta ekspektasi penurunan suku bunga yang melemah, turut menekan performa pasar kripto secara keseluruhan.
Dampak dari kondisi ini juga terlihat pada minat institusional. Aset kelolaan (AUM) ETF Ethereum spot di Amerika Serikat mengalami penurunan signifikan, mencerminkan berkurangnya minat investor besar terhadap ETH dalam beberapa bulan terakhir.
Di sisi lain, stablecoin seperti USDT justru berkembang pesat karena sifatnya yang stabil dan terikat dengan nilai dolar AS. Ketika kondisi pasar tidak pasti, investor cenderung memindahkan dana mereka ke aset yang lebih aman dan likuid. Stablecoin menjadi pilihan utama karena memberikan fleksibilitas sekaligus menjaga nilai aset dari volatilitas tinggi.
Saat ini, total kapitalisasi pasar stablecoin telah mencapai sekitar US$310 miliar, meningkat drastis dibandingkan hanya sekitar US$5 miliar pada tahun 2020. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa stablecoin semakin berperan sebagai “parkiran dana” bagi investor yang menunggu momentum masuk ke pasar kripto.
Secara teknikal, Ethereum juga menghadapi tekanan tambahan. Pola pergerakan harga saat ini mengindikasikan potensi penurunan lebih lanjut jika tidak mampu bertahan di level support penting. Beberapa analis bahkan memperkirakan harga ETH berisiko turun hingga kisaran US$1.250 apabila tren pelemahan berlanjut.
Meski demikian, Ethereum tetap menjadi salah satu infrastruktur utama dalam ekosistem kripto. Namun, untuk kembali menguat, dibutuhkan peningkatan minat risiko dari investor serta sentimen pasar yang lebih positif ke depannya.






