Pemerintah China menyatakan bahwa negara tersebut kini menjadi pemimpin global dalam bidang penelitian dan pengembangan (R&D) teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Selain AI, China juga mengklaim memiliki kemajuan signifikan dalam berbagai bidang teknologi strategis lainnya seperti bioteknologi, robotika, dan teknologi kuantum. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk mempercepat pengembangan teknologi domestik guna memperkuat kemandirian teknologi nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam laporan resmi pemerintah yang dipublikasikan pada pembukaan sidang tahunan Kongres Rakyat Nasional (National People’s Congress), lembaga legislatif utama di China. Dalam laporan yang disusun oleh Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional, disebutkan bahwa China telah mencapai kemajuan besar dalam penelitian serta penerapan berbagai teknologi mutakhir, termasuk AI, biomedis, robotika, dan komputasi kuantum. Laporan tersebut juga menyoroti pencapaian baru dalam pengembangan chip yang dilakukan secara mandiri oleh para peneliti China.
Teknologi menjadi fokus utama dalam laporan kerja pemerintah yang dipresentasikan oleh Perdana Menteri Li Qiang. Pemerintah China menyebut sektor teknologi ini sebagai “new quality productive forces,” yaitu kekuatan produktif baru yang diyakini akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di masa depan. Bahkan, teknologi diperkirakan akan menjadi bagian terbesar dari proyek-proyek yang akan dimasukkan dalam rencana pembangunan lima tahun China untuk periode 2026 hingga 2030.
Ambisi China untuk memperkuat kemampuan teknologi domestik tidak terlepas dari persaingan ketat dengan Amerika Serikat dalam sektor teknologi strategis. Persaingan tersebut telah memicu berbagai pembatasan perdagangan antara kedua negara, termasuk kontrol ekspor terhadap chip semikonduktor canggih oleh Amerika Serikat serta pembatasan ekspor mineral penting oleh China. Dalam konteks ini, Beijing berupaya mengurangi ketergantungan terhadap teknologi Barat seperti chip dan pesawat, sekaligus mempercepat pengembangan industri teknologi baru seperti AI.
Pemerintah juga menyoroti berbagai sektor teknologi yang akan menjadi prioritas investasi di masa depan. Beberapa di antaranya termasuk teknologi antarmuka otak-komputer, pengembangan robot humanoid berbasis AI, teknologi kuantum, serta jaringan komunikasi generasi berikutnya seperti 6G. Para analis menilai bahwa Beijing memandang AI dan robotika sebagai alat penting untuk meningkatkan produktivitas di berbagai sektor industri, mulai dari manufaktur dan logistik hingga pendidikan dan layanan kesehatan.
Selain itu, China juga berencana memperluas infrastruktur komputasi berskala besar yang didukung oleh pasokan listrik murah dan melimpah untuk mendukung pengembangan AI. Pemerintah juga akan mendorong pertumbuhan komunitas AI berbasis open-source, yang dianggap sebagai strategi penting untuk memperkuat ekosistem teknologi domestik sekaligus meningkatkan daya saing terhadap perusahaan teknologi Amerika Serikat.
Langkah lain yang juga didorong oleh pemerintah adalah mendorong perusahaan milik negara untuk meningkatkan penggunaan teknologi buatan dalam negeri seperti chip, bioteknologi, dan drone. Kebijakan ini menunjukkan perubahan fokus dari sekadar pengembangan teknologi menuju komersialisasi teknologi, dengan tujuan menjadikan inovasi teknologi sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru bagi China di masa depan.






