Saham Tesla, Inc. (NASDAQ: TSLA) kembali menjadi sorotan Wall Street setelah analis Benchmark menyebut 2026 sebagai “investment year” bagi perusahaan tersebut. Dalam laporan terbarunya pada 11 Februari, analis Mickey Legg menegaskan kembali rekomendasi Buy untuk saham Tesla dengan target harga $475, mencerminkan keyakinan terhadap nilai jangka panjang perusahaan meski laba jangka pendek berpotensi tertekan akibat peningkatan belanja.
Menurut Benchmark, Tesla memasuki 2026 dengan perubahan strategi yang cukup signifikan. Perusahaan tidak lagi berfokus semata pada optimalisasi laba jangka pendek, melainkan memprioritaskan reinvestasi agresif dan pengembangan platform. Langkah ini menandai transformasi Tesla dari sekadar produsen kendaraan listrik menjadi perusahaan berbasis physical AI, perangkat lunak, dan platform armada terintegrasi.
Meski berada dalam fase transisi strategis, kinerja kuartal keempat Tesla menunjukkan ketahanan yang relatif kuat. Margin perusahaan dinilai tetap resilien, pertumbuhan bisnis energi berlanjut, dan arus kas tetap terjaga. Hal ini menjadi dasar bagi Benchmark untuk mempertahankan kerangka valuasi saham di tengah percepatan belanja perusahaan.
Analis menilai bahwa prospek 2026 mencerminkan tahun investasi dengan peningkatan pengeluaran signifikan pada sektor otonomi kendaraan, kecerdasan buatan, robotika, serta infrastruktur energi. Tesla selama ini dikenal mengintegrasikan AI dalam teknologi autonomous driving serta mengembangkan inisiatif robotika yang berpotensi membuka sumber pendapatan baru di luar otomotif. Selain itu, segmen energi bersih perusahaan juga terus menunjukkan pertumbuhan seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap solusi penyimpanan dan distribusi energi.
Benchmark menambahkan bahwa potensi kenaikan saham dalam jangka pendek kemungkinan lebih dipengaruhi oleh faktor teknikal dan sentimen pasar, bukan semata-mata oleh lonjakan laba. Dengan kata lain, narasi transformasi Tesla menjadi perusahaan AI fisik dan platform berbasis armada menjadi kunci utama dalam pembentukan valuasi jangka panjang.
Di tengah persaingan ketat industri kendaraan listrik global dan tekanan makroekonomi, langkah Tesla untuk meningkatkan belanja investasi dapat dipandang sebagai strategi defensif sekaligus ofensif. Di satu sisi, peningkatan pengeluaran berisiko menekan margin dalam jangka pendek. Namun, di sisi lain, langkah ini dapat memperkuat posisi kompetitif Tesla dalam teknologi otonom dan AI, dua sektor yang diproyeksikan menjadi tulang punggung pertumbuhan industri otomotif dan teknologi masa depan.
Seiring dengan meningkatnya perhatian terhadap saham berbasis AI, Tesla tetap berada di radar utama investor institusional. Perusahaan ini tidak hanya mengandalkan penjualan kendaraan listrik, tetapi juga membangun ekosistem berbasis perangkat lunak, robotika, dan energi yang saling terintegrasi. Transformasi tersebut menjadi faktor penentu dalam menilai apakah valuasi premium Tesla dapat terus dipertahankan.
Dengan target harga $475 yang dipertahankan, Wall Street tampaknya masih memberikan ruang bagi optimisme terhadap saham TSLA. Namun, keberhasilan strategi “investment year” ini akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan mengonversi belanja besar menjadi pertumbuhan berkelanjutan dan ekspansi margin di masa depan. Bagi investor, 2026 bukan sekadar tahun transisi, melainkan periode krusial yang dapat menentukan arah jangka panjang Tesla di tengah revolusi AI dan energi bersih global.






