Harga minyak dunia kembali melanjutkan kenaikan tajam seiring meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah serta terganggunya jalur perdagangan energi global. Para pelaku pasar juga tengah mencermati rencana Amerika Serikat untuk memberikan perlindungan asuransi dan kemungkinan pengawalan militer terhadap kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz, jalur penting perdagangan energi dunia yang kini hampir berhenti beroperasi.
Harga minyak Brent sempat mendekati level US$84 per barel setelah mencatat kenaikan sekitar 12% dalam dua hari terakhir, yang menjadi lonjakan terbesar sejak tahun 2020. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$77 per barel. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pemerintah akan menawarkan jaminan asuransi bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz melalui lembaga pembiayaan pembangunan internasional AS. Selain itu, kapal tanker juga dapat memperoleh pengawalan militer angkatan laut jika diperlukan guna memastikan kelancaran distribusi energi dan perdagangan global.
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya gangguan produksi minyak di kawasan Timur Tengah. Irak, produsen minyak terbesar kedua di OPEC, dilaporkan mulai menutup sejumlah ladang minyak utama, termasuk Rumaila dan proyek West Qurna 2. Jika penghentian ini berlangsung penuh, sebagian besar produksi minyak negara tersebut dapat terhenti.
Di Arab Saudi, fasilitas penyimpanan minyak juga dilaporkan mulai penuh dengan cepat karena gangguan distribusi. Situasi ini memperkuat kekhawatiran pasar bahwa pasokan minyak global dapat mengalami tekanan signifikan dalam waktu dekat.
Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu konflik militer yang meluas di kawasan tersebut. Serangan udara dan balasan militer telah mengganggu aktivitas perdagangan, memaksa sejumlah produsen menghentikan produksi, serta menyebabkan penutupan fasilitas kilang minyak dan terminal ekspor gas. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya krisis energi global jika konflik berlarut-larut.
Namun demikian, rencana pengawalan militer terhadap kapal tanker juga menghadapi tantangan besar. Sejumlah analis memperingatkan bahwa kapal pengawal justru dapat menjadi target serangan Iran. Karena itu, Amerika Serikat kemungkinan akan menunggu hingga ancaman militer Iran dianggap melemah sebelum benar-benar melakukan pengawalan.
Di sisi lain, bank investasi Goldman Sachs menaikkan proyeksi rata-rata harga minyak Brent untuk kuartal kedua sebesar US$10 menjadi sekitar US$76 per barel. Para analis memperkirakan bahwa terbatasnya arus minyak melalui Selat Hormuz dapat menyebabkan penurunan besar pada cadangan minyak negara-negara OECD serta produksi minyak di Timur Tengah.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia melewati jalur ini, sehingga gangguan di wilayah tersebut dapat langsung memicu gejolak pasar energi global.
Sejak konflik meletus beberapa hari lalu, banyak kapal tanker menghindari jalur tersebut karena meningkatnya risiko keamanan, termasuk ancaman rudal dan drone. Iran bahkan dilaporkan telah menyerang lebih dari sepuluh kapal tanker yang melintas di wilayah tersebut.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi negara-negara pengimpor energi, terutama di Asia yang sangat bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah. Beberapa negara memang memiliki cadangan energi strategis untuk meredam gangguan jangka pendek, namun konflik berkepanjangan berpotensi menguras cadangan tersebut dengan cepat.
Badan Energi Internasional (IEA) juga telah mengadakan pertemuan darurat untuk membahas kondisi pasar energi global. Lembaga tersebut menyatakan bahwa negara-negara anggotanya saat ini memiliki lebih dari satu miliar barel cadangan minyak darurat yang dapat digunakan jika pasokan global terganggu secara signifikan.
Meski demikian, para analis menilai bahwa volatilitas harga minyak kemungkinan akan terus berlanjut hingga ada kepastian bahwa lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali normal dan risiko geopolitik mulai mereda.






